Category Archives: Uncategorized

Kisah Si Fulan yang Berhutang

Standard

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa bersikap jujur, menepati janji, dan melunasi setiap hutang. Salah satu kisah terukir dalam sejarah menggambarkan pertolongan Allah SWT kepada hamba-Nya yang jujur dan menepati janji. Kisah tersebut termaktub dalam hadits Bukhari Muslim yang dikisahkan oleh Abu Hurairah ra.

Dalam kisah tersebut dikisahkan, suatu hari, seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil datang kepada orang dari Bani Israil yang lain. Ia hendak meminjam uang sebesar seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya. Si pemberi pinjaman berkata kepada peminjam, “Datangkanlah para saksi. Saya akan minta mereka untuk bersaksi.”

Orang yang meminjam kemudian berkata, “Cukuplah Allah SWT menjadi saksi.”

Si pemberi pinjaman tak langsung percaya. Ia pun berkata lagi, “Bawakanlah seorang penjamin.“

Orang yang meminjam pun berkata lagi, “Cukuplah Allah SWT menjadi penjamin.”

Si pemberi pinjaman pun akhirnya percaya dan berkata, “Engkau benar.”

Setelah berkata demikian, ia memberikan uang sebanyak seribu dinar kepada peminjam. Ia juga menentukan batas waktu agar si peminjam segera mengembalikan uang pinjamannya.

Si peminjam kemudian pergi mengarungi lautan membawa uang seribu dinar dari sahabatnya dari kaum Bani Israil tersebut. Ia pergi selama beberapa hari untuk menyelesaikan urusannya. Ketika urusannya telah selesai, masa untuk mengembalikan uang pun tiba.

Si peminjam segera mencari kendaraan agar dapat kembali ke tempat pemberi pinjaman secepatnya. Setelah menunggu sekian lama, kendaraan yang dinanti tak segera datang. Ia pun mulai bimbang. Ia berusaha mencari ide bagaimana caranya bisa mengembalikan uang tersebut.

Tak lama kemudian, ia melihat sebuah kayu. Ia pun mengambil kayu tersebut dan melubanginya. Diselipkannya uang sebesar seribu dinar seperti yang ia janjikan kepada pemberi pinjaman pada lubang kayu tersebut.

Ia kemudian berkata dengan sungguh-sungguh, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah SWT sebagai penjamin.’ Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, ‘Cukuplah Allah SWT menjadi saksi.’ Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.”

Si peminjam kemudian melepaskan kayu itu ke air hingga ia tenggelam dan timbul kembali, lalu bergerak perlahan mengarungi lautan. Tak selesai sampai di situ, ia tetap berupaya mencari kendaraan untuk pergi menemui si pemberi pinjaman.

Sementara itu, pemberi pinjaman telah menanti-nanti kedatangan si peminjam. Namun, tak ada satupun kendaraan yang datang. Ia kemudian sebuah kayu terapung di dekatnya. Diambilnya kayu tersebut untuk dijadikan kayu bakar. Ketika ia menggergaji kayu tersebut, didapatinya uang seribu dinar terselip di tengah kayu tersebut.

Tak lama kemudian teman yang meminjam uang datang kepadanya. Ia menyerahkan seribu dinar seraya berkata, “Demi Allah, saya telah bersusah payah mencari kendaraan untuk menyerahkan piutangmu. Ternyata saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.”

Lelaki yang meminjamkan uang kemudian bertanya, “Apakah engkau pernah mengirimkan sesuatu padaku?”

Si peminjam pun menjawab, “Sudah kukatakan bahwa aku tidak menemukan kendaraan sebelum aku datang kemari.”

Pemberi pinjaman pun takjub dan berkata, “Allah telah mengantarkan sesuatu yang engkau kirimkan melalui kayu dan mengalir dengan membawa seribu dinar.”

Advertisements

Diuji dalam Kelapangan

Standard

Manusia sering menganggap kemiskinan dan kesulitan sebagai ujian. Tidak banyak yang menyadari bahwa ujian juga datang ketika manusia diberi kekayaan dan kelapangan. Allah SWT telah memberikan contoh dalam sebuah kisah.

Di antara kaum Bani Israil, terdapat tiga orang yang diberi ujian oleh Allah SWT berupa kekurangan fisik. Sebut saja ketiganya si belang, si botak, dan si buta. Suatu hari, Allah SWT mengutus seorang malaikat datang kepada mereka dengan wujud menyerupai manusia.

Malaikat itu pun datang kepada si belang dan bertanya, “Apa yang paling kau inginkan?” Si belangpun menjawab, “Aku ingin kulit dan wajah yang bagus, dan hilangkanlah penyakit yang membuat orang jijik padaku.”

Malaikat kemudian mengusap kulit orang tersebut. Seketika itu juga, hilanglah penyakit lelaki itu dan bergantilah rupa dan kulitnya menjadi bagus. Si belang pun sangat bahagia.

Malaikatpun bertanya lagi, “Kekayaan apa yang kau inginkan?” Ia menjawab, “Unta.” Maka malaikat memberikan seekor unta bunting dan berdoa, “Semoga Allah SWT memberkatimu dengan unta itu.”

Setelah itu, datanglah malaikat kepada si botak dan bertanya, “Apa yang kau inginkan?” Si botak menjawab, “Rambut yang bagus dan penyakitku hilang sehingga aku tidak hina dalam pandangan orang.”

Diusaplah kepala si botak oleh malaikat. Seketika itu pula rambut si botak tumbuh sangat indah dan penyakitnya pun hilang.

Malaikat kemudian bertanya lagi, “Kekayaan apa yang kau inginkan?” Ia menjawab, “Sapi.” Diberikanlah sebuah sapi bunting kepada si botak sembari malaikat berdoa, “Semoga Allah memberkatimu dengan sapi itu.”

Malaikat kemudian datang kepada si buta dan bertanya, “Apa yang paling kau inginkan?” Si buta menjawab, “Aku ingin penglihatanku kembali supaya dapat melihat orang-orang.”

Diusaplah mata si buta oleh malaikat dan seketika itu ia dapat melihat. “Kekayaan apa yang kau inginkan?” tanya malaikat. “Kambing.” kata si buta.

Si belang, si botak, dan si buta kemudian merawat hewan masing-masing hingga beranak banyak. Beberapa tahun kemudian, mereka mempunyai daerah sendiri yang penuh dengan unta, sapi, dan kambing.

Allah SWT kembali mengutus malaikat untuk menemui mereka dalam wujud menyerupai manusia. Pertama-tama, malaikat datang pada si belang. Ia berkata pada si belang, “Saya orang miskin yang tersesat. Tak ada yang dapat mengembalikan aku kecuali dengan pertolongan Allah SWT dan bantuanmu. Maka saya mengharap, demi Allah, yang memberi rupa dan kulit yang bagus, boleh saya meminta satu unta saja untuk meneruskan perjalananku ini?”

Si belang menjawab, “Masih banyak hak orang lain yang harus saya penuhi. Saya tidak bisa memberimu apa-apa. Mintalah pada orang lain.” Malaikat berkata, “Sepertinya aku pernah melihatmu. Bukankah kamu si belang yang dulu miskin dan menjijikkan, lalu Allah SWT memberikan kekayaan kepadamu?”

Si belang tidak mau mengakui pemberian Allah SWT dan berkata, “Saya mewarisi kekayaan saya dari orang tua.” Malaikat pun berkata, “Jika engkau dusta, semoga Allah SWT mengembalikanmu pada keadaan sebelumnya.”

Malaikat kemudian menemui si botak. Jawaban si botak tak jauh berbeda. Mereka ingkar atas apa yang telah Allah SWT berikan kepada mereka. Malaikat kemudian menemui si buta dengan kondisi tak jauh berbeda dengan keadaan si buta dahulu.

“Saya seorang perantau miskin yang sedang dalam perjalanan. Saya hanya dapat meneruskan perjalanan dengan pertolongan Allah SWT. Demi Allah SWT yang mengembalikan pandanganmu, berikanlah satu kambing untuk meneruskan perjalananku ini.”

Si buta menjawab, “Dulu aku memang buta, kemudian Allah SWT mengembalikan penglihatanku. Kini ambillah sesukamu. Aku tidak akan memberatkan sesuatu apapun yang kau ambil karena Allah.”

Mendengar itu, malaikat pun berkata, “Jagalah harta kekayaanmu. Sebenarnya kamu telah diuji. Maka Allah telah ridho kepadamu dan murka pada kedua temanmu.”

 

Oleh-oleh Ramadhan untuk Keponakan-Keponakan Kecilku

Standard

Berhubung tahun ini mungkin tidak bisa pulang, berhubung kalau di telpon malu-malu nggak mau ngomong, berhubung tidak bisa menemani belajar…dan berhubung-berhubung yang lain… mungkin cerita ini bisa jadi oleh-oleh.

Cerita ini sebenarnya tugas kantor yang ketika menuliskannya saya selalu teringat dengan keponakan-keponakan saya. Seandainya saya bisa mengisahkan ini kepada mereka. Semoga kalau tulisan dari Bulik sendiri nggak males bacanya dan semoga tidak ada kesalahan dalam ceritanya 😀

 

Kisah Nabi Yunus Ditelan Ikan Paus

 

Di suatu tempat bernama Ninawa, kota Mosul, hiduplah suatu kaum yang selalu durhaka pada Allah SWT dan senang menyembah berhala. Allah SWT kemudian mengutus Nabi Yunus as untuk berdakwah di sana. Nabi Yunus as adalah satu-satunya nabi yang dinasabkan kepada ibunya, Matta. Dia adalah lelaki yang selalu beribadat dan taat kepada Allah SWT.

Di kota Ninawa, Nabi Yunus as adalah orang asing. Ajakannya untuk beriman kepada Allah SWT tidak langsung mendapat sambutan. Setelah tiga tahun berdakwah di kota tersebut, hanya ada dua orang yang mau mengikutinya. Mereka adalah Rubil dan Tanukh.

Walaupun sulit, Nabi Yunus as tak pernah lelah berdakwah di Ninawa. Dia berdoa kepada Allah SWT agar umatnya mau menerima ajarannya. Melihat perjuangan Nabi Yunus as, Allah SWT kemudian mengirimkan wahyu yang menyatakan agar Nabi Yunus tetap berdakwah kepada rakyatnya selama 40 hari. Jika dalam 40 hari umatnya tidak mau beriman kepada Allah SWT, akan datang siksaan kepada mereka.

Mengetahui janji Allah SWT, Nabi Yunus as pun mengabarkan wahyu tersebut kepada umatnya. Namun, umat Nabi Yunus as tak memercayai kata-katanya. Mereka bahkan menantang Nabi Yunus as untuk mendatangkan siksaan tersebut. Nabi Yunus as pun geram. Hingga hari ke-37 umatnya tidak mau beriman. Nabi Yunus as tak tahan dan pergi meninggalkan umatnya. Ia berdoa agar Allah SWT memberikan hukuman pada orang-orang yang durhaka.

Setelah Nabi Yunus as pergi meninggalkan Ninawa, di hari ke-40, tanda-tanda azab Allah SWT pun tiba. Mendung hitam menggumpal di langit Ninawa. Binatang-binatang gusar. Angin dari seluruh penjuru arah bertiup kencang disertai suara gemuruh yang menakutkan. Warga Ninawa pun panik dan ketakutan.

Sementara itu, Nabi Yunus as terus berjalan meninggalkan kota Ninawa. Ia sampai di sebuah pantai. Di sana ia melihat sekelompok orang hendak menumpang kapal. Ia berbicara pada pemilik kapal agar diperbolehkan ikut menumpang. Nabi Yunus as lalu mengarungi lautan bersama para penumpang kapal lainnya. Di kapal itu, Nabi Yunus menjadi penumpang yang paling dihormati dan dicintai.

Di tengah laut, tiba-tiba kapal Nabi Yunus as diterjang gelombang dan angin kencang. Kapal yang mereka tumpangi oleng. Para penumpang pun panik dan ketakutan. “Biasanya kapal ini mau membawa pelarian. Kalau ada pelarian di dalam kapal, pasti terjadi hal seperti ini.” kata pemilik kapal.

Pemilik kapal meminta salah seorang untuk mengaku dan terjun ke dalam air demi keselamatan penumpang lainnya. Namun, tidak ada seorang pun yang mau mengaku. Para penumpang akhirnya sepakat melakukan undian untuk menentukan orang yang akan terjun ke laut, supaya kapal menjadi ringan.

Setelah diundi, nama Nabi Yunus as muncul. Para penumpang berat hati membiarkan Nabi Yunus as yang sangat dihormati dan dicintai terjun ke dalam lautan. Mereka pun melakukan undian lagi. Setelah beberapa kali undian, hanya nama Nabi Yunus as yang muncul. Nabi Yunus as pun merenung dan menyadari kesalahannya. Dia sadar telah melakukan kesalahan karena meninggalkan umatnya.

“Betul, saya seorang pelarian.” kata Nabi Yunus as setelah menyadari kesalahannya.

Tanpa pikir panjang, Nabi Yunus as menceburkan dirinya ke lautan yang penuh gelombang besar. Tak disangka, datang ikan paus besar yang kemudian menelan Nabi Yunus as. Dia berada dalam perut ikan paus dalam waktu lama. Dalam perhitungan normal, Nabi Yunus as seharusnya telah meninggal dunia. Namun Nabi Yunus as ternyata masih mampu menggerakkan anggota tubuhnya.

Selama berada di dalam perut ikan paus, Nabi Yunus as mendengar ikan-ikan di lautan bertasbih kepada Allah SWT. Ia juga mendengar seluruh alam ciptaan Allah SWT, seperti baru kerikil, tumbuhan dan biji-bijian bertasbih kepada-Nya. Nabi Yunus as adalah orang yang banyak mengingat Allah SWT. Karena itu, ia pun tak henti-henti mengucapkan tasbih dan tahlil kepada Allah SWT. Nabi Yunus as bertaubat atas kesalahannya dengan penuh ketundukan.

Nabi Yunus as kemudian berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah tidak ada Tuhan melainkan Engkau yang Maha Suci dan sesungguhnya aku termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri. Aku tidak sabar sehingga aku melarikan diri dari kaumku sebelum ada wahyu-Mu. Ampunilah dosa kami wahai Tuhanku.”

Allah SWT mendengar doa Nabi Yunus as dan mengabulkannya. Dikeluarkanlah Nabi Yunus as dari perut ikan paus dan dilemparkannya ke darat. Nabi Yunus as sakit dan tubuhnya kurus kering. Allah SWT memberikan kesembuhan pada Nabi Yunus as hingga dia bisa mengunjungi kota Ninawa.

Ketika sampai di kota Ninawa, Nabi Yunus as pun terpana. Tidak ada lagi berhala di kota tersebut. Ternyata, ketika musibah menimpa penduduk kota Ninawa, mereka ketakutan luar biasa. Mereka pun menyadari bahwa Nabi Yunus as bukan seorang pendusta. Mereka mencari-cari Nabi Yunus as tapi tidak menemukan dia.

Akhirnya, penduduk Ninawa pergi ke padang-padang pasir dan bukit-bukit. Mereka menangis dan bertaubat kepada Allah SWT. Melihat penduduk Ninawa telah bertaubat, Allah SWT mengampuni mereka dan menjadikan langit Ninawa perlahan menjadi terang benderang. Allah Yang Maha Pengampun mengampuni Nabi Yunus as dan umatnya yang melakukan taubat dengan penuh ketundukan.

Dilema Pendidikan Bahasa Inggris

Standard

Gak tau kenapa waktu mau nulis background skripsi selalu kepikir sama frasa di atas. Yoi, emang Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia ni masih aja di taraf dilema.

Dilema pertama, Globalization and Nationalism.

Ini pernah di bahas di Bunga Rampai Pendidikan Bahasa dan Budaya karangan lupa saya *sori lagi males ngacak buku. Intinya, ada dilema besar dalam diri bangsa Indonesia. Ada ketakutan besar bahwa dengan giatnya orang mempelajari bahasa Inggris, maka nilai nasionalisme akan turun. Dengan kata lain, asupan pelajaran bahasa Inggris berbanding terbalik dengan nilai nasionalisme *ishsampe kemanamana :P.

Ini pernah aku temui juga ketika melakukan observasi di sebuah Taman Kanak-Kanak Islam di daerahku. Kata kepala sekolahnya, “Kan ini sekolah Islam to mbak, jadi nanti kalau dikasih pelajaran Bahasa Inggris takutnya nilai-nilai keIslamannya kurang.”

Kalau menurutku, nggak ada hubungan juga antara nilai keIslaman dengan pembelajaran Bahasa Inggris. Toh pembelajaran Bahasa Inggris di TK/SD baru sampai pada tahap kosakata saja. Bahasa Inggris juga ‘hanya’ media komunikasi internasional. Artinya bahasa ini hanya menjadi pengantar pada dunia yang lebih luas, bukan diajarkan sebagai alat propaganda. Toh kalau kita mau bersikap terbuka, dunia Islam sendiri membutuhkan orang-orang yang bisa berbahasa Inggris dan menyuarakan Islam di kancah internasional.

Begitu juga hal nya dengan nasionalisme. Pengajaran Bahasa Inggris tidak ada kaitannya sama sekali dengan nasionalisme. Apabila jiwa nasionalisme sudah tumbuh dalam diri bangsa Indonesia, pemberian asupan bahasa maupun kebudayaan asing tidak akan mengikis, justru memperkaya pengetahuan dan jiwa toleran pelakunya. Jadi, permasalahannya bukan bagaimana mengajarkan bahasa Inggris yang tidak mengikis jiwa nasionalisme..tapi bagaimana jiwa nasionalisme itu diperkuat sehingga pemberian bahasa Inggris membawa nilai positif bagi bangsa Indonesia.

Toh pada kenyataannya kita memang butuh belajar Bahasa Ingris. Dari hal yang paling simpel. Seorang pemakai komputer yang mengerti bahasa Inggris akan lebih piawai dari yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Seorang mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk menerjemahkan jurnal apabila bisa memahami teks berbahasa Inggris. Seorang karyawan punya nilai lebih jika mampu berbahasa Inggris. Dan banyak hal lagi.

Dilema kedua, to communicate or to be graduated.

Dilema ini pasti dialami oleh hampir semua guru yang mengajar saat ini. Dengan adanya Ujian Nasional, artinya ada standard-standar yang harus dipenuhi dalam pengajaran di kelas. “Apakah saya harus mengajarkan Bahasa Inggris sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa saya, atau saya harus mengajarkan apa yang nantinya akan keluar di Ujian Nasional?” pertanyaan ini mungkin sering muncul di benak para guru.

Banyak cara dilakukan oleh guru dan sekolah untuk mengatasi hal ini, terutama dengan memberikan les bahasa Inggris tambahan bagi siswa. Di beberapa sekolah juga ada program darmawisata untuk mempraktikan langsung bahasa Inggris yang dipelajari di sekolah. tapi lagi-lagi, ketika memasuki kelas akhir, pihak sekolah akan berlomba untuk memenuhi tuntutan soal-soal ujian Nasional dan menjejali para siswa dengan soal-soal latihan.

*well, for this..honestly i have no solution –”

 

Cerpen: Pelajaran Mengarang

Standard

Seperti biasa, pada hari Rabu aku harus mempersiapkan pensil, penghapus, penggaris, buku gambar, dan pewarna ke dalam tas sekolahku. Hari Kamis adalah waktu untuk pelajaran menggambar. Seperti biasa pula, aku akan berjalan ke kelas dengan gontai.

Aku tidak suka pelajaran menggambar. Tidak dengan alat-alatnya, pelajarannya, juga dengan gurunya. Guru menggambarku bernama Pak Nung. Pak Nung berperawakan tinggi, agak gemuk, berkacamata, dan agak botak. Walaupun mempunyai senyum ramah yang dapat membuat seisi kelas berbahagia dengan pelajaran menggambarnya, aku tetap akan tersenyum sinis menghadapi buku gambarku. Aku benar-benar tidak memahami bagaimana hubungan antar titik yang bisa membuat garis yang indah, tidak pula hubungan antar warna yang bisa menghasilkan paduan yang memukau. Karena itu, nilai menggambar di raporku tak pernah lebih dari tujuh.

Hari ini Pak Nung memasuki kelas, masih dengan senyum ramahnya. Setelah menyapa dan melakukan absensi rutin, Pak Nung pun berkata, “Hari ini adalah waktunya menggambar bebas.”
“Hore…!” anak-anak bersorak-sorai.

“Gambarlah apapun di kertas kalian, sesuai yang kalian inginkan.” lanjut Pak Nung lagi.
Mereka segera memegang alat gambar masing-masing dan mulai mencoretkan garis-garis di kertasnya. Beberapa masih kebingungan menentukan ingin menggambar apa, namun kemudian wajah mereka sejenak berbinar, lalu hal yang sama pun terjadi. Mereka mulai mencoret-coret kertas mereka.
Ufh, hari ini akan menjadi hari terberat bagiku. Ini tugas yang menyiksa. Pak Nung memang biasa memberikan tugas yang sulit. Namun selama ini ia selalu memberikan tema, misalnya menggambar manusia, hewan, tumbuhan, alat permainan, alat transportasi, dan sebagainya. Hari ini ia berniat baik memberikan tugas menggambar bebas dan ini membuatku tersiksa.

Sudah tiga perempat jam kulalui. Sebagian teman sudah mulai mewarnai, bahkan sebagian telah mengumpulkan tugasnya. Aku masih diam dengan kertas kosong di mejaku. Kulihat Pak Nung, yang wajahnya pun tak ingin kulihat lagi, tersenyum bangga sambil menerima tugas teman-temanku satu per satu.

Satu per satu siswa akhirnya berhambur keluar kelas menyambut bel tanda istirahat. Pak Nung mengerutkan dahi padaku, lalu mendekatiku.

“Sudah selesai gambarnya? Buat gambar apa?” tanyanya dengan senyum ramahnya.
“Sudah.” Jawabku tanpa senyum sedikitpun.
“Coba Bapak lihat.” Kata Pak Nung lagi.
Kuserahkan kertas gambarku dengan enggan.
“Hm, gambar apa ini?” tanyanya masih dengan senyum yang sama ketika melihat ‘gambar’ yang sudah kubuat.

“Tau.” Kataku cuek. Aku…hanya membuat ‘gambar’ dengan spidol merahku membentuk garis menyerupai logo obat penambah zat besi yang sering kulihat di tivi.
“Hm… seperti… darah ya?” tanya Pak Nung lagi.
“Bukan. Air mata.” Jawabku singkat, enggan menjawab.
“Oh, air mata? Kenapa memilih air mata?” Pak Nung masih saja bertanya.
“Tugas ini membuatku ingin menangis.”

“Oh ya? Bukannya menggambar bebas itu menyenangkan? Semua anak menyukainya.”
“Ya, tapi aku tidak. Aku tidak suka menggambar.” Kataku berterus terang. Mungkin Pak Nung akan marah seperti umumnya guru yang kutemui di sekolah yang tidak bisa menerima penolakan. Ya, seperti kebanyakan guru yang merasa bahwa semua anak harus menguasai apapun yang mereka dan guru-guru lain ajarkan.

Di luar perkiraanku, Pak Nung tidak terlalu menanggapi kata-kataku, Aku tidak suka menggambar. Dia duduk di kursi yang terletak di depan mejaku, dan menghadap padaku lebih dekat, bertanya dengan antusias.

“Hm, begitu ya?? Boleh Bapak tahu apa yang kamu sukai, Anak Manis?” Aku mendadak berbinar-binar.
“Betul Bapak ingin tahu? Aku suka banyak hal. Aku suka menulis, bermain komputer, menyanyi, menari… tapi tidak dengan menggambar.” Lagi-lagi aku ingin memastikan bahwa Pak Nung benar-benar mendengar kata-kata Aku tidak suka menggambar dan memastikan reaksinya benar.

“Ah! Ohya? Bapak baru tahu itu…” katanya dengan wajah bahagia. “Bapak ini memang aneh.” Batinku.
“Kalau begitu kamu tidak perlu bersusah payah menggambar. Tahu tidak, Bapak suka membaca dan Bapak sangat ingin membaca tulisanmu. Hm, boleh Bapak minta sesuatu? Bapak juga ingin melihatmu menyanyi atau menari pada acara perpisahan besok.” Katanya membuatku lebih tak percaya.”Ohya? Tentu! Aku memang akan tampil pada pentas besok. Tapi tidak untuk menyanyi, hanya menari saja.”
“Ya! Itu juga tidak apa. Bapak akan lihat besok…” lanjutnya lagi. Dia lalu mengelus kepalaku sebentar dan berkata, “Sekarang bermainlah. Teman-temanmu sudah menunggu.” lanjutnya.

Segera saja kata-kata itu kusambut dengan gembira. Aku berlari berhambur menuju kawan-kawanku, lalu kulihat Pak Nung menuju ruang guru dengan tersenyum lega. Entah kenapa, sejak itu aku sangat menyukai pelajaran menggambar.

0319040610, my room.
*Special thanks to:
– sastrawan pemilik cerpen berjudul “Pelajaran Mengarang”, Seno Gumira Ajidharma (inspires me to get the title)
– my trainer (aku hanya bisa menghadiahkan karyaku yang tidak seberapa untuk kelas menggambar gratismu, arigatou…!),
– secara khusus untuk murid privatku yang sangat ekspresif. Dia suka IPA dan Matematika, dan sangat benci mengarang. Guru Bahasa Indonesia-nya selalu memberi tugas mengarang yang menyiksanya setiap hari dan aku harus menghadapi sekitar dua jam lebih untuk menunggunya menyelesaikan beberapa kalimat saja. Hari itu dia tidak menuliskan apapun dan memohon-mohon padaku untuk membuatkan tugasnya. Aku bilang, tulisin aja apa yang ada di pikiranmu sekarang. “Beneran?” tanyanya. “Yup!” kataku. Lalu dia menulis besar-besar di kertasnya, “MATI!!” hohoho…les hari itu diakhiri dengan isak tangis seorang anak lelaki dan bantingan pintu kamar yang mengesankan. I love you, Dear…

Puisi: Hidup di Masa Tua

Standard

Aku datang pada suatu malam yang kau masih meramu kata-kata sebangsa mantra
Malam itu malam kelabu tapi kau terus mengigau tentang cucu
Mungkin beginilah menjadi tua
Sepi, harap, dan nestapa

Pertemuan bagimu surga bagi masa lalu
Lalu kau menangis dan tak ada
Aku teringat pada perkataannya, “Aku tak ingin hidup hingga tua. Cukup jika aku sudah tak mampu bekerja, aku ingin Dia mengambil nyawaku saja.”

0202030610

Puisi: Mati Suri

Standard

Sudah cukup kau mati suri
Sudah boleh kau bangkit lagi
Tidur panjang dan nyenyakmu
Sudah boleh berhenti
Karangkarang siap bertahan
Karna ombak telah berkalikali menghantam

sudah cukup mati surimu
telah waktunya bangun segera
bergegas namun tak tergesa
kemana rasa berontakmu
kau bunuh atau memang mati

sudahlah,
sudah boleh kau bangkit lagi

Yogyakarta, 0003060810
*oleh-oleh Gelar Karya Maestro