Category Archives: education

Misi Kecil dari Kelas si Kecil

Standard

 

Kaya biasanya, hari ini jadwal mengajar di B*mijo. Cerita hari ini tentang Bayu, murid saya yang mungkin agak special.

Sudah beberapa pertemuan dia nggak masuk. Terakhir masuk, dia sakit gigi. Hm, jujur anak ini agak merepotkan saya..tapi bukan merepotkan dalam arti menjengkelkan. Dia membuat saya penasaran, ada apa yah dengan hidupnya? J

#Pertama kali saya ketemu sama Bayu, saya lihat anaknya biasa-biasa saja. Aktif, rame, ribut, lari-larian, naik ke meja sama seperti anak-anak cowok yang lain. Dan seperti anak yang lain pula, dia suka mencari perhatian saya. Bukan dengan cara manja, tapi dengan menunjukkan kalau ‘Dia anak baik.”

Saya masih ingat, dia selalu mengambil potongan-potongan kapur, lalu menyerahkannya pada saya. Berulang-ulang. Mengganggu sih, kaya orang tukang pungut kapur aja. Tapi namanya anak-anak, mereka melakukannya dengan tulus dan mengharap kita meresponnya. So, I take the chalk from his hand, say thank you, then take the chalk on the chalk box. Dan tindakan ini membuat dia senang, namun semakin semangat memunguti kapur buat saya. *Bingung deh* 😀

Di pertemuan kedua, saya mulai melihat ‘sesuatu’nya si Bayu ini. Selain suka mencari perhatian, dia juga sepertinya lambat belajar. Ketika mencatat, dia sibuk bertanya terus. Awalnya saya pikir ini cara dia untuk memancing perhatian saya. Tapi setelah berkali-kali bertanya *hampir tiap 1huruf maju, tanya, nulis, maju lagi, …*, akhirnya saya dekati dia dan melihat pekerjaannya. O my Godness, teman-temannya sudah hampir selesai dan dia baru dapat satu kata -__-

Ketika diajak ngomong, Bayu juga seperti kesusahan mengungkapkan perasaan atau pemikirannya. Jawabnya lama, kadang tidak dijawab. Saya sempat mengira, apa ada kesulitan bahasa? Hm..nggak juga, bahasa Indonesia dia bagus. Apa dia lambat bicara *terkadang mempengaruhi daya cerna otak*? Hm..bicaranya juga bagus. So what makes him like this?? Nggak ngerti sayah.. -_-

“Apakah budaya di keluarganya yang membuat dia kesulitan mengungkapkan perasaan?” hm..saya belum tau.

Yang lebih mengagetkan lagi, ketika saya duduk di meja saya..dia datang mendekati dan menunjukkan jarinya sambil dimain-mainkan. Awalnya saya pikir itu kelingking, tapi tiba-tiba saya agak mual. Wait! What’s that?? Saya perhatikan lagi jarinya, normal…lima! Lalu yang tadi?

Ternyata, Bayu ini punya jadi keenam. Jadi di samping jempolnya, ada tulang semacam jari yang tidak berkembang, sangat kecil, yang tumbuh. Saya mau bertanya apa yang terjadi sama jari Bayu, dan apakah sakit…tapi melihat Bayu memainkannya sambil tertawa-tawa, saya pikir dia pasti baik-baik saja *tidak sakit secara fisik*. Apalagi menanyakan itu termasuk hal yang sensitif, mungkin tidak saat ini.

Sejak itu, saya mulai memperhatikan Bayu. Bukan karena kasihan, tapi rasa penasaran dan keingintahuan saya. Ada sesuatu yang menghambat pembelajaran karena hal ini, dan dia butuh perhatian khusus, tapi perhatian seperti apa? Saya perlu tau lebih banyak tentang dia dan apa yang dia butuhkan.

#Bayu ini, secara fisik lebih kecil dibanding anak-anak yang lain. Badannya pendek, kurus, suaranya juga kecil. Nggak tau kenapa, tapi Bayu ini sepertinya menikmati aktivitasnya sendiri. Terkadang dia tidak menghiraukan sama sekali ketika saya panggil, atau hanya menengok kemudian sibuk lagi dengan aktivitasnya. Saya sering kali harus mengulang pertanyaan 3-4-5 kali dan tetap tidak mendapat jawaban darinya, hingga saya berpikir…dia tidak menangkap pertanyaan saya, dia tidak tau jawabannya, atau kenapa???

Karena fisiknya yang kecil, buat saya, dia nampak tidak sehat. “Kayanya ini tipe anak yang gampang sakit.” batin saya. Anak ini gampang sekali berkeringat, lebih dari anak-anak yang lain. Sampai suatu ketika, di pertemuan awal kami, saya pernah minta dia ke kamar mandi untuk mencuci muka karena mukanya terlihat kotor *seperti habis main tanah*. Padahal itu hanya karena keringat + tangan dia yang kotor.

#Betul saja, di pertemuan entah ke berapa, dia sakit. Katanya dia sakit gigi. Ketika saya mengajar, dia mendatangi saya dan bilang kalau sakit gigi. Saya bilang sama dia untuk ke ruang guru, akan saya antar, tapi dia tidak mau. Ke UKS, dia juga tidak mau. Hm…gimana coba?

Akhirnya saya melanjutkan pelajaran melihat anak-anak lain sudah mulai agak ribut. Tidak berapa lama, Bayu menghampiri saya lagi dan bilang giginya sakit. Saya kembali menawarkan agar dia ke ruang guru agar diantar pulang, dia tidak mau. Ke UKS? Tidak mau.

Saya: “Kalau gitu ditahan ya Bayu ya? Kuat nggak?”

Bayu: geleng-geleng

Saya: “Hm..ya udah Bayu pulang aja yah? Nggak papa kok, besok lihat catatan temannya aja. Ya?”

Bayu: geleng-geleng

Aduh pusing juga lo, bayangin aja..mau ngelanjutin pelajaran gak bisa, mengingat dia di kelas diam saja seperti menangis, lalu terus mencari perhatian saya. Dia diminta pulang juga nggak mau. Diminta nahan sakitnya nggak kuat. Hooo musti gimana ini sayah? *bingung mode: ON*

Akhirnya saya beri tugas untuk dikerjakan anak-anak lain, lalu sembari menunggu mereka selesai, saya bawa Bayu ke UKS. Untungnya mau. Tapi malah UKS kosong ga ada yang jaga! Hufh..akhirnya saya ke ruang guru dan bertemu seorang guru laki-laki *belum kenal*.

Saya: “Bapak maaf, ini ada anak yang sakit..tapi nda mau diminta pulang. Gimana ya pak?”

Bapak guru: “Oh siapa Mbak?”

Saya: Ini pak, Bayu.

Bapak guru: Oh, sakit lagi Bayu?

Dan perbincangan berlanjut. Ternyata bener Bayu sering sakit. Hmm..bingung euy. Udah dibujuk pak Guru pun nggak mau pulang dia.

Nggak berapa lama, Ayahnya si Bayu ini datang. Beuh! Ayahnya lembut banget orangnya euy! Suka sayah *suka sama sikapnya sebagai seorang Ayah* Tapi dasar si Bayu, dia tetep g mau diajak pulang. Ya sudah lah, dia masuk lagi di kelas saya, sambil saya bilang “Ya udah Bayu di kelas aja, tapi jangan nangis ya, ditahan dulu sakitnya, bentar lagi kita pulang yah.” *saya tidak punya solusi lain*

Akhirnya tidak lama, setelah memastikan tugas selesai, kelas saya pulangkan. Bayu juga pulang.

#Nah, hari ini ada cerita lagi. Bayu rebutan mainan sama Bobby. Bobby ini anak Chinese, suka ribut, lucu dan lincah.

Bayu dari tadi ribut dengan mainannya *sebangsa terompet*. Agak mengganggu sih, tapi itulah dia, yang hanya sibuk dengan aktivitas yang disukainya. Mendadak pertengkaran kecil terjadi, ketika Bobby ingin merebut mainan Bayu. Mereka tarik-tarikan. Hfh..saya yakin nih ujung2nya MEWEK! >.<

Saya: Bobby, jangan gitu dong..

Bobby: ini tu bukan punya Bayu miss

Saya: Punya siapa itu?

Bobby: ini tadinya punyaku…sini (sambil menarik paksa mainannya)

Bayu tetap menahan tanpa bilang apa-apa, tapi ekspresi mukanya..hm..saya tau ada masalah!

Akhirnya Bobby ngotot, Bayu juga walau tanpa kata-kata. Bayu tau itu bukan mainannya, tapi dia nggak mau lepas, sedangkan Bobby juga nggak mau meminjamkan. Saya bilang, “Sudah sini Miss Handa bawa aja, jangan mainan di kelas.” Tetap tidak ada reaksi. Si Bobby, secara badannya lebih gede, menang.

Nah habis itu insiden terjadi. Bayu ini, seperti sudah saya perkirakan…marah. Dia menangis *dengan teriakannya yang melengking* lalu berbuat sesukanya. Ada tongkat besi dia ambil, mau dibuat mukul Bobby. Lalu saya ambil dan saya amankan. Lalu dia ambil kayu, saya ambil lagi. ARGH!

Sekitar 10 menit, setelah saya menenangkan kelas, semuanya selesai. Tapi sedikit-sedikit Bayu mengamuk. Oh my God. Salah satu misi saya di kelas ini: I want to know about you, Bayu!

Ada apa sama dirimu dengan kekurangan kamu itu? Dan apa yang terjadi dengan hidupmu? Dan bagaimana caranya saya bisa membantu kamu belajar dengan baik di kelas saya? Cara apa pula yang paling tepat buat saya untuk memotivasi kamu agar tetap semangat walau kamu punya kekurangan, dan membuat kamu tidak ketinggalan hanya karena kekurangan kamu itu? This is my mission, special for you, Bayu. Though maybe you didn’t feel it, though maybe you will forget me as a little piece of your life, I really wanna do this mission, special for you, Bayu.

 

*jadi pengin belajar psikologi lagi*

Yogyakarta, 31 Oktober 2011 jam 13:37

Gemas Luar Biasa di Kelas Saya Hari Ini

Standard

Jam 10.45 jadwal saya mengajar di SD Bumijo. Saya melaju dan tiba di tempat tepat ketika anak-anak sudah hendak pulang. Beberapa anak yang melihat saya berjalan menuju kelas langsung berlari dan menarik tangan saya. Saya tidak ada firasat apa-apa karena biasanya juga seperti ini dan saya menikmati kemanjaan mereka 😀

Tapi, tidak sampai 5 menit kemudian suasana berubah.

“Miss, nanti lesnya di kelas B aja. Gantian.”

Belum sempat saya jawab, anak-anak kelas 1A menarik tangan saya ke kelas mereka. Terjadilah insiden tarik-menarik selama beberapa menit. Eh eh, bentar dong…Haduh! 😀

Melihat jumlah anak kelas B yang lebih banyak *dan semuanya kompak minta pindah dengan opsi yang lumayan adil: kalau Senin di kelas A, Rabu di kelas B*, akhirnya saya masuk ke kelas B. Ehhh ternyata anak kelas A nggak mau sama sekali masuk ke kelas B. Wadoh, bahaya tingkat 1. Sambil menenangkan anak kelas B yang sepertinya hari ini ngelunjak, bersikap sangat manja, merajuk, -dan mungkin merasa dimenangkan sama saya, saya pun pergi ke kelas A untuk membujuk anak-anak masuk ke kelas B.

Bobby: *dengan manja* Aa..nggak mau miss. Di sini aja. Disini lebih luas.

Saya: Kan sama luasnya, Bobby..Kita pindah yuk. Kan enak kalo kelasnya ganti-ganti, biar nggak bosen. Yah?

Vanda + Bobby: Aa..nggak mau. Pokoknya disini Miss..Miss Handa jangan kesana, kalau Miss ke sana kita pulang aja.

Valent: Iya Miss, nanti kita pulang lo.

Aduh, kalau dituruti debat bisa habis waktu ngajar saya. Padahal, pagi ini saya sudah disms Ibu Manajer Bimbel kalau harus mengajar di SD Depok 1. Jadi hari ini rencananya jam mengajar di Bumijo dikurangi dulu untuk mengajar promo, baru diganti di pertemuan lain.

Hm, saya sudah bilang sih, agak nggak enak kalau harus mengurangi jam ngajarnya, karena kesannya jadi buru-buru. Tapi kesepakatan sama Ibu Manajer sih nggak papa, hanya untuk beberapa pertemuan selama promo. Toh hanya untuk beberapa pertemuan dan nanti bisa diganti tambahan waktunya. Hoaaa…tapi ini bener deh di luar rencana T.T

Nah lanjutan critanya nih, anak-anak bener-bener nggak mau digabung. Awalnya rencana saya, saya ngajar di kelas B. Pasti anak-anak kelas A nanti akhirnya pelan-pelan mau pindah.  Tapi sampai saya mengajar, mereka tetep nggak mau pindah. Untungnya, mereka juga nggak mau pulang, hihi…

Jadi insiden selanjutnya, mereka berkali-kali membuka pintu, saya ajak masuk tapi nggak mau, lalu merajuk-rajuk:

“Miiiissss… pindah toooo… Ya udah kalo nggak mau!”

BANGGG!! Pintu dibanting… -_______-

Saya ngajar lagi, mereka ngintip lagi…merajuk-rajuk lagi:

“Miissss…ayo to miissss… Cepet too… Ya udah aku pulang lo.”

BANGGGG!! Pintu dibanting lagi… -_______-

“Missss…cepet too… Miss Handa tuuuu… Ya udah beneran lo kita pulang.”

BANGGG!! Pintu dibanting lagi.. -____-

Begitu sampai beberapa kali, lalu:

“Woo,,, pintunya rusak toooo…kamu sih dari tadi banting-banting teruuusss…”

Saya: *dalam hati* Aduh, tak ciumin jugaaaa kalian semua nih! Gemes deh aku, wahahaha.

Hmm.. -________-

 

Insiden selanjutnya lagi, salah seorang murid saya membuka pintu, masuk dan meninggalkan kertas sambil bilang, “Miss, dibaca ya.”

MISS AKUTIDAK LES

*hahaha, cikiciuuuu… Hadoh beneran deh gemeeeeeessss

Akhirnya setelah selesai materi saya berikan, saya kasih tugas ke anak-anak kelas B. Lalu saya pindah ke kelas A dan menjelaskan dari awal. Anak-anak kelas A meringis aja melihat saya masuk kelas. Dasar! Wkwkwkw

Yah beginilah endingnya..saya jadi estafet di dua kelas -_____-

Ketika sedang menjelaskan materi di kelas A, muncullah surat cinta dari anak-anak kelas B. Kertas-kertas itu hanya saya selipkan di antara absensi lalu saya melanjutkan mengajar lagi.

Kegiatan mengajar selanjutnya relatif lancar walau saya harus mondar-mandir dari kelas yang satu ke yang lain. Yang bikin dongkol, tiba-tiba seorang ibu membuka pintu dan bertanya, “Lhoh, kelasnya dibuat sendiri-sendiri to, Mbak?”

“Iya Bu, hanya hari ini saja kok. Anak-anak nggak mau digabung.” jawab saya.

“Huh, bikin repot aja mbak.” Lalu hening, lalu, “Masalahnya kan waktunya jadi terbuang juga.”

Hm.. Sepertinya sih ibu itu yang tugasnya membersihkan kelas setelah pelajaran selesai. Dari minggu kemarin mau kelasnya normal gak normal, ngomel mulu. Maaf yah ibuk, keluhan ibuk teh cuman mampir dengar di telinga sayah. Saya mau ngajar, nggak punya waktu buat ngomel dan nggak pengin mood saya rusak gara-gara ngeliat ekspresi jutek ibukkk. Hufh…

Beruntungnya, orang tua wali yang pada nunggu di luar bisa memahami kondisinya. Semoga deh sampe rumah mereka bantu kasih penjelasan ke anak-anaknya biar cinta damai dan mau gabung lagi 😀

Hm…Alhamdulillah, walau kerja ekstra tapi hasilnya memuaskan. Anak-anak cowok yang biasanya gak mau nyatet hari ini nyatet. Tugas juga dikerjakan. Anak-anak juga pulang dengan ceria, nggak ada yang ngambek. Waktu anak-anak kelas B mau pulang, saya meninggalkan pesan agar tragedi tidak berkepanjangan. Saya bilang, “Besok Senin kita di kelas A aja ya.”

Ada beberapa anak yang protes sih, tapi akhirnya setelah beberapa kali diulang, mereka bilang, “Iya, Miss.” dengan wajah ceria. Aduh senengnya bu guru…hehehe

Waktu udah setengah jam berlalu, saya siap mengajak mereka pulang. Tapi anak-anak itu merengek, “Jangan Miss, nggak mau. Nanti aja. Sampai sore nggak papa.”

Haduh, kelas saya yang lain gimana? Haduh, dilema..memang saya belum kasih apa-apa, harusnya saya kasih materi kan sampai latihan pemakaian bahasanyaL

“Miss, nanti aja..nggak mau pulang. Les lagi aja. Nggak mau pulang sekarang…” Chacha merajuk, yang lain ikut juga.

Okey, ini hak kalian dan kewajiban saya.. -____-

Nah setelah mereka pulang, langsung deh tancap gas..melesat membabi buta ke SD Depok 1. Panas uy, mana lampu merahnya lama.

Di jalan kepikiiiiir aja, tadi gara-gara insiden itu, nggak jadi ngurangin jam pelajaran. Mungkin sampai di Depok 1 anak-anak udah pulang..tapi mau gimana lagi, saya nggak mungkin mengutamakan kelas promo daripada kelas yang sudah berjalan, yang memang jadi tanggungan saya selama satu periode ini. Apalagi melihat anak-anak punya semangat buat belajar tanpa harus saya mengejar-ngejar mereka. Kalau peristiwa itu terjadi di sekolah lain, mungkin anak-anak kelas A-nya sudah pada pulang. Nggak tega juga euy, melihat mereka sampai harus bersitegang dengan teman-temannya, lalu masih saya tambah dengan tidak memberikan materi hingga selesai. Hm..saya pikir saya sudah mengambil langkah yang tepat dari pilihan tidak enak lainnya. L

Ah pokoknya senang sekali melihat mereka tetap bersemangat walau merajuk-rajuk manja bukan main. Hehe..gemes 😀

Sampai di Depok 1, anak-anak benar-benar sudah pulang. Sorry, dunno what to say..tapi dua-duanya tanggung jawab L Kalau demi promo saya tidak memberikan yang maksimal untuk kelas reguler saya, kayaknya lebih tidak bertanggung jawab daripada yang terjadi hari ini.

Hhh sudahlah…akhirnya saya pulang setelah ngobrol dengan guru baru yang disarankan untuk saya temui buat share. Antara kecewa dan puas, merasa bersalah dan bertanggung jawab. This is my day.

#Oyah waktu mau pulang, Gita, salah seorang murid bilang, “Miss Handa, itu suratnya dibuang aja. Sini tak buangin.”

Saya: Udah nggak usah Gita, nggak papa kok biar di situ ajahJ

Gita: Kenapa nggak dibuang, Miss?

Saya: Mau Miss Handa simpan buat kenang-kenangan *sambil meringis*

Gita: *ikut meringis*

Wkwkwkkwkw…..:P

Sampai di rumah, saya buka surat cinta murid-murid saya. Nih isinya:

MISS AKU NGGAK MAU LES LAGI MISS NGGAK PERCAYA SAMA AKU (1)

MISS AKU TIDAK MAU LES LAGI TITIK MISS NGGAK PERCAYA SAMA AKU (2)

MISS JANGAN KE KELAS A KALAU NGGAK AKU PULANG

MISS HANDA MBOK KE SINI KE SATU B NANTI AKU PULANG LO

(dan lain-lain)

Hahaha…*Dasar korban sinetron, kwkwkw* Alhamdulillah walaupun surat2nya begitu tapi mereka tetap mau belajar sampai selesai. Makasih yah murid-murid sayah. Hari ini saya keluar kelas kalian dengan rasa bangga melihat semangat kalian. From the deepest of my heart, I wish you for the best future

Yogyakarta, 26 Oktober 2011 jam 14:47

Anak-anak Bangsa

Standard

Mengajar adalah salah satu hal yang dulu sempat saya sangat tidak maui mengingat berbagai fenomena yang saya temukan di dalamnya. Namun, setelah menikmati perjalanan saya mengajar di tempat yang satu visi dengan saya, akhirnya saya menikmatinya.

“ sementara kita berusaha mengajari anak-anak kita pelajaran tentang hidup Anak-anak kita mengajari kita apa kehidupan itu.”Dalam mengajar, saya paling senang mengajar anak SD. Selain masih polos, se-menjengkelkannya kelas yang saya hadapi, pasti ada keriangan-keriangan di dalamnya. Selain itu mengajar anak SD membuat saya ‘merasa selalu muda’ karena banyak bermain dan tertawa. Apalagi membayangkan anak-anak muda bangsa yang sebagian tanggung jawabnya ada di pundak saya. Sangat menyenangkan.

Banyak sekali pengalaman yang saya hadapi selama mengajar dalam jam terbang yang masih sedikit ini. Salah satunya pengalaman saya berikut ini.

Suatu hari, seperti biasa saya mengajar Bahasa Inggris di kelas 1 SD. Di tengah pelajaran, beberapa murid saya bertengkar.

“Ada dong, masa ga ada!”

“Nggak Tuhan tu nggak ada ya…”

“Ada.”

“Nggak ada, Tuhannya orang Hindu tu nggak ada!”

Mendengar itu saya mendekati mereka dan menegur, “Eh…ada apa ini?”

Mereka tampak tidak memperhatikan dan masih bertengkar.

“Tuhannya orang Hindu tu nggak ada. Iya kan Miss? Huu…apa kamu tu makanannya babi.”

“Ada dong masa gak ada! Tuhannya orang Islam aja ada.”

“Apa kamu tu dasar Hindu.”

Pertengkaran terus terjadi dan murid yang Islam mungkin merasa akan terbela karena saya juga Islam. Akhirnya pertengkaran berhenti setelah saya mengatakan, “Hanafi, kamu kan Islam. Ingat ya dalam Islam tidak diajarkan mencela orang lain. Itu namanya sombong. Iya kan?”

Saat pulang sekolah, kedua anak itu kebetulan sama-sama belum dijemput. Kate, anak yang beragama Hindu sempat bilang ke saya kalau dia lapar. Akhirnya saya membelikan satu roti untuk mereka berdua. Saya bagi dua rotinya, lalu saya berikan. “Dah, sama ya? Ini buat kamu, ini buat kamu.”

Keduanya duduk dengan biasa saja, tanpa terlihat bahwa mereka baru saja saling bertengkar seru. Keduanya saling bercerita tentang kehidupannya. Di tengah perbincangan itu, saya ingatkan kepada Hanafi untuk tidak terbiasa mengejek teman.

Setelah Hanafi pulang, Kate berkata pada saya, “Miss tadi tu Anjeli nunjuk-nunjuk. Kan nggak boleh ya Miss, kata Mamaku nggak boleh nunjuk-nunjuk.”

“Nunjuk apa, Kate?”

“Itu…tadi kan dia mau nunjukkin itu adiknya Eky gitu trus dia nunjuk-nunjuk, kan ga boleh nunjuk-nunjuk. Di Islam kan juga ga boleh nunjuk-nunjuk ya Miss.” katanya.

Oalah, itu to masalahnya… Kasihan juga Kate ini sering sekali bermaksud baik dan melakukan aturan/perkataan orangtuanya, tapi justru terkadang dijauhi anak-anak lain yang tidak suka ditegur olehnya.

“Kate, yang tidak boleh itu kalau menunjuk-nunjuk dengan kasar atau menunjuk-nunjuk yang jahat, misal ketika marah atau bertengkar, terutama menunjuk ke wajah. Tapi kalau menunjuk ke arah benda, misal mau ngasih tau sesuatu yang jauh, nggak papa…”

Kate tampak agak kaget, mungkin baru menyadari kesalahannya memahami pesan Mama di rumah. Lalu kemudian dia tersenyum. Tidak lama kemudian Mama tercinta yang ditunggu Kate pulang kuliah dan menjemput anaknya :)

Tuhan, beri saya kekuatan dan kemampuan, dada yang lapang, pikiran yang luas dalam membimbing anak-anak bangsa tercinta…

Reward untuk Siswa

Standard

Sebagai pengajar, terkadang saya harus menggantikan teman yang berhalangan mengajar. Sesekali saya juga melakukan submit (istilah khusus untuk permohonan pendampingan, terdiri dari kegiatan melihat pembelajaran/cara mengajar, lalu mengajar di kelas itu dan mendapat refleksi dari guru yang disubmit). Saya sangat menyukai kegiatan submit ini. Ini bisa menjadi ajang refreshing dari kelas asli pada tahap jemu atau kehabisan ide. Selama submit, saya bisa melihat siswa yang berbeda, sekolah yang berbeda, suasana kelas yang berbeda, dan cara mengajar yang berbeda. Selama submit, belum tentu guru yang saya submit mengajar lebih baik dari yang saya lakukan (dengan penilaian subjektif saya). Walaupun begitu, hampir tidak mungkin saya tidak ‘belajar sesuatu’ dari kegiatan ini. Itulah yang membuat saya sangat menyukai kegiatan ini. Selalu ada hal baru dan semangat baru setelahnya.

Ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran dalam kegiatan ini. Dari beberapa kali submit dan menggantikan teman, saya belajar tentang reward.

Dalam salah satu submit saya, saya melihat guru memberikan permen kepada siswa. Saya agak kaget juga, karena ada reward fisik yang diberikan. Paling tidak, ada pengorbanan materi dari guru. Sayangnya, ketika itu saya perhatikan pemberian reward tidak dijadikan sebagai sarana pembelajaran. Permen awalnya (dan sepertinya biasanya juga begitu) akan dibagikan begitu saja.

Beruntung buat saya karena guru itu meminta saya membantu membagikan permen. Akhirnya, saya memberi syarat untuk siswa yang ingin mendapat permen, untuk menyebutkan salah satu nama tempat (materi saat itu) dalam bahasa Inggris.

Di kelas yang lain, saya menemukan hal yang hampir sama. Ketika menggantikan teman mengajar, seorang anak berkata, “Miss, mbok kadang ngasih makanan biar kaya Miss XX itu lho..sering ngasih makanan.”

Saya sendiri punya pengalaman tentang hal ini ketika melakukan micro-teaching pra – PPL di kampus. Ketika saya melakukan simulasi mengajar, pelajaran hampir selesai. Waktu saya membuka tas, saya ingat bahwa saya membawa sebuah jeruk di tas. Akhirnya saya tiba-tiba berimprovisasi untuk memberikan hadiah pada siswa dengan nilai tertinggi. Di akhir simulasi, dosen berkomentar, “Kalau saya pribadi tidak suka, bahkan sangat tidak menganjurkan untuk memberi hadiah atau reward dalam bentuk fisik ke siswa, apalagi siswa SD ya. Kalau sudah SMA atau kuliah silakan, tapi kalau SD jangan. Itu sama sekali tidak bagus. Karena takutnya itu akan menjadi motivasi mereka.”

Saya memahami maksud dosen untuk tidak ‘membiasakan’ memberi reward fisik pada siswa. Tapi mengatakan siswa SD ‘tidak boleh’ diberi reward fisik sama sekali juga saya kurang setuju ketika itu, mengingat ketika jaman TPA dulu, saya menjadi lebih rajin karena ada reward fisik yang diberikan, tapi reward itu bukan satu-satunya motivasi saya.

Sekarang, setelah menemukan kasus tersebut, saya menjadi lebih paham bagaimana fatalnya reward fisik ini jika diberikan dengan tidak tepat. Bagi saya sendiri, reward fisik tetap boleh diberikan, namun dengan tidak melupakan adanya proses pembelajaran. Artinya guru harus meyakinkan bahwa dengan pemberian reward itu siswa akan lebih bersemangat dalam belajar, bukan dalam ‘meminta reward’. Kedua, reward fisik baiknya tidak terlalu sering diberikan apalagi sampai menjadi ‘tagihan’ siswa. Buat guru dengan kocek pas-pasan seperti saya tentu tidak baik. Apalagi jika pembiasaan ini berpengaruh pada guru lain yang mengajar ex-kelas kita.

Sejauh ini saya belum pernah memberikan reward fisik untuk kelas saya. Reward fisik biasanya saya berikan tidak untuk keperluan mengajar di kelas, tapi sebagai pendukung tidak langsung, yaitu untuk mendekatkan siswa dengan guru secara pribadi di luar kelas. Dengan begitu siswa memahaminya sebagai wujud kepedulian dan kasih sayang, bukan sesuatu yang bisa ia tuntut atau sebuah kesenangan semata.

Selain itu, bagian yang saya sepakat dengan dosen saya adalah, reward nonfisik lebih bermakna dan dapat memberikan motivasi dengan kadar yang sama.

Kenapa Australia, Bukan Singapura?

Standard

Ketika mendaftar sebagai pengajar di sebuah bimbel, dalam tes tertulis saya ditanya apa rencana jangka panjang yang ingin Anda capai? Saya menjawab, ingin melanjutkan S2 di Australia atau Amerika untuk jurusan Bahasa Inggris atau Pendidikan Bahasa Inggris. Jika tidak bisa kuliah di luar negeri, saya ingin banting stir saja ke Jurusan Manajemen di tanah air. Yah, sedikit rencana gila kalau mengingat kondisi saya sekarang. Tapi toh impian tetap impian.

Saya ditanya, kenapa Australia..bukan negara lain, Singapura misalnya? Saya bilang, saya ingin belajar langsung di negara yang penduduknya benar-benar menggunakan bahasa Inggris berikut kebudayaannya. Bahasa Inggris di Singapura kan nggak pure English dan banyak aspek budaya yang mungkin berbeda.

Sebenarnya sih, saya hanya mau ‘dipaksa bertahan hidup’ di negara berbahasa Inggris saja. Soalnya belajar Bahasa Inggris di Indonesia yang saya jalani ini rasanya masih omdo. Banyak sisi bahasa yang tidak dapat kita pahami hanya dari ‘bahasa’nya saja. Aspek budaya tidak akan pernah lepas dari bahasa. So, kalau saya mau belajar Bahasa Inggris yang tidak setengah-setengah saya harus tetap berusaha dan percaya.

Ibarat sudah terjun ke arena, maka langkah terbaik adalah berperang.

Semoga Tuhan memudahkan langkah ke depan.