Category Archives: social/humanism

Yueyue: (dan) Dilema Moralitas bagi Kita

Standard

#Berawal dari kisah Yue Yue, seorang balita berumur 2 tahun yang akhirnya meregang nyawa karena kecelakaan di daerah Foshan, Guangzhou, China. Konon, di Guangzhou sendiri hal seperti ini bukan pertama kali terjadi. Menurut sumber yang aku baca di kaskus (silakan cari linknya sendiri), katanya, sebelumnya pernah ada peristiwa seorang nenek jatuh dari kendaraan kemudian ditolong oleh seorang pria. Naasnya, pria yang berniat baik ini justru difitnah sama si nenek bahwa dia yang mendorong dan menyebabkan nenek itu jatuh. Akhirnya, si pria justru harus membayar ganti rugi.

Naas bagi Yue Yue dan si pria, tapi tidak bagi Chen Xianmei, pemulung yang akhirnya menolong Yue Yue setelah 18 orang meninggalkannya begitu saja setelah melihat Yue Yue terkapar. Pemerintah China akhirnya memberikan imbalan 25.000 Yuan (US $ 3.917) kepadanya karena keberaniannya dalam menolong Yue Yue, walaupun akhirnya Yue Yue tidak berhasil diselamatkan.

Tulisan ini tidak akan berbicara tentang bagaimana imbalan bagi seorang yang membantu orang lain dengan tulus. Tidak dengan bahasa “memberilah, maka Tuhan akan membalas dengan jalan yang tak terduga”, namun lebih pada pemikiran Dalai Lama “Ketika kamu melakukan kebaikan, tidak ada balasan yang lebih baik dari kebahagiaan yang kamu temukan pada dirimu sendiri.

#Kisah Chen Xianmei ini mengingatkan kita pada reality show yang pasti sudah banyak kita ketahui, “Tolong” atau “Minta tolong”. Entah acara itu rekaan atau bukan, yang jelas di situ tergambar bagaimana tidak semua orang bisa, mau, dan mampu membantu.

Ketika bercengkerama dengan teman via YM dan mendiskusikan singkat tentang kasus Yue Yue, sang teman berceletuk “Dunia emang aneh sih. Kadang, ketika liat orang jalan sendirian malem-malem, kita boncengin dengan niat mau bantu, eh malah kita ditodong dan dirampok.”

#Hm, ini yang saya bilang kegalauan atau dilema moral. Saya sendiri pernah mengalaminya beberapa tahun lalu. Ketika itu saya pulang dari Masjid Kampus UGM bersama teman saya, hendak mampir ke Pameran Buku FE UGM. Kami berjalan kaki berdua. Sesampai di dekat Bundaran Lembah, seorang nenek menghentikan langkah kami dan tiba-tiba menangis *keluar air mata*. Dia bercerita panjang lebar tentang cucunya yang sakit, lalu dia tidak bisa pulang, dan sebagainya.

Sebagai manusia biasa, melihat nenek-nenek yang sudah tua menangis seperti itu tentu saja kami trenyuh. Sayang lagi bokek-bokeknya, uang di dompet saya tinggal cukup buat naik angkot pulang, sedang uang teman saya tinggal cukup untuk dua hari sampai ada kiriman. Sekitar 15.000.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, teman saya itu mengulurkan uang terakhirnya kepada sang nenek dan nenek pun pergi dengan bus.

Beberapa hari kemudian saya temui teman saya itu untuk menanyakan kondisinya *berhubung uang terakhirnya sudah tidak ada*. Pulang dari kampus, saya naik angkot dan… wow melihat nenek-nenek yang saya temui beberapa hari yang lalu. Saya duduk tepat di seberang nenek itu. Saya diam saja, sambil bertanya-tanya dalam hati. Apakah nenek ini masih ingat saya? Kenapa nenek ini masih di Jogja, sedangkan beberapa hari lalu dia menangis karena ingin pulang ke ‘propinsi sebelah’.

Pertanyaan saya terjawab ketika nenek itu kemudian memegang tangan saya dan seperti sebelumnya, mengiba hamper menangis dan menceritakan drama karangannya pada saya. Pada detik yang sama ketika sentuhannya masih di tangan saya, saya merasa trenyuh sekaligus marah. Trenyuh, karena mempertanyakan untuk apa nenek itu melakukannya? Ada apa gerangan di balik semuanya *sambil terbayang wajah nenek saya*? Bagaimana cerita di balik tindakan jahat nenek itu? Sekaligus naik pitam karena melihat aktingnya.

Tapi akhirnya saya kuasai diri dan bilang, “Mbah, maaf yah, simbah yang di FE UGM kemarin kan?”

Keliatan banget kalo muka nenek itu berubah *kaget*, tapi nampaknya untuk menutupi klo dia sudah ketahuan, dia malah menodong saya “Nak nggak mau minjemi uang ke saya?”

“Bukan nggak mau Mbah, Mbah yang kemarin di FE UGM kan? Kita kemarin ketemu.”

Akhirnya di situlah jelas kalo si nenek ternyata tukang tipu yang tiap hari mengobral cerita. Sopir angkot yang tau cerita itu bilang, “Udah mbak biarin aja, saya udah apal sama dia, dia tu tiap hari naik angkot ini kok.” Si nenek pun dengan marah *pada supir angkot* akhirnya turun.

Dongkol, apalagi kalau ingat demi membantu nenek itu teman saya memberikan uang terakhirnya.

Setelah itu, beberapa kali saya menemui modus semacam..bahkan pernah di masjid. Hfhh…Selalu ada rasa tidak enak walau kita melakukan hal yang benar. Selalu ada pertanyaan, apakah orang tadi benar-benar penipu atau memang membutuhkan bantuan. What the hell!

#Dilema seperti ini juga sering sekali terjadi ketika berhenti di perempatan lampu merah. Pernah ketika pulang KKN, ada seorang anak kecil *anak jalanan* mendekati motor saya dan bilang “Mbak, ikut mbak, bonceng yah sampai lampu merah sana.” Awalnya saya takut, tapi toh ini anak kecil. Jalan ramai. Kalau macam-macam aku tinggal ketok kepalanya atau teriak. Akhirnya aku bilang “Ya udah ayo naik.”

Bujubuseettt! Dia malah bikin pengumuman, “Hey aku dapat boncengan hoi.” Akhirnya beberapa anak mendekat dan seorang anak seumuran SMP ikut naik ke motorku.

Aku: Eh kamu ngapain?

Anak SMP: Alah mbak, aku ikut yah, bonceng sampe depan.

Aku: *dalam hati* gila, kalau diapa-apain sama dia gak bisa apa-apa juga aku.

Aku: Nggak-nggak. Kan tadi aku mau bonceng dia *anak kecil* aja.

Anak kecil: Gapapa mbak, ini temenku.

Aku: Nggak, kalau dia ikut kamu turun aja. Aku mau pulang ntar keburu Isya’.

Akhirnya aku menang juga, si Anak kecil ikut dan yang besar cari tumpangan lain. Di jalan aku ajak ngobrol anak itu. Lagi-lagi dongkol, menurut ceritanya, dia dibawa dari ‘pulau lain’ oleh orang tuanya. Orang tua (kandung) nya itu di rumah, tidak bekerja, dan dia sendiri harus ngamen di jalan dengan teman-temannya. Dia tidak boleh pulang sebelum mendapatkan 20.000. Hari itu sudah lewat Maghrib, dan anak itu menunggu untuk dapat 10.000. Dan saya membayangkan… rombongan anak-anak itu, semuanya seperti dia. Gilaaaaaaaaaaa sudah!!!! What the hell is the world!!!

#Cerita selanjutnya, kemarin saya melihat kecelakaan di dekat pintu masuk Komplek Angkasa Pura. Tabrakan antara mobil dengan motor. Selintas saya lihat motor baik-baik saja dan orangnya juga tidak terlalu parah. Orang-orang sudah berkerumun. Saya sempat dilemma *dengan kadar sangat sedikit* lalu akhirnya melanjutkan perjalanan ketika melihat semakin banyak orang berkerumun. Waktu itu saya sedang ada janji dengan seorang teman.

Saya bertanya dalam hati, kalau saya berhenti, apa yang saya ingini dari gerakan saya itu?

  1. Apakah saya ingin menolong?
  2. Apakah saya ingin bersimpati?
  3. Apakah saya ingin melihat/menonton untuk mematahkan bahwa saya orang yang tidak peduli?
  4. Apakah saya ingin melihat dan bertanya-tanya agar saya bisa bercerita nanti?

Jujur dari beberapa kali melihat kecelakaan jatuh, hanya setengahnya mungkin yang benar-benar terjawab dengan nomor satu dan diikuti gerakan untuk membantu. Selebihnya terkadang saya *dan kadang bersama teman saya* berhenti hanya untuk alasan 2,3,4..dan akhirnya hanya berdiri melihat. Karenanya hari itu saya melanjutkan perjalanan setelah melihat banyak orang sudah berdatangan. If I were there, jawabannya hanya nomor 4. *miris*

Bagaimana dengan Anda? Apakah pernah terlintas hal yang sama? Hanya hati kecil kita yang tau.

#Hm, dilema semacam ini akan terus terjadi. Bagi saya sekarang, ketika memang kita mau melakukan atau memberikan sesuatu, jangan biarkan dilema datang. Berikan kalau mau memberi, simpan kalau tidak. Tidak perlu membiarkan otak bekerja untuk mempertanyakan alasan. Tentu dengan selalu mengingat ucapan Dalai Lama, dan senandung Soe Hok Gie “Kita tak pernah menanamkan apa-apa. Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa.”

 

*Obat gelisah

Yogyakarta, 25 Oktober 2011 jam 01:45