Yueyue: (dan) Dilema Moralitas bagi Kita

Standard

#Berawal dari kisah Yue Yue, seorang balita berumur 2 tahun yang akhirnya meregang nyawa karena kecelakaan di daerah Foshan, Guangzhou, China. Konon, di Guangzhou sendiri hal seperti ini bukan pertama kali terjadi. Menurut sumber yang aku baca di kaskus (silakan cari linknya sendiri), katanya, sebelumnya pernah ada peristiwa seorang nenek jatuh dari kendaraan kemudian ditolong oleh seorang pria. Naasnya, pria yang berniat baik ini justru difitnah sama si nenek bahwa dia yang mendorong dan menyebabkan nenek itu jatuh. Akhirnya, si pria justru harus membayar ganti rugi.

Naas bagi Yue Yue dan si pria, tapi tidak bagi Chen Xianmei, pemulung yang akhirnya menolong Yue Yue setelah 18 orang meninggalkannya begitu saja setelah melihat Yue Yue terkapar. Pemerintah China akhirnya memberikan imbalan 25.000 Yuan (US $ 3.917) kepadanya karena keberaniannya dalam menolong Yue Yue, walaupun akhirnya Yue Yue tidak berhasil diselamatkan.

Tulisan ini tidak akan berbicara tentang bagaimana imbalan bagi seorang yang membantu orang lain dengan tulus. Tidak dengan bahasa “memberilah, maka Tuhan akan membalas dengan jalan yang tak terduga”, namun lebih pada pemikiran Dalai Lama “Ketika kamu melakukan kebaikan, tidak ada balasan yang lebih baik dari kebahagiaan yang kamu temukan pada dirimu sendiri.

#Kisah Chen Xianmei ini mengingatkan kita pada reality show yang pasti sudah banyak kita ketahui, “Tolong” atau “Minta tolong”. Entah acara itu rekaan atau bukan, yang jelas di situ tergambar bagaimana tidak semua orang bisa, mau, dan mampu membantu.

Ketika bercengkerama dengan teman via YM dan mendiskusikan singkat tentang kasus Yue Yue, sang teman berceletuk “Dunia emang aneh sih. Kadang, ketika liat orang jalan sendirian malem-malem, kita boncengin dengan niat mau bantu, eh malah kita ditodong dan dirampok.”

#Hm, ini yang saya bilang kegalauan atau dilema moral. Saya sendiri pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Ketika itu saya pulang dari Masjid Kampus UGM bersama teman saya, hendak mampir ke Pameran Buku FE UGM. Kami berjalan kaki berdua. Sesampai di dekat Bundaran Lembah, seorang nenek menghentikan langkah kami dan tiba-tiba menangis *keluar air mata*. Dia bercerita panjang lebar tentang cucunya yang sakit, lalu dia tidak bisa pulang, dan sebagainya.

Sebagai manusia biasa, melihat nenek-nenek yang sudah tua menangis seperti itu tentu saja kami trenyuh. Sayang lagi bokek-bokeknya, uang di dompet saya tinggal cukup buat naik angkot pulang, sedang uang teman saya tinggal cukup untuk dua hari sampai ada kiriman. Sekitar 15.000.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, teman saya itu mengulurkan uang terakhirnya kepada sang nenek dan nenek pun pergi dengan bus.

Beberapa hari kemudian saya temui teman saya itu untuk menanyakan kondisinya *berhubung uang terakhirnya sudah tidak ada*. Pulang dari kampus, saya naik angkot dan… wow melihat nenek-nenek yang saya temui beberapa hari yang lalu. Saya duduk tepat di seberang nenek itu. Saya diam saja, sambil bertanya-tanya dalam hati. Apakah nenek ini masih ingat saya? Kenapa nenek ini masih di Jogja, sedangkan beberapa hari lalu dia menangis karena ingin pulang ke ‘propinsi sebelah’.

Pertanyaan saya terjawab ketika nenek itu kemudian memegang tangan saya dan seperti sebelumnya, mengiba hamper menangis dan menceritakan drama karangannya pada saya. Pada detik yang sama ketika sentuhannya masih di tangan saya, saya merasa trenyuh sekaligus marah. Trenyuh, karena mempertanyakan untuk apa nenek itu melakukannya? Ada apa gerangan di balik semuanya *sambil terbayang wajah nenek saya*? Bagaimana cerita di balik tindakan jahat nenek itu? Sekaligus naik pitam karena melihat aktingnya.

Tapi akhirnya saya kuasai diri dan bilang, “Mbah, maaf yah, simbah yang di FE UGM kemarin kan?”

Keliatan banget kalo muka nenek itu berubah *kaget*, tapi nampaknya untuk menutupi klo dia sudah ketahuan, dia malah menodong saya “Nak nggak mau minjemi uang ke saya?”

“Bukan nggak mau Mbah, Mbah yang kemarin di FE UGM kan? Kita kemarin ketemu.”

Akhirnya di situlah jelas kalo si nenek ternyata tukang tipu yang tiap hari mengobral cerita. Sopir angkot yang tau cerita itu bilang, “Udah mbak biarin aja, saya udah apal sama dia, dia tu tiap hari naik angkot ini kok.” Si nenek pun dengan marah *pada supir angkot* akhirnya turun.

Dongkol, apalagi kalau ingat demi membantu nenek itu teman saya memberikan uang terakhirnya.

Setelah itu, beberapa kali saya menemui modus semacam..bahkan pernah di masjid. Hfhh…Selalu ada rasa tidak enak walau kita melakukan hal yang benar. Selalu ada pertanyaan, apakah orang tadi benar-benar penipu atau memang membutuhkan bantuan. What the hell!

#Dilema seperti ini juga sering sekali terjadi ketika berhenti di perempatan lampu merah. Pernah ketika pulang KKN, ada seorang anak kecil *anak jalanan* mendekati motor saya dan bilang “Mbak, ikut mbak, bonceng yah sampai lampu merah sana.” Awalnya saya takut, tapi toh ini anak kecil. Jalan ramai. Kalau macam-macam aku tinggal ketok kepalanya atau teriak. Akhirnya aku bilang “Ya udah ayo naik.”

Bujubuseettt! Dia malah bikin pengumuman, “Hey aku dapat boncengan hoi.” Akhirnya beberapa anak mendekat dan seorang anak seumuran SMP ikut naik ke motorku.

Aku: Eh kamu ngapain?

Anak SMP: Alah mbak, aku ikut yah, bonceng sampe depan.

Aku: *dalam hati* gila, kalau diapa-apain sama dia gak bisa apa-apa juga aku.

Aku: Nggak-nggak. Kan tadi aku mau bonceng dia *anak kecil* aja.

Anak kecil: Gapapa mbak, ini temenku.

Aku: Nggak, kalau dia ikut kamu turun aja. Aku mau pulang ntar keburu Isya’.

Akhirnya aku menang juga, si Anak kecil ikut dan yang besar cari tumpangan lain. Di jalan aku ajak ngobrol anak itu. Lagi-lagi dongkol, menurut ceritanya, dia dibawa dari ‘pulau lain’ oleh orang tuanya. Orang tua (kandung) nya itu di rumah, tidak bekerja, dan dia sendiri harus ngamen di jalan dengan teman-temannya. Dia tidak boleh pulang sebelum mendapatkan 20.000. Hari itu sudah lewat Maghrib, dan anak itu menunggu untuk dapat 10.000. Dan saya membayangkan… rombongan anak-anak itu, semuanya seperti dia. Gilaaaaaaaaaaa sudah!!!! What the hell is the world!!!

#Cerita selanjutnya, kemarin saya melihat kecelakaan di dekat pintu masuk Komplek Angkasa Pura. Tabrakan antara mobil dengan motor. Selintas saya lihat motor baik-baik saja dan orangnya juga tidak terlalu parah. Orang-orang sudah berkerumun. Saya sempat dilemma *dengan kadar sangat sedikit* lalu akhirnya melanjutkan perjalanan ketika melihat semakin banyak orang berkerumun. Waktu itu saya sedang ada janji dengan seorang teman.

Saya bertanya dalam hati, kalau saya berhenti, apa yang saya ingini dari gerakan saya itu?

  1. Apakah saya ingin menolong?
  2. Apakah saya ingin bersimpati?
  3. Apakah saya ingin melihat/menonton untuk mematahkan bahwa saya orang yang tidak peduli?
  4. Apakah saya ingin melihat dan bertanya-tanya agar saya bisa bercerita nanti?

Jujur dari beberapa kali melihat kecelakaan jatuh, hanya setengahnya mungkin yang benar-benar terjawab dengan nomor satu dan diikuti gerakan untuk membantu. Selebihnya terkadang saya *dan kadang bersama teman saya* berhenti hanya untuk alasan 2,3,4..dan akhirnya hanya berdiri melihat. Karenanya hari itu saya melanjutkan perjalanan setelah melihat banyak orang sudah berdatangan. If I were there, jawabannya hanya nomor 4. *miris*

Bagaimana dengan Anda? Apakah pernah terlintas hal yang sama? Hanya hati kecil kita yang tau.

#Hm, dilema semacam ini akan terus terjadi. Bagi saya sekarang, ketika memang kita mau melakukan atau memberikan sesuatu, jangan biarkan dilema datang. Berikan kalau mau memberi, simpan kalau tidak. Tidak perlu membiarkan otak bekerja untuk mempertanyakan alasan. Tentu dengan selalu mengingat ucapan Dalai Lama, dan senandung Soe Hok Gie “Kita tak pernah menanamkan apa-apa. Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa.”

 

*Obat gelisah

Yogyakarta, 25 Oktober 2011 jam 01:45

Advertisements

My New Hamster: Alby and Dovy

Standard

Huhui,,selamat datang untuk keluarga baruku, Alby sama Dovy. Alby ma Dovy ini dua hamster kecil yang baru aku beli dari pasar malem tadi malam. Hahaha lucu juga sih. Kemarin @ikanz91 ngajak ketemuan, yah biasalah bawaan duo jomblowers klo malem minggu, …

Sebenernya sih mau ngobrolin ‘dagangan’. Nah abis ngobrolin dagangan..berhubung udah lama gak jalan-jalan juga…tiba2 pengin makan coklat anget yang meleleh-leleh. Tapi jujur aja males perginya.

Tadi malem pas ada even Jogja Java Carnival juga. Mau pergi kesana…tapi udah terlanjur malem dan kebayang deh ramenya. Yaudah akhirnya kita berdua mutusin buat makan jagung bakar n pisang coklat keju di depan GOR UNY. Abis itu… @ikanz91 ngajakin ke pasar malem. Kwkwkw..

Aku: Ada apa di pasar malem?

Ikanz91: ada makanan

Aku: Hah? Makanan apa?

Ikanz91: Yo macem2 lah

Eh kan di pasar malem ada sate gajih *baru nyoba sekali. Pengin lagi ah..haha. Suka aja ama rasanya yang kenyal-kenyal manis 😀 Tapi better buat makan 1-2 tusuk aja. Klo kebanyakan eneg…dan kayanya yang namanya lemak tetep aja gak sehat sih 😀

Akhirnya pergilah dua orang dara ini pasar malem. Jalan-jalan..dapet sate gajih. Abis itu pas mau pulang…ehhh ada hewan imut2 menggoda.

Awalnya sih gak pengin. Soalnya aku gak terlalu telaten buat ngurusin hewan. Takut mati. Tapi bener deh, lucu banget. Lagian kayanya challenging gtu kalo aku bisa mempertahankan hidup makhluk lucu dan imut itu. Akhirnya aku beli dua hamster Campbell berumur  1 bulan, masih kecil banget. Sampai di rumah…hunting-hunting info tentang cara melihara hamster. Okehhhh saya siap! Bismillah… ^_^

#kisah satu

Hamsterku namanya Alby Campbell dan Dovy Campbell. Bingung sih milih nama. Jadi namanya aku ambil dari spesies genetiknya aja. Si Alby itu jenis hamster Campbell dengan warna putih polos bermata merah alias albino. Nah si Dovy warnanya coklat n matanya merah, jenisnya Dove.

#kisah dua

Awalnya aku mau melihara satu aja, yang cowok. Kan cuma buat kepuasan aja ngeliatin hewan lucu. Tapi kepikir euy..klo cuma satu aku sih seneng, tapi hewannya kesepian kali yah. Ya udah beli dua. Penginnya sih biar gak beranak, aku beli cowok aja. Tapi kok pengin juga klo hewanku bisa berinteraksi dan membina keluarga sakinah mawadah warohmah (haha..lebay). Akhirnya belinya cewek cowok. Si Alby cowoknya, si Dovy ceweknya.

Abis itu aku buka-buka website. Gubrakkkk! Katanya umur hamster bisa sekitar  4tahun. Dan selama itu dia bisa melahirkan 6 kali. Sekali melahirkan antara 3-15. Hadooohhh bisa jadi peternak dong akuuhhh L

Tips: So, kalo kamu mau melihara hamster, pikirkan bener deh mau ternak apa kagak, hahaha

#kisah tiga

Tadi malem aku pikir tuh hamster bakalan tidur nyenyak. Ya ampyuunnn malah mainan muter2 aja di kincir n bersuara ribut. Terutama si Dovy tuh, ampe mikir..kasihan tuh kalo kecapekan gimana. Sambil chat ama Mas Eka Tandabaca soal si hamster, sambil nahan ngakak ngeliat tingkahnya Dovy. Perasaan muternya lebih kenceng dari gerakan kakinya…hahaha

Nah, tengah malam..Si Alby mulai bangun. Aihhh mak! Beringas amat.. si Dovy dikejar2 mulu diajak kawin. Ampe takut klo si Dovy mati, hukhuk… Aduh, tulung…kan hewan gak bisa KB. Jangan cepet2 punya anak…aku lagi belajar melihara kalian hoi!!

>> ni aku bingung, katanya hamster bisa mulai berkembang biak umur 4 bulan. Ini baru 1 bulan kok udah beringas gitu, bisa hamil gak yah? Huuu…–“

Oyah, ni hamster berdua beneran deh malemnya ribut bener. Aku udah matiin lampu, udah tidur..kebangun gara-gara mereka masih main puteran. Semalaman kayanya..  — “

#kisah empat

Ternyata bener kata Mas Eka, ni hamster sejenis spesies nokturnal. Doyan melek malem. Siangnya mereka tiduuuurrr aja, padahal pengin liat mereka sibuk muter kaya semalem. Tapi it’s ok lahhh..

Tapi, takutnya ni malah jangan2 mereka diem aja krn kurang maem. Haduh…

Ya udah aku kasih mereka kwaci… eh nyak…langsung habis! Aduh gila..hamsternya beneran kelaperan. Akhirnya aku lari ke kebun buat ambil bayam *abis di dapur ga ada sayur*. Kaya kata penjualnya, tuh bayam aku basahin air trus aku kasihin..hm..di maem sih tapi dikit. Ni abis kandang dibersihin aku kasih beras deh. Sabar yang saying, mamah belum ke pasar beli wortel –“

#kisah lima

Ada beberapa hal yang aku masih bingung ni. 1. Apakah hamster perlu divaksinasi? Kata temenku n penjualnya sih, gak perlu soalnya dia tuh kuat. Beda ama kucing. Tapi kata yang lain, perlu…hmm..

2. Apakah makan banyak bisa bikin dia mati? Kata penjualnya sih nggak. Jangan khawatir.. hm..binun euy. Soalnya si Dovy tadi malem makan banyak banget ampe pipinya gembung *lucu banget*.

Nah yang nyebelin, ini aku barusan bersihin kandang n kasih makan Alby ama Dovy. Ya ampuuuunnn baru juga diangkat, di pindah ke kotak. Si Alby buang e-ok banyak banget hwhhh… baru dibersihin udah buang air lagi. Aiihh…pantesan tadi pagi rada bau. Awas klo makan banyak tapi gak endut yah!

Gara-gara mikir banyak e-ok sama baunya tadi, jadi kepikir buat beliin sabun *yang bentuknya kaya butiran-butiran pasir putih itu nah*. Paling gak suka klo hewan peliharaan bau euy! Hmm…sabar yah Alby n Dovy…

*sekian kisah dua hamster baru saya. Begitulah secuplik kisah mereka yang gak jelas gitu, hahaha…sekarang Alby sama Doby lagi aku angin-anginin di luar biar semangat muter-muter lagi 😀

*Yogyakarta, 23 Oktober 2011 jam 16:00

Salah Kaprah dalam Penggunaan Kata Jawa dan Yogyakarta

Standard

Beberapa tahun lalu, ketika Bapak saya pulang dari Jakarta, dia bercerita.. Ketika sampai di depan pintu rumah, keponakannya berteriak, “Hore, Paman dari Jawa datang!”

Kwkwkw… kami tertawa ketika itu 😛

Di kesempatan yang lain, ketika SMK, guru saya yang Sunda pernah berkelakar “Kalau kamu ke Jakarta atau Bandung..orang sana itu nggak mau dibilang Jawa.”

“Iya bu? Kenapa?” tanya kami serius.

“Ya karena memang begitu. Kalau nggak percaya kamu pergi saja ke sana, nanti kamu dibilang orang Jawa ya?”

Hm…bingung, kan memang orang Jawa 😛 Umm, ternyata begini salah pahamnya.

Eh tapi tunggu dulu ya, tulisan ini tidak bermaksud rasial sama sekali karena saya bukan seorang yang rasis (amin..). Hanya sebuah kelakar sederhana untuk meluruskan kesalahpahaman atau kesalahkaprahan yang sering terjadi.

1.  Jawa

Di daerah yang mayoritas dihuni oleh suku Sunda dan Betawi (bukan Jawa), kata “Jawa” mungkin biasa diartikan “daerah yang dihuni oleh mayoritas suku Jawa.

Jadi ketika orang Bandung bertanya, “Kamu orang Jawa ya?” mungkin maksudnya menanyakan daerah Anda, yang biasanya akan dilanjut “Jawanya mana?”

Tapi ketika Anda datang ke daerah Yogyakarta, Jawa Tengah, atau JAwa Timur, pertanyaan “Jawanya mana?” akan menjadi sangat aneh di telinga.

Ketika orang dari suku Jawa ditanya oleh orang Sunda atau Betawi, “Kamu orang Jawa ya?”, yang ada dipikirannya adalah “Kamu orang suku Jawa ya?”  Begitu juga ketika sesama orang Jawa bertemu, maka yang disebut “wong Jowo” adalah suku dengan segala kebudayaan dan serba-serbinya.

Lalu bagaimana seseorang berbincang tentang daerah di Jawa? Mereka akan tetap menyebut “wilayahnya” seperti Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, dan sebagainya.

Bagaimana kalau seseorang mengatakan akan pergi ke Jawa Timur? Mereka akan menyebut langsung tempatnya secara normal, misal Surabaya, Malang, Kediri, Mojokerto, dan sebagainya.

Jadi, pertanyaan yang lebih berterima biasanya yang bersifat umum, “Kamu darimana?”

Lalu akan dijawab, “Saya dari (Jogja/Malang/Kediri, dsb.)”

Baru kemudian, “Oh jadi kamu (suku) Jawa ya?”

Dan akan dijawab, “Iya. Jowo asli! Kamu teh Sunda asli?”

Sunda: Iya, saya teh asli bikinan Sunda

Jawa: Oh, dari Bandung atau mana?

Sunda: Saya teh dari Sukabumi.

Dan perbincangan akan berlangsung dengan lebih normal… 😛

So, ketika Anda pergi ke Bandung atau Jakarta, jangan kaget ketika berkali-kali Anda dibilang orang Jawa (bukan orang Jogja, hahaha)…mereka pastinya tidka bermaksud rasis dan ingin membedakan Anda dengan mereka. Dan ketika Anda di Jogja, sebaiknya jangan menggunakan kata “orang Jawa” karena Anda akan dianggap rasis dan mungkin akan mendapat jawaban nyolot semacam, “Emangnya situ tinggal di Sumatra??” hehehe..

Rasionalisasinya begini:

Jawa sebagai daerah adalah sebuah pulau yang dihuni oleh berbagai etnis/suku.  Jadi, suku Jawa, Sunda, Betawi, Tengger, dll adalah suku-suku yang sama-sama tinggal, mendiami, dan mewarnai kehidupan di Pulau Jawa. Suku Jawa, hanya sebagian kecil dari suku-suku yang ada di Pulau Jawa. Jadi pulau ini adalah milik kita bersama, kwkwkw… 😛

2. Jogya atau Yogja?

Cerita sangat menggelikan ini terjadi sekitar 1,5 tahun yang lalu di daerah Malioboro dekat Benteng Vredeburg. Waktu itu saya dan teman saya sedang menunggu arak-arakan Karnaval dari sanggar tari Didik Nini Thowok. Kebetulan teman saya ikut dalam arak-arakan itu.

Sambil menunggu, kami asik jalan-jalan dan mengambil foto, hingga ada sebuah bus berisi rombongan anak SMP turun dengan seragam darmawisata. Namanya juga ababil alias ABG Labil, gayanya udah sok gaya, sok keren, sok gahooool lah pokoknya mah!

Di dekat situ, duduk-duduk lah orang jualan rokok (pengasong) yang mukanya udah ndeso, buluk, tampangnya nggak gahol juga.. Mendadak saya tertarik kenapa tiba-tiba Mas-mas itu kaya heboh. Saya pikir apa karena ngeliat cewek-cewek bening yang masih ABG-ABG itu? Tapi saya mendadak ketawa terbahak-bahak bareng temen saya..ketika mendengar mas-mas itu dengan logat super medhoknya bilang:

“Yak yak..mari mbak..selamat datang di kota yog…Jaaaaaaa” dengan penekanan pada kata “Ja” sambil tertawa terbahak-bahak. Ternyata di balik wajah manis, dandanan gahol, dan gaya selangitnya itu, kaos darmawisatanya bertuliskan “Rombongan Wisata SMP XXX tanggal XXX di Yogja”

Kontan aja..anak-anak ABG yang awalnya Ge-er dikira digodain itu jadi bingung sendiri…Wakakakaka

Okeh, langsung sajah pemirsah. Untuk yang satu ini, penulisan yang tepatnya adalah…

a. Nama provinsi: Daerah Istimewa Yogyakarta

Yogyakarta sendiri adalah nama kotamadya di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.  Walaupun begitu, kalau Anda malas menulis nama provinsi panjang-panjang dan Anda menulis Yogyakarta biasanya orang akan mengerti.

b. Penulisan aku untuk daerah ini adalah: YOGYAKARTA

Jdi kalau Anda menulis surat atau apapun yang membutuhkan penulisan baku, tulislah dengan huruf Y.

c. Penulisan JOGJAKARTA adalah versi tidak baku yang sangat diterima. Untuk beberapa keperluan seperti promo wisata, Anda akan sering menemui tulisan “Visit Jogja”. Penulisan dan pengucapan Jogja akan diterima.

d. Yang tidak berterima atau aneh: Yogja, Jogya.

Tulisan ini terkesan seperti tulisan bingung. Bingung nulisnya mau Yogya atau Jogja, akhirnya ditulis Jogya,,,hahahaha

Sekian kelakar singkat saya, semoga bermanfaat

* I love peace, plurality, and harmony ^_^

*Yogyakarta, 22 Oktober 2011 jam 14:14

Paper part: Dolanan Anak Yogyakarta

Standard

(parts of my paper with Desty Endah Normalasari and Rafidhah Othman Munawaroh)

Terdapat berbagai jenis dolanan anak yang berkembang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan pengamatan, jenis dolanan-dolanan ini umumnya berkembang di hampir semua kabupaten dan kotamadya. Walaupun begitu, ada pula jenis permainan tertentu yang hanya terdapat di satu atau dua daerah walaupun jumlahnya sedikit. Ada pula jenis permainan tertentu yang ada di beberapa daerah, namun dikenal dengan nama atau istilah yang berbeda. Adapun jenis-jenis permainan yang berkembang di Yogyakarta antara lain:

1.Gobag Sodor. Gobag sodor merupakan jenis permainan yang dapat dilakukan oleh minimal enam orang, satu orang bermain berperan penjaga dan yang lain sebagai pelaku. Namun, Gobag Sodor biasa dimainkan oleh empat orang atau lebih dengan komposisi pemain masing-masing sama ditiap kelompok. Permainan ini diawali dengan membuat kerangka berupa garis-garis di tanah berbentuk kotak besar yang dibagi menjadi empat atau enam kotak yang lebih kecil (Gambar 1).

Tahap 2, dilakukan suit (Jawa: pingsut) untuk menentukan pihak menang (kelompok A) dan pihak kalah (kelompok B). Pihak menang bersiap memasuki area dalam dan pihak kalah berjaga di garis-garis jaga. Tugas penjaga (kalah) adalah menangkap anggota kelompok A yang masih berada di luar maupun di dalam area dalam dengan cara menyentuh anggota badan mereka. Pemain yang telah tertangkap tidak boleh bermain lagi. Kelompok dianggap menang apabila berhasil melewati/menerobos semua penjaga tanpa tersentuh, mulai dari bagian luar depan, memasuki ketiga baris area dalam hingga ke bagian luar belakang, kemudian kembali lagi melewati ketiga baris area dalam hingga kembali mencapai bagian luar depan. Permainan ini umumnya berkembang dan dikenal dengan nama yang sama di semua daerah di Yogyakarta. Masyarakat biasa menyebut permainan ini secara singkat, yaitu bag sodor.

Dalam permainan ini, anak-anak melakukan berbagai gerakan tubuh yang meningkatkan kemampuan psikomotorik mereka seperti berlari, meraih/menggapai (untuk menangkap lawan), menghindar (menunduk, menepi dari garis, dan sebagainya), melompat, meniti garis jaga, dan sebagainya. Dalam permainan ini, anak juga diajak untuk memahami strategi dan trik untuk menerobos penjagaan atau menangkap lawan. Anak juga dituntut untuk memahami area dalam yang tidak boleh dilanggar oleh pemain. Apabila seorang pemain keluar atau menginjak garis penjagaan, maka pemain tersebut dinyatakan keluar. Selain itu, bermain Gobak Sodor memberikan nilai-nilai positif terhadap sikap anak. Dalam permainan ini, anak akan belajar bersikap jujur (mengakui apabila telah melakukan kesalahan seperti menginjak garis atau tersentuh lawan), bekerjasama dan berkoordinasi baik dalam menembus penjagaan maupun melakukan penjagaan, mengekspresikan kemenangan dan kekalahan, serta memberikan dukungan kepada orang lain.

2.Cublak-cublak Suweng. Cublak-cublak Suweng merupakan dolanan anak yang sangat terkenal dalam masyarakat suku Jawa. Terdapat sebuah lagu yang digunakan dalam permainan ini, yaitu lagu Cublak-cublak Suweng. Adapun syair lagu tersebut adalah sebagai berikut:

Cublak-cublak suweng/suwenge teng gelenter/mambu ketundhung gudel/Pak Empong lera-lere/sapa ngguyu ndhelikake/sir sir pong dhele kopong/sir sir pong dhele kopong…//

Cublak-cublak suweng dilakukan oleh beberapa orang, yang berkisar antara 5-7 orang. Permainan ini bisa dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Nama cublak-cublak suweng itu sendiri dimungkinkan berasal dari kegiatan yang dilakukan dalam permainan ini, yaitu dengan mencublek-cublek (menonjok-nonjok) suweng (giwang) yang terbuat dari tanduk atau uwer. Pada perkembangan selanjutnya, anak-anak menggunakan bahan-bahan sederhana semacam uang koin, batu kecil, atau alat lain yang dapat disembunyikan dalam genggaman tangan.

Permainan ini dimulai dengan hompimpa untuk menentukan anak dadi. Anak yang dadi duduk timpuh dan telungkup dan pemain lain duduk mengelilinginya. Salah satu anak secara sukarela atau dipilih menjadi embok. Tiap pemain meletakkan kedua belah tangannya di atas punggung dadi. Kemudian, embok mencublek-cublek uwer menyentuh tangan tiap pemain sambil semua pemain menyanyikan lagu Cublak-cublak Suweng. Pada saat tiba pada syair sir sir pong dhele kopong, semua anak mengepalkan tangannya dan melakukan gerakan seperti mengiris dengan kedua telunjuknya. Salah satu anak memegang uwer dan menyembunyikannya dalam genggaman. Tugas dadi selanjutnya adalah menemukan pemain yang menyembunyikan uwer.

3.Jamuran. Jamuran merupakan permainan individu yang dilakukan secara berkelompok dan dilakukan lebih dar 3 orang. Pertama-tama para pemain melakukan suit atau ho-pim-pah untuk menentukan siapa yang jaga. Pemain jaga kemudian berdiri ditengah dan sisanya berdiri disekeliling pemain jaga dan saling merentangkan tangan membentuk lingkaran. Kemudian para pemain bukan jaga, berjalan mengelilingi pemain jaga sambil menyanyian lagu jamuran yang kemudian di akhir lagu, pemain jaga harus menyebutkan jenis jamur dimana setiap pemain harus berperan atau menirukan jamur tersebut. Pemain yang gagal menjadi jamur yang dimaksud dengan sempurna, maka giliran dialah yang jaga.

Syair: jamuran yo ge gethok/ jamur gajih mbejijih sa ara-ara/ semprat-semprit jamur apa?

Adapun jenis jamur yang sering disebutkan antara lain:
a.Jamur parut: para pemain menyiapkan telapak kakinya untuk digaruk-garuk oleh pemain dadi. Jika yang digaruk geli dan tertawa, maka pemain tersebut dinyatakan kalah dan menjadi pemain dadi selanjutnya.
b.Jamur gendhong: anak-anak lari kemudian berjongkok membuat lingkaran. Jarak antara pemain kurang lebih satu depa. Apabila ada yang berjarak lebih dari satu depa, anak yang berada di sebelah kiri menjadi pemain dadi. Apabila tidak ada yang berjarak lebih dari satu depa, maka pemain dadi harus mengangkat salah seorang di antara mereka. Apabila ada yang terangkat, maka dia menjadi pemain dadi selanjutnya.
c.Jamur kethek menek. Kethek menek dalam bahasa Jawa memiliki arti ‘monyet memanjat’. Para pemain menirukan kera yang sedang memanjat. Mereka boleh memanjat pohon, bangku, kursi, atau benda lain; yang penting mereka tidak menginjak tanah.
d.Jamur gagak: para pemain berlari sambil menirukan gerakan burung gagak yang sedang terbang. Pemain dadi harus menangkap salah satu gagak untuk menggantikannya sebagai pemain dadi.
Selain apa yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi jenis jamur yang dapat dimainkan oleh anak-anak tergantung kreativitas mereka.

4.Dhelikan. Dhelikan dikenal di hampir semua daerah di Indonesia, bahkan di mancanegara. Dalam bahasa Indonesia, permainan ini disebut petak umpet dan dalam bahasa Inggris disebut hide and seek. Dhelikan sendiri kadang-kadang disebut juga dengan istilah jethungan. Dhelikan berasal dari bahasa Jawa ndhelik yang berarti bersembunyi. Permainan ini dapat dilakukan oleh minimal dua orang. Satu orang berperan sebagai penjaga dan yang lain sebagai orang yang bersembunyi. Diawali dengan pingsut, pihak yang kalah bertugas menjaga pencokan (berupa pohon atau tiang). Penjaga harus menutup mata dan berhitung sesuai dengan jumlah hitungan yang disepakati (misalnya 1-10) pemain berlari mencari tempat persembunyian.

Setelah hitungan yang disepakati selesai, masing-masing pemain memiliki dua tugas. Penjaga bertugas mencari pemain yang bersembunyi sekaligus menjaga pathok agar tidak dipegang oleh pemain yang bersembunyi. Sementara itu, pemain yang bersembunyi bertugas mencari tempat persembunyian dan berusaha memegang pathok ketika penjaga sedang mencarinya. Pemain dikatakan menang apabila berhasil memegang pathok dan berhak bersembunyi lagi. Dengan begitu peran tidak berubah. Namun, jika penjaga berhasil menemukan melihat pemain di tempat persembunyiannya, keduanya akan berlomba untuk mencapai pathok terlebih dahulu. Apabila penjaga menyentuh pathok duluan, maka peran berganti. Permainan ini juga dapat dilakukan oleh banyak orang, dengan tetap satu orang menjadi penjaga. Penjaga dikatakan komet apabila tidak berhasil menjaga pencokan hingga berkali-berkali putaran.

Dalam perkembangannya, anak-anak dapat melakukan beberapa modifikasi. Modifikasi dapat dilakukan dengan menggunakan bola sebagai pencokan. Bola ditempatkan di tengah lingkaran, kemudian semua pemain berdiri mengelilingi lingkaran tersebut. Bola ditendang oleh salah satu pemain sehingga terlempar jauh dari lingkaran. Penjaga harus mengambil bola dan menempatkannya kembali dalam lingkaran, sedangkan semua pemain berhambur mencari tempat persembunyian. Dalam persembunyiannya, para pemain harus mencari kesempatan untuk menendang bola keluar dari lingkaran, sehingga mereka kembali dapat bersembunyi.

5.Ular naga. Ular naga juga merupakan jenis permainan yang berkembang luas di Indonesia, tak terkecuali Yogyakarta. Lagu yang digunakan dalam permainan ini pun serupa, dengan syair sebagai berikut:

Ular naga panjangnya bukan kepalang/menjalar-jalar selalu kian kemari/umpan yang elok itulah yang dicari/ini dialah yang terbelakang

Melihat lirik lagu yang digunakan dalam permainan ini, jelas bahwa permainan ini bukan asli berasal dari Yogyakarta. Umumnya, permainan-permainan yang berkembang di Yogyakarta menggunakan bahasa Jawa.

Permainan ini diawali dengan menentukan dua orang yang berperan sebagai gawang/pintu. Penentuan biasanya dilakukan dengan hompimpa dan pingsut hingga ditemukan dua orang yang kalah. Dua orang yang kalah kemudian merundingkan dua alternatif pilihan kata sesuai yang disepakati (misalnya, A memilih kalah dan B memilih menang, A memilih apel dan B memilih jeruk, dan sebagainya). Setelah disepakati, kedua pemain berdiri dan saling berpegangan membentuk gapura. Para pemain yang lain berdiri saling memegang pundak kawan dan berjalan memutari kedua pemain dan melewati tengah-tengah gapura buatan. Semua pemain menyanyikan lirik lagu Ular Naga. Ketika sampai pada kata “terbelakang”, maka kedua anak yang kalah menurunkan tangan bersamaan dan salah seorang pemain akan tertangkap. Pemain yang tertangkap dibawa menjauh dari pemain lain dan diminta memilih satu diantara kedua alternatif pilihan. Apabila pemain memilih alternatif pilihan A, pemain tersebut menjadi anak buah A dan berdiri di belakang penjaga A. Kemudian, permainan diulang kembali hingga semua anak terjaring dalam perangkap penjaga. Apabila semua anak telah menjadi anak buah masing-masing kelompok, A dan B menjadi kepala ular sedangkan yang lain menjadi anggota (badan ular). A bertugas menangkap anak buah lawan, begitu pula sebaliknya. Pemain yang menang adalah kepala yang berhasil menangkap seluruh bagian badan lawan.

Di daerah Yogyakarta, permainan ular naga dimodifikasi dengan permainan koko-koko. Adapun penjelasan permainan koko-koko akan dijabarkan dalam poin selanjutnya.
(sportivitas, kejujuran, gerak, konsep gerakan, memilih, menjaga rahasia, berlindung dan melindungi, ………….)

Gambar 2. Bagan letak dan pergerakan pemain dalam permainan Ular Naga.

6.Koko-koko
Permainan koko-koko merupakan salah satu permainan drama. Di Yogyakarta, permainan ini merupakan permainan lanjutan dari ular naga. Pada permainan ular naga, setelah pemain A dan B mendapatkan anggota-anggota maka kemudian dilanjutkan permainan koko-koko. Namun sebelumnya pemain A dan B melakukan suit, pemain yang menang berhak mengambil/meminta satu anggota pemain yang kalah. Hal tersebut terus dilakukan sampai salah satu pemain, A atau B, kehilangan seluruh anggotanya, misalnya dalam hal ini A menjadi pihak yang kehilangan seluruh anggotanya. Kemudian, dimulailah Tanya-jawab sebagai berikut:

A: koko-koko, kowe njaluk apa?
B: aku njaluk banyumu.
A: wadhae apa?
B: godhong lumbu.
A: apa gulumu ora gatel?
B: Gatel-gatel tak ulu.
A: tambane apa?
B: gula batu.
A: olehmu njupuk ngendi?
B: grabaganmu. Kelip-kelip nang mburimu kuwi apa?
A: anakku.
B: tak jaluk oleh apa ora?
A: ora.
B: tak jaluk ora oleh, ya tak rebut.

Kemudian pemain B harus berusaha menaangkap anak-anak yang harus dimiliki pemain A dan pemain A harus melindungi anak-anaknya. Apabila ada anak yang berhasil ditangkap oleh pemain B, maka permainan berakhir.
(sportivitas, melindungi, ……………)

7.Lompatan/ye-ye
Lompatan atau ye-ye merupakan permainan yang menggunakan tali sepanjang kurang lebih dua meter. Permainan ini membutuhkan minimal 3 orang pemain, bisa dilakukan secara individual mupun kelompok. Dua orang yang memegang masing-masing ujung tali dan yang seorang lagi atau lebih akan melompat tali tersebut.

8.Dhakon.
Dhakon adalah jenis permainan yang memadukan keterampilan berhitung, bermain strategi, dan pergerakan jari-jari tangan. Permainan dhakon dapat dilakukan dengan papan dan biji dhakon khusus yang saat ini banyak dijual di toko-toko permainan tradisional. Namun, permainan ini sebenarnya dapat juga dilakukan dengan cara lebih sederhana, yaitu dengan membuat lubang di tanah dan menggunakan baru-batu kecil sebagai biji dhakon. Lubang setengah bola dapat dibuat sesuai kesepakatan pemain, misalnya tiga, empat, atau lima lubang tiap baris dengan dua lubang tambahan yang disebut lumbung. Permainan ini hanya bisa dilakukan oleh dua orang. Satu orang menguasai satu baris lubang dhakon dan satu lumbung.

Bermain dhakon dimulai dengan mengisi masing-masing lubang dhakon dengan jumlah batu atau biji dhakon sesuai kesepakatan, misalnya 5 atau 10 biji dhakon. Setelah itu dilakukan pingsut untuk menentukan pemain yang akan memulai lebih awal. Pemain yang menang mengambil biji dhakon dari salah satu lubang dhakon miliknya, kemudian mendistribusikan biji dhakon ke tiap lubang dhakon yang ada, kecuali lumbung lawan. Giliran pemain selesai apabila biji dhakon jatuh pada lubang yang kosong atau pada lumbung pemain itu sendiri. Apabila biji dhakon jatuh pada lubang kosong milik pemain

tersebut dan berhadapan dengan lubang lawan yang berisi biji dhakon, maka semua biji dhakon menjadi milik pemain tersebut. Pemain berhak mengambil dan memasukkan semua biji dhakon dalam lubang lawan tersebut ke dalam lumbungnya. Siklus ini dilakukan terus hingga lubang dhakon masing-masing pemain kosong. Setelah itu, dilakukan penghitungan jumlah biji dhakon pada masing-masing lumbung. Pemilik biji dhakon terbanyak menjadi pemenang.
Strategi, keterampilan jari, kemampuan berhitung, dll

9.Boy-boy-an.
Boy-boyan biasa dilakukan oleh banyak pemain, dengan jumlah minimal dua orang. Satu orang menjadi penjaga dan yang lain menjadi pemain. Permainan ini membutuhkan sebuah bola dan benda-benda pipih untuk disusun menyerupai menara, seperti pecahan genting, batu pipih ataupun kaleng. Untuk memainkannya, para pemain harus menyusun benda benda tersebut menjadi menara. Kemudia salah seorang pemain harus merobohkan menara tersebut dengan menggelindingkan bola. Apabila pemain pertama gagal merobohkan menaranya, maka kesempatan selanjutnya dilakukan oleh pemain yang lain. Apabila pemain berhsil merobohkan menaranya, maka para pemain harus berusaha menyusun kembali menara tersebut, sedangkan pemain jaga harus mengambil bola tadi dan berusaha menghalang-halangi pemain lain menyusun menara dengan menembak kan

10.Mul-mulan.
Permainan ini diakukan dua pemain. Pertama-tama dibuat dibuat sebuah kotak yang kemudian dibagi menjadi seperti di bawah ini:
Gambar 3. Mul-mulan

Permainan ini diawali dengan pemilihan alat permainan yang akan dipakai, misalnya pecahan genting, batu kecil, daun kecil, ranting, atau benda lain yang berukuran kecil. Masing-masing pemain harus menentukan alat permainan yang berbeda, misalnya pemain A menggunakan pecahan genting, dan pemain 2 menggunakan batu kecil. Setiap pemain harus mencari masing-masing 2 buah alat sesuai dengan pilihanny (3 buah genting dan 3 buah batu kecil). Kemudian kedua pemain melakukan pingsut untuk menentukan pemain mana yang bermain lebih dulu. Tiap pemain meletakkan secara bergiliran ketiga benda yang dimilikinya di tiap titik pertemuan garis hingga keenam benda tersebut berada di kotak permainan. Tiap pemain mendapatkan giliran untuk menggeser benda miliknya. Tugas tiap pemain adalah berusaha meletakkan ketiga benda pada satu garis lurus dan menghalangi lawan membentuk garis lurus. Pemain yang dapat membentuk garis lurus dinyatakan sebagai pemenang.

11.Bas-basan.
Gambar 4. Kerangka dan peletakkan biji dalam permainan bas-basan

Permainan ini dilakukan oleh dua orang. Pertama-tama, pemain harus menyiapkan papan permainan (bisa di tanah atau dikertas) dengan gambar seperti diatas dan menyiapkan biji permainan yang bisa terbuat dari benda apa saja sebanyak 16 biji untuk setiap pemain. Tiap pemain harus memilih jenis biji yang berbeda, misalnya pecahan genting, batu, daun, potongan ranting, atau yang lainnya, seperti halnya dalam permainan mul-mulan. Tiap pemain secara bergiliran manggeser tiap biji yang dimilikinya seuai garis untuk bisa memakan lawan. Cara memakan adalah dengan melompati biji lawan, dengan kata lain di belakang biji lawan harus ada ruang kosong. Apabila biji pemain berhasil mencapai gunung lawan (segitiga lawan) maka biji tersebut dikatakan ngedan (Indonesia: gila). Dalam satu giliran, biji yang ngedan boleh bergerak lebih dari satu langkah tetapi harus sesuai dengan garis. Pemain dikatakan menang jika berhasil memakan semua biji lawan.

12.Benthik.
Kata benthik artinya bentur. Karena permainan ini menggunakan dua ranting/kayu yang jika dibenturkan menghasilkan bunyi “thik” sehingga disebut dengan benthic. Permainan ini bersifat rekratif, edukatif, melatih ketrampilan tangan dan ketahanan jasmani. Permainan benthik biasa dilakukan secara berkelompok. Untuk memainkan permainan ini dibutuhkan tanah lapang yang luas, dua buah ranting yang lurus dank keras sepanjang 15 cm dan 40 cm. ranting yang pendek disebut janak sedangkan ranting yang panjang disebut benthong. Benthong digunakan unutk mengngkit dan memukul janak.
Untuk permainan kelompok, pertama-tama, para pemain dibagi menjadi dua kelompok dan menentukan kelompok mana yang bermain dahulu, sedangkan yang lain menjadi kelompok jaga. Kemudian pemain harus membuat satu lubang kecil agak panjang di tanah untuk meletakkan ranting atau lidi yang lebih pendek secara horizontal. Kemudian secara bergantian, tiap pemain mencongkel ranting kecil tersebut dengan ranting yang lebih panjang. Apabila pemain jaga bisa menangkap ranting pendek tersebut, maka pemain yang tadi memukul harus lari menuju garis batas yang jaraknya telah ditentukan sebelumnya. namun, apabila para pemain jaga tidak bisa menangkap ranting tersebut, maka jarak tempat ranting pendek jatuh diukur dengan menggunakan ranting panjang sebagai satuan ukurannya. Jarak tersebut kemudian diakumulasikan dengan jarak yang dicetak anggota lain dalam kelompok yang sama. Pada akhir permainan, kelompok yang mempunyai angka akumulasi yang terbanyaklah pemenangnya.

13.Nekeran.
Nekeran atau permainan kelereng mungkin merupakan permainan tradisional yang terkenal di antara anak-anak laki-laki di Indonesia, tidak hanya di Yogyakarta. Ada banyak sekali variasi permainan ini, namun yang paling sering ditemukan adalah permainan nekeran dengan bentuk bulan sabit. Pertama-tama, tiap pemain menyiapkan neker yang akan digunakan. Kemudian, salah seorang menggambar setengah lingkaran yang agak mirip bulan sabit di permukaan tanah. Selanjutnya, semua pemain meletakkan kelereng-kelereng atau neker mereka di dalam lingkaran tersebut. Sebelum itu, tiap pemain harus menyiapkan satu neker yang akan digunakan sebagai gacuk (neker pemukul).

Dalam jarak tertentu yang telah disepakati, para pemain melemparkan gacuknya kearah lingkaran. Gacuk tersebut harus diusahakan mendekati lingkaran. Namun, tidak boleh masuk ke dalam lingkaran tersebut. Apabila ada neker yang terkena gacuk dan keluar dari lingkaran, neker tersebut boleh diambil oleh pemilik gacuk dengan syarat gacuk tersebut terpental kembali ke luar lingkaran. Setelah itu, permainan menembak kelereng dimulai oleh pemain yang gacuknya paling dekat dengan lingkaran, kemudian diikuti pemain yang lebih jauh, dan begitu seterusnya. Pemain yang gacuknya masuk ke dalam lingkaran tidak boleh bermain lagi. Kemenangan dalam permainan ini ditentukan oleh banyaknya neker yang didapat oleh tiap pemain.

14.Sundamanda.
Permainan sundamanda disebut juga dengan engklak. Permainan ini dilakukan secara individu dan mungkin tidak jauh beda dengan permainan engklak lain di Indonesia. Dalam permainan ini, pemain harus melewati tiap-tiap kotak dengan cara berloncat-loncat dengan satu kaki dan tidak boleh menginjak garis. Adapun bentuk kotak atau arena permainan ada 2 versi seperti dalam gambar,

Untuk memainkan permainan ini, pertama-tama pemain memilh gacuk yang biasanya berupa pecahan genting. Gacuk tersebut kemudian diletakkan di kotak 1, kemudian secara bergiliran tiap pemain ber-engklak sesuai dengan urutan dalam gambar. Pada kotak tengah, pemain harus brok (berdiri dengan dua kaki) dan mengambil gacuk kemudian melanjutkan engklak ke titik awal. Apabila pemain dapat kembali ke titik awal dengan sukses, maka pemain tersebut melanjutkan melempar gacuknya ke kotak kedua dan berengklak seperti sebelumnya. pemain dikatakan mati apabila ia menginjak garis ketika berengklak dan apabila gacuknya keluar dari kotak yang ditentukan. Apabial gacuk sudah berada di kotak ke-7, maka pemain harus mengambil gacuknya di kotak ke-6, namun ketika mengambil gacuk ia tidak boleh brok. Lalu pemain tersebut melanjutkan kembali ke kotak 3, 2, dan 1. Pemain yang sudah menyelesaikan 1 putaran maka ia berhak mendapatkan sawah dengan cara berdiri membelakangi arena dan berusaha melemparkan gacuknya ke kotak arena. Kotak yang terpilih itulah yang yang mnjadi sawah. Pada putaran kedua, apabila pemain tiba di sawahnya, maka ia boleh melakukan brok, tetapi pemain lain tidak boleh menginjak sawh milik orang lain dan ia harus melompat melewatinya.

15.Jek-jekan.
Permainan jek-jekan dapat dilakukan oleh banyak orang dengan jumlah minimal enam orang. Permainan diawali dengan membagi pemain ke dalam dua kelompok. Tiap kelompok mempunyai pencokan masing-masing. Tugas tiap kelompok adalah: 1) menjaga anggota kelompok agar tidak sampai ditangkap oleh musuh, 2) menangkap anggota kelompok musuh, 3) mengambil kembali atau menyelamatkan anggota kelompok yang menjadi tawanan musuh, 4) melindungi pencokan agar tidak dipegang (dipencoki) musuh, 5) merusaha memegang pencokan musuh. Anggota kelompok yang ditawan dapat diambil kembali dengan menariknya keluar dari daerah pencokan atau menukarnya dengan tawanan lawan. Kelompok dinyatakan menang apabila berhasil memegang pencokan lawan.

16.Gatheng.
Permainan ini minimal dilakukan oleh dua orang. Yang harus disiapkan adalah beberapa buah batu. Jumlah batu ditentukan sesuai kesepakatan, misalnya 10, 20, 30, atau lebih. Tiap pemain memiliki sebuah batu tersendiri yang digunakan unutk melempar. Batu ini dinamakan gancuk. Unutk menentukan siapa yang bermain lebih dulu, dilakukan pingsut.

Pemain yang memenangkan pingsut mengambil semua batu yang jumlahnya telah ditentukan tadi. Kemudian sembari melempar batu gancuk, pemain berusaha menyorong batu-batu tadi agar menyebar. Batu gancuk harus bisa ditangkap setelah menyorong batu-batu tadi. Pemain harus mengambil batu satu persatu sembari melempar dan menagkap batu gancuk seperti pada langkah pertama tadi. Apabila batu gancuk tidak berhasil ditangkap maka pemain dinyatakan gagal. Batu yang berhasil diambil merupakan nilai yang didapat. Pemain dengan nilai terbanyak dinyatakan menang.

*gambar menyusul (kalau sempat, hehehe)

Books in My Cupboard: Kenangan Gempa Jogja 27/5

Standard

Aku menulis catatan ini di sela kegiatan membongkar dan (kalau selesai) merapikan kembali kamarku. Seperti biasa, aku selalu kebingungan harus menaruh buku-bukuku di mana. Pada kegiatan hari ini aku memutuskan untuk menyimpan buku-buku yang dulunya kuletakkan di rak, ke dalam lemari pakaianku. Ketika memutuskan hal ini, aku teringat satu memori yang buatku cukup berkesan tentang peristiwa pada saat Gempa Yogya 27 Mei 2006 lalu.

Aku mempunyai impian (yang ‘mungkin’ banyak temanku sudah tahu) untuk mempunyai perpustakaan pribadi/keluarga di rumah. Impian ini sudah ada sejak SD, dan tak pernah surut hingga aku memasuki bangku kuliah (sejarahnya panjang). Diawali sejak SMK, ketika aku beberapa kali mendapatkan uang tidak dari pemberian orang tua, akhirnya aku mulai sering bepergian ke pameran buku bersama teman-teman. Di situlah awalnya aku mulai memantapkan niat untuk memulai mewujudkan impianku.
Langkah pertama kulakukan dengan mengumpulkan semua buku yang ada di rumah, termasuk milik orang tua dan kakak-kakakku. Tidak banyak, hanya belasan, karena memang keluarga tidak mempunyai banyak buku. Buku-buku itu kusampuli dan kutata di antara jajaran meja belajar sambil membayangkan lebih banyak buku dan, kutata di antara jajaran meja belajar sambil membayangkan lebih banyak buku dan, “Someday there will be more and more and many many books here.”

Dalam beberapa tahun, akhirnya aku berhasil memiliki semakin banyak buku, baik yang kubeli sendiri maupun pemberian dari teman atau guruku. Aku mulai bingung menaruh buku-buku tersebut. Bukan karena banyaknya buku yang kumiliki (karena memang masih sedikit), tapi karena tidak adanya ruang dan peralatan yang cukup di kamarku, dan tidak akan ada yang mau merawat buku-buku itu jika kuletakkan di luar kamar. Akhirnya untuk membuat kamar ‘terlihat’ tetap luas dan tidak memusingkan, aku pun memutuskan untuk ‘menyembunyikan’ (baca: menyimpan) buku-buku itu di lemari pakaian. Jadi, di mana pakaianku? Ah, aku juga lupa dulu kutaruh di mana.

Pada saat terjadi Gempa ‘yang dulu itu’, malamnya aku sedang belajar untuk menghadapi SPMB. Soal-soal masih ada di meja belajar ketika aku beranjak tidur dengan lelap. Paginya (alhamdulillah aku lagi rajin), aku bangun pagi dan pergi ke mushola untuk sholat subuh, lalu pulangnya hendak mencuci baju. Tiba-tiba seekor kucing menjatuhkan tumpukan gelas yang belum sempat dicuci, sehingga semua anggota keluarga bangun untuk memeriksanya (biasanya pada molor aja tuh, termasuk aku).

Ketika selesai mencuci, aku hendak menjemur pakaianku di jemuran milik pamanku (aku lupa kenapa nggak jemur di jemuran sendiri). Ketika itu pula gempa datang. Aku panik karena baru merasakan pertama kali gempa yang sehebat itu, tapi masih bingung apa yang terjadi. Setelah aku melihat rumah pamanku (yang kurang lebih hanya satu meter dari tempatku berdiri) ambruk habis di depanku, aku baru sadar ini gempa ‘luar biasa’. Aku segera berlari hendak masuk rumah, namun melihat kakakku sudah menarik-narik nenekku yang hampir kehabisan nafas. But, at least, semua anggota keluarga selamat.

Rumahku sudah sangat aneh jadinya. Tembok kanan miring ke kanan, kiri miring ke kiri, depan maju ke depan, belakang mundur ke belakang. Kami semua hampir shock dan sempat juga terhasut isu tsunami. Setelah pulang dari ‘bepergian berpisah-pisahan’ gara-gara isu tersebut, kami baru mulai memeriksa rumah kami dari luar saja. Kamarku adalah bagian terparah yang menjadi korban. Sampai hari ketiga, tidak ada yang berani masuk rumah. Selama itu juga aku masih berpikir?揃aiklah, semua selamat. Rumah rusak. Tinggal satu hartaku, BUKUKU!?Dan aku mendadak lemas membayangkan buku yang kukumpulkan bertahun-tahun hancur terkena hujan dan panas berhari-hari.

Di hari ketiga, akhirnya kami boleh masuk rumah –hanya boleh untuk beberapa menit. Aku langsung menilik kamarku. Ranjang dan tempat sampah hancur, meja belajarku hancur?soal-soal SPMB-ku juga hancur, basah dan sudah menjadi makanan hewan-hewan kecil sebangsa?rayapkah? I don’t know..
Lalu aku mulai dipanggil-panggil untuk keluar karena takut terjadi gempa susulan. Tapi aku masih ingin di kamarku, memastikan buku-bukuku baik-baik saja. Aku buka lemari pakaianku, dan?bukan hanya utuh?buku-buku itu masih tertata rapi dan bersih! Hoho, keanehanku bermanfaat juga, aku bersorak-sorak dalam hati.

Selama sebulan, buku-buku itu aku tumpuk di meja di serambi rumah sambil menunggu perbaikan rumah selesai. Sekarang, hari ini, aku memutuskan untuk kembali menaruh buku-bukuku di lemari pakaian. Pakaianku? Hm?Aku tak tahu! Mungkin kutaruh di rak buku saja, hahaha?^^

*melanjutkan aktivitas awal

Cerpen: Pelajaran Mengarang

Standard

Seperti biasa, pada hari Rabu aku harus mempersiapkan pensil, penghapus, penggaris, buku gambar, dan pewarna ke dalam tas sekolahku. Hari Kamis adalah waktu untuk pelajaran menggambar. Seperti biasa pula, aku akan berjalan ke kelas dengan gontai.

Aku tidak suka pelajaran menggambar. Tidak dengan alat-alatnya, pelajarannya, juga dengan gurunya. Guru menggambarku bernama Pak Nung. Pak Nung berperawakan tinggi, agak gemuk, berkacamata, dan agak botak. Walaupun mempunyai senyum ramah yang dapat membuat seisi kelas berbahagia dengan pelajaran menggambarnya, aku tetap akan tersenyum sinis menghadapi buku gambarku. Aku benar-benar tidak memahami bagaimana hubungan antar titik yang bisa membuat garis yang indah, tidak pula hubungan antar warna yang bisa menghasilkan paduan yang memukau. Karena itu, nilai menggambar di raporku tak pernah lebih dari tujuh.

Hari ini Pak Nung memasuki kelas, masih dengan senyum ramahnya. Setelah menyapa dan melakukan absensi rutin, Pak Nung pun berkata, “Hari ini adalah waktunya menggambar bebas.”
“Hore…!” anak-anak bersorak-sorai.

“Gambarlah apapun di kertas kalian, sesuai yang kalian inginkan.” lanjut Pak Nung lagi.
Mereka segera memegang alat gambar masing-masing dan mulai mencoretkan garis-garis di kertasnya. Beberapa masih kebingungan menentukan ingin menggambar apa, namun kemudian wajah mereka sejenak berbinar, lalu hal yang sama pun terjadi. Mereka mulai mencoret-coret kertas mereka.
Ufh, hari ini akan menjadi hari terberat bagiku. Ini tugas yang menyiksa. Pak Nung memang biasa memberikan tugas yang sulit. Namun selama ini ia selalu memberikan tema, misalnya menggambar manusia, hewan, tumbuhan, alat permainan, alat transportasi, dan sebagainya. Hari ini ia berniat baik memberikan tugas menggambar bebas dan ini membuatku tersiksa.

Sudah tiga perempat jam kulalui. Sebagian teman sudah mulai mewarnai, bahkan sebagian telah mengumpulkan tugasnya. Aku masih diam dengan kertas kosong di mejaku. Kulihat Pak Nung, yang wajahnya pun tak ingin kulihat lagi, tersenyum bangga sambil menerima tugas teman-temanku satu per satu.

Satu per satu siswa akhirnya berhambur keluar kelas menyambut bel tanda istirahat. Pak Nung mengerutkan dahi padaku, lalu mendekatiku.

“Sudah selesai gambarnya? Buat gambar apa?” tanyanya dengan senyum ramahnya.
“Sudah.” Jawabku tanpa senyum sedikitpun.
“Coba Bapak lihat.” Kata Pak Nung lagi.
Kuserahkan kertas gambarku dengan enggan.
“Hm, gambar apa ini?” tanyanya masih dengan senyum yang sama ketika melihat ‘gambar’ yang sudah kubuat.

“Tau.” Kataku cuek. Aku…hanya membuat ‘gambar’ dengan spidol merahku membentuk garis menyerupai logo obat penambah zat besi yang sering kulihat di tivi.
“Hm… seperti… darah ya?” tanya Pak Nung lagi.
“Bukan. Air mata.” Jawabku singkat, enggan menjawab.
“Oh, air mata? Kenapa memilih air mata?” Pak Nung masih saja bertanya.
“Tugas ini membuatku ingin menangis.”

“Oh ya? Bukannya menggambar bebas itu menyenangkan? Semua anak menyukainya.”
“Ya, tapi aku tidak. Aku tidak suka menggambar.” Kataku berterus terang. Mungkin Pak Nung akan marah seperti umumnya guru yang kutemui di sekolah yang tidak bisa menerima penolakan. Ya, seperti kebanyakan guru yang merasa bahwa semua anak harus menguasai apapun yang mereka dan guru-guru lain ajarkan.

Di luar perkiraanku, Pak Nung tidak terlalu menanggapi kata-kataku, Aku tidak suka menggambar. Dia duduk di kursi yang terletak di depan mejaku, dan menghadap padaku lebih dekat, bertanya dengan antusias.

“Hm, begitu ya?? Boleh Bapak tahu apa yang kamu sukai, Anak Manis?” Aku mendadak berbinar-binar.
“Betul Bapak ingin tahu? Aku suka banyak hal. Aku suka menulis, bermain komputer, menyanyi, menari… tapi tidak dengan menggambar.” Lagi-lagi aku ingin memastikan bahwa Pak Nung benar-benar mendengar kata-kata Aku tidak suka menggambar dan memastikan reaksinya benar.

“Ah! Ohya? Bapak baru tahu itu…” katanya dengan wajah bahagia. “Bapak ini memang aneh.” Batinku.
“Kalau begitu kamu tidak perlu bersusah payah menggambar. Tahu tidak, Bapak suka membaca dan Bapak sangat ingin membaca tulisanmu. Hm, boleh Bapak minta sesuatu? Bapak juga ingin melihatmu menyanyi atau menari pada acara perpisahan besok.” Katanya membuatku lebih tak percaya.”Ohya? Tentu! Aku memang akan tampil pada pentas besok. Tapi tidak untuk menyanyi, hanya menari saja.”
“Ya! Itu juga tidak apa. Bapak akan lihat besok…” lanjutnya lagi. Dia lalu mengelus kepalaku sebentar dan berkata, “Sekarang bermainlah. Teman-temanmu sudah menunggu.” lanjutnya.

Segera saja kata-kata itu kusambut dengan gembira. Aku berlari berhambur menuju kawan-kawanku, lalu kulihat Pak Nung menuju ruang guru dengan tersenyum lega. Entah kenapa, sejak itu aku sangat menyukai pelajaran menggambar.

0319040610, my room.
*Special thanks to:
– sastrawan pemilik cerpen berjudul “Pelajaran Mengarang”, Seno Gumira Ajidharma (inspires me to get the title)
– my trainer (aku hanya bisa menghadiahkan karyaku yang tidak seberapa untuk kelas menggambar gratismu, arigatou…!),
– secara khusus untuk murid privatku yang sangat ekspresif. Dia suka IPA dan Matematika, dan sangat benci mengarang. Guru Bahasa Indonesia-nya selalu memberi tugas mengarang yang menyiksanya setiap hari dan aku harus menghadapi sekitar dua jam lebih untuk menunggunya menyelesaikan beberapa kalimat saja. Hari itu dia tidak menuliskan apapun dan memohon-mohon padaku untuk membuatkan tugasnya. Aku bilang, tulisin aja apa yang ada di pikiranmu sekarang. “Beneran?” tanyanya. “Yup!” kataku. Lalu dia menulis besar-besar di kertasnya, “MATI!!” hohoho…les hari itu diakhiri dengan isak tangis seorang anak lelaki dan bantingan pintu kamar yang mengesankan. I love you, Dear…

Puisi: Hidup di Masa Tua

Standard

Aku datang pada suatu malam yang kau masih meramu kata-kata sebangsa mantra
Malam itu malam kelabu tapi kau terus mengigau tentang cucu
Mungkin beginilah menjadi tua
Sepi, harap, dan nestapa

Pertemuan bagimu surga bagi masa lalu
Lalu kau menangis dan tak ada
Aku teringat pada perkataannya, “Aku tak ingin hidup hingga tua. Cukup jika aku sudah tak mampu bekerja, aku ingin Dia mengambil nyawaku saja.”

0202030610