Category Archives: plurality

Salah Kaprah dalam Penggunaan Kata Jawa dan Yogyakarta

Standard

Beberapa tahun lalu, ketika Bapak saya pulang dari Jakarta, dia bercerita.. Ketika sampai di depan pintu rumah, keponakannya berteriak, “Hore, Paman dari Jawa datang!”

Kwkwkw… kami tertawa ketika itu 😛

Di kesempatan yang lain, ketika SMK, guru saya yang Sunda pernah berkelakar “Kalau kamu ke Jakarta atau Bandung..orang sana itu nggak mau dibilang Jawa.”

“Iya bu? Kenapa?” tanya kami serius.

“Ya karena memang begitu. Kalau nggak percaya kamu pergi saja ke sana, nanti kamu dibilang orang Jawa ya?”

Hm…bingung, kan memang orang Jawa 😛 Umm, ternyata begini salah pahamnya.

Eh tapi tunggu dulu ya, tulisan ini tidak bermaksud rasial sama sekali karena saya bukan seorang yang rasis (amin..). Hanya sebuah kelakar sederhana untuk meluruskan kesalahpahaman atau kesalahkaprahan yang sering terjadi.

1.  Jawa

Di daerah yang mayoritas dihuni oleh suku Sunda dan Betawi (bukan Jawa), kata “Jawa” mungkin biasa diartikan “daerah yang dihuni oleh mayoritas suku Jawa.

Jadi ketika orang Bandung bertanya, “Kamu orang Jawa ya?” mungkin maksudnya menanyakan daerah Anda, yang biasanya akan dilanjut “Jawanya mana?”

Tapi ketika Anda datang ke daerah Yogyakarta, Jawa Tengah, atau JAwa Timur, pertanyaan “Jawanya mana?” akan menjadi sangat aneh di telinga.

Ketika orang dari suku Jawa ditanya oleh orang Sunda atau Betawi, “Kamu orang Jawa ya?”, yang ada dipikirannya adalah “Kamu orang suku Jawa ya?”  Begitu juga ketika sesama orang Jawa bertemu, maka yang disebut “wong Jowo” adalah suku dengan segala kebudayaan dan serba-serbinya.

Lalu bagaimana seseorang berbincang tentang daerah di Jawa? Mereka akan tetap menyebut “wilayahnya” seperti Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, dan sebagainya.

Bagaimana kalau seseorang mengatakan akan pergi ke Jawa Timur? Mereka akan menyebut langsung tempatnya secara normal, misal Surabaya, Malang, Kediri, Mojokerto, dan sebagainya.

Jadi, pertanyaan yang lebih berterima biasanya yang bersifat umum, “Kamu darimana?”

Lalu akan dijawab, “Saya dari (Jogja/Malang/Kediri, dsb.)”

Baru kemudian, “Oh jadi kamu (suku) Jawa ya?”

Dan akan dijawab, “Iya. Jowo asli! Kamu teh Sunda asli?”

Sunda: Iya, saya teh asli bikinan Sunda

Jawa: Oh, dari Bandung atau mana?

Sunda: Saya teh dari Sukabumi.

Dan perbincangan akan berlangsung dengan lebih normal… 😛

So, ketika Anda pergi ke Bandung atau Jakarta, jangan kaget ketika berkali-kali Anda dibilang orang Jawa (bukan orang Jogja, hahaha)…mereka pastinya tidka bermaksud rasis dan ingin membedakan Anda dengan mereka. Dan ketika Anda di Jogja, sebaiknya jangan menggunakan kata “orang Jawa” karena Anda akan dianggap rasis dan mungkin akan mendapat jawaban nyolot semacam, “Emangnya situ tinggal di Sumatra??” hehehe..

Rasionalisasinya begini:

Jawa sebagai daerah adalah sebuah pulau yang dihuni oleh berbagai etnis/suku.  Jadi, suku Jawa, Sunda, Betawi, Tengger, dll adalah suku-suku yang sama-sama tinggal, mendiami, dan mewarnai kehidupan di Pulau Jawa. Suku Jawa, hanya sebagian kecil dari suku-suku yang ada di Pulau Jawa. Jadi pulau ini adalah milik kita bersama, kwkwkw… 😛

2. Jogya atau Yogja?

Cerita sangat menggelikan ini terjadi sekitar 1,5 tahun yang lalu di daerah Malioboro dekat Benteng Vredeburg. Waktu itu saya dan teman saya sedang menunggu arak-arakan Karnaval dari sanggar tari Didik Nini Thowok. Kebetulan teman saya ikut dalam arak-arakan itu.

Sambil menunggu, kami asik jalan-jalan dan mengambil foto, hingga ada sebuah bus berisi rombongan anak SMP turun dengan seragam darmawisata. Namanya juga ababil alias ABG Labil, gayanya udah sok gaya, sok keren, sok gahooool lah pokoknya mah!

Di dekat situ, duduk-duduk lah orang jualan rokok (pengasong) yang mukanya udah ndeso, buluk, tampangnya nggak gahol juga.. Mendadak saya tertarik kenapa tiba-tiba Mas-mas itu kaya heboh. Saya pikir apa karena ngeliat cewek-cewek bening yang masih ABG-ABG itu? Tapi saya mendadak ketawa terbahak-bahak bareng temen saya..ketika mendengar mas-mas itu dengan logat super medhoknya bilang:

“Yak yak..mari mbak..selamat datang di kota yog…Jaaaaaaa” dengan penekanan pada kata “Ja” sambil tertawa terbahak-bahak. Ternyata di balik wajah manis, dandanan gahol, dan gaya selangitnya itu, kaos darmawisatanya bertuliskan “Rombongan Wisata SMP XXX tanggal XXX di Yogja”

Kontan aja..anak-anak ABG yang awalnya Ge-er dikira digodain itu jadi bingung sendiri…Wakakakaka

Okeh, langsung sajah pemirsah. Untuk yang satu ini, penulisan yang tepatnya adalah…

a. Nama provinsi: Daerah Istimewa Yogyakarta

Yogyakarta sendiri adalah nama kotamadya di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.  Walaupun begitu, kalau Anda malas menulis nama provinsi panjang-panjang dan Anda menulis Yogyakarta biasanya orang akan mengerti.

b. Penulisan aku untuk daerah ini adalah: YOGYAKARTA

Jdi kalau Anda menulis surat atau apapun yang membutuhkan penulisan baku, tulislah dengan huruf Y.

c. Penulisan JOGJAKARTA adalah versi tidak baku yang sangat diterima. Untuk beberapa keperluan seperti promo wisata, Anda akan sering menemui tulisan “Visit Jogja”. Penulisan dan pengucapan Jogja akan diterima.

d. Yang tidak berterima atau aneh: Yogja, Jogya.

Tulisan ini terkesan seperti tulisan bingung. Bingung nulisnya mau Yogya atau Jogja, akhirnya ditulis Jogya,,,hahahaha

Sekian kelakar singkat saya, semoga bermanfaat

* I love peace, plurality, and harmony ^_^

*Yogyakarta, 22 Oktober 2011 jam 14:14

Anak-anak Bangsa

Standard

Mengajar adalah salah satu hal yang dulu sempat saya sangat tidak maui mengingat berbagai fenomena yang saya temukan di dalamnya. Namun, setelah menikmati perjalanan saya mengajar di tempat yang satu visi dengan saya, akhirnya saya menikmatinya.

“ sementara kita berusaha mengajari anak-anak kita pelajaran tentang hidup Anak-anak kita mengajari kita apa kehidupan itu.”Dalam mengajar, saya paling senang mengajar anak SD. Selain masih polos, se-menjengkelkannya kelas yang saya hadapi, pasti ada keriangan-keriangan di dalamnya. Selain itu mengajar anak SD membuat saya ‘merasa selalu muda’ karena banyak bermain dan tertawa. Apalagi membayangkan anak-anak muda bangsa yang sebagian tanggung jawabnya ada di pundak saya. Sangat menyenangkan.

Banyak sekali pengalaman yang saya hadapi selama mengajar dalam jam terbang yang masih sedikit ini. Salah satunya pengalaman saya berikut ini.

Suatu hari, seperti biasa saya mengajar Bahasa Inggris di kelas 1 SD. Di tengah pelajaran, beberapa murid saya bertengkar.

“Ada dong, masa ga ada!”

“Nggak Tuhan tu nggak ada ya…”

“Ada.”

“Nggak ada, Tuhannya orang Hindu tu nggak ada!”

Mendengar itu saya mendekati mereka dan menegur, “Eh…ada apa ini?”

Mereka tampak tidak memperhatikan dan masih bertengkar.

“Tuhannya orang Hindu tu nggak ada. Iya kan Miss? Huu…apa kamu tu makanannya babi.”

“Ada dong masa gak ada! Tuhannya orang Islam aja ada.”

“Apa kamu tu dasar Hindu.”

Pertengkaran terus terjadi dan murid yang Islam mungkin merasa akan terbela karena saya juga Islam. Akhirnya pertengkaran berhenti setelah saya mengatakan, “Hanafi, kamu kan Islam. Ingat ya dalam Islam tidak diajarkan mencela orang lain. Itu namanya sombong. Iya kan?”

Saat pulang sekolah, kedua anak itu kebetulan sama-sama belum dijemput. Kate, anak yang beragama Hindu sempat bilang ke saya kalau dia lapar. Akhirnya saya membelikan satu roti untuk mereka berdua. Saya bagi dua rotinya, lalu saya berikan. “Dah, sama ya? Ini buat kamu, ini buat kamu.”

Keduanya duduk dengan biasa saja, tanpa terlihat bahwa mereka baru saja saling bertengkar seru. Keduanya saling bercerita tentang kehidupannya. Di tengah perbincangan itu, saya ingatkan kepada Hanafi untuk tidak terbiasa mengejek teman.

Setelah Hanafi pulang, Kate berkata pada saya, “Miss tadi tu Anjeli nunjuk-nunjuk. Kan nggak boleh ya Miss, kata Mamaku nggak boleh nunjuk-nunjuk.”

“Nunjuk apa, Kate?”

“Itu…tadi kan dia mau nunjukkin itu adiknya Eky gitu trus dia nunjuk-nunjuk, kan ga boleh nunjuk-nunjuk. Di Islam kan juga ga boleh nunjuk-nunjuk ya Miss.” katanya.

Oalah, itu to masalahnya… Kasihan juga Kate ini sering sekali bermaksud baik dan melakukan aturan/perkataan orangtuanya, tapi justru terkadang dijauhi anak-anak lain yang tidak suka ditegur olehnya.

“Kate, yang tidak boleh itu kalau menunjuk-nunjuk dengan kasar atau menunjuk-nunjuk yang jahat, misal ketika marah atau bertengkar, terutama menunjuk ke wajah. Tapi kalau menunjuk ke arah benda, misal mau ngasih tau sesuatu yang jauh, nggak papa…”

Kate tampak agak kaget, mungkin baru menyadari kesalahannya memahami pesan Mama di rumah. Lalu kemudian dia tersenyum. Tidak lama kemudian Mama tercinta yang ditunggu Kate pulang kuliah dan menjemput anaknya :)

Tuhan, beri saya kekuatan dan kemampuan, dada yang lapang, pikiran yang luas dalam membimbing anak-anak bangsa tercinta…