Category Archives: campus

Kenapa Australia, Bukan Singapura?

Standard

Ketika mendaftar sebagai pengajar di sebuah bimbel, dalam tes tertulis saya ditanya apa rencana jangka panjang yang ingin Anda capai? Saya menjawab, ingin melanjutkan S2 di Australia atau Amerika untuk jurusan Bahasa Inggris atau Pendidikan Bahasa Inggris. Jika tidak bisa kuliah di luar negeri, saya ingin banting stir saja ke Jurusan Manajemen di tanah air. Yah, sedikit rencana gila kalau mengingat kondisi saya sekarang. Tapi toh impian tetap impian.

Saya ditanya, kenapa Australia..bukan negara lain, Singapura misalnya? Saya bilang, saya ingin belajar langsung di negara yang penduduknya benar-benar menggunakan bahasa Inggris berikut kebudayaannya. Bahasa Inggris di Singapura kan nggak pure English dan banyak aspek budaya yang mungkin berbeda.

Sebenarnya sih, saya hanya mau ‘dipaksa bertahan hidup’ di negara berbahasa Inggris saja. Soalnya belajar Bahasa Inggris di Indonesia yang saya jalani ini rasanya masih omdo. Banyak sisi bahasa yang tidak dapat kita pahami hanya dari ‘bahasa’nya saja. Aspek budaya tidak akan pernah lepas dari bahasa. So, kalau saya mau belajar Bahasa Inggris yang tidak setengah-setengah saya harus tetap berusaha dan percaya.

Ibarat sudah terjun ke arena, maka langkah terbaik adalah berperang.

Semoga Tuhan memudahkan langkah ke depan.

Menunda

Standard

Skripsi tertunda, sepertinya ini masalah umum yang sering dialami mahasiswa, tidak terkecuali saya. Awal kuliah dulu, ketika saya memilih jurusan yang sekarang saya geluti (Pendidikan Bahasa Inggris), petugas pendaftaran waktu itu bilang ke orangtua saya, “Ini jurusannya udah terkenal ini pak, lama lulusnya.” Saya masih ingat betul, Guru Ekonomi saya ketika itu bilang, “3,5 tahun ya Nda? Ya? Harus yakin…pasti bisa!” Hadeu… salahnya saya apa ya ketika itu gak memutuskan untuk yakin? Gimana nggak, dosen-dosen saya aja konon g ada yang lulus 3,5 tahun.. Ketika awal semester dulu semuanya seakan sudah terencana. Semester 5 KKN sambil ambil data, semester 6 mengerjakan, semester 7 lulus…. But, the fact: Ketika semester 6, konon skripsi harus dikerjakan selama 1 tahun, tidak boleh lebih. Kalau lebih harus ganti judul, katanya. Aihhhh salah lagi percaya katanya katanya. Akhirnya semester 6 nggak jadi ambil judul. Semester 7 akhirnya saya ambil judul. Sudah fix…tapi ada masalah. Ketika itu tiba-tiba kondisi di sekolah tempat saya akan penelitian berubah drastis. Saya akhirnya nggak bergeming. Mangkrak lah skripsi selama setahun. Padahal untuk mengajukan judul baru harus nunggu semester 9. Akhirnya semester 9 saya ambil judul lagi. Sudah fix….tapi belum dikerjakan lagi. Setiap ketemu teman ditanya….”sudah skripsi belum?” “Sudah lulus belum?” Suatu hari Yangkung (Ayahnya guru saya) bilang, “Gimana skripsinya mbak handa?” Yah jawaban saya standar saja (memang ada jawaban lain ya? Bohong dong, hehe) Lalu kata beliau, “Mahasiswa itu harga dirinya di skripsi itu, jadi kalau skripsinya nggak diselesaikan? Mau dikatain nggak punya harga diri? Hayo…” 😀 Beberapa minggu yang lalu, artinya sudah berbulan-bulan dari waktu itu, saya bercengkerama lagi dengan Ibu Guru. Betapa sulitnya hanya untuk menentukan prioritas antara kerja dan skripsi. Masalahnya, skripsi itu tidak ada tuntutan di depan mata. Kalaupun ada, tidak benar-benar nampak. Dosen tidak menanyakan, orangtua jarang bertanya, yang lain juga tidak ‘mengena’ pertanyaannya. Beda dengan kerja yang tuntutannya di depan mata. Murid menuntut untuk datang tiap hari, orang tua siswa menuntut untuk memberi yang terbaik, lembaga menuntut untuk dipenuhi haknya, diri sendiri juga menuntut karena kebutuhan hidup. Nah ya…akhirnya jadilah tanpa disadari justru kerja jadi prioritas utama. Gimana caranya ya menjadikan skripsi ada di atas pekerjaan? Saya ingat (dan mungkin akan terus teringat kata guru saya), “kalau sesuatu itu ditunda, akan banyak masalah yang muncul. Jadi semakin lama kamu menunda, akan semakin banyak masalah yang mengikuti. Jadi cepat selesaikan ya, biar lebih lega.” Ya Tuhan, help me to fix this. Bless me, My Almighty… Gimme the best,,please..

Jurnalisme vs Kriminalisme

Standard

Masih terlintas di benak saya pada ‘salah satu’ cita-cita saya nantinya. Jurnalis. Banyak bayangan yang muncul kalo ngomongin jurnalis. Di mata saya sendiri, kerjaan ini penuh tantangan, penuh kreativitas, penuh keberanian,butuh wawasan, dan bebas!

Namun sudah jadi pandangan umum kalau jurnalis itu kerjanya berat. Ya toh? Sudah kerjaannya macam dokter, kapanpun calling harus siap tempur, siap lembur, siap adu deadline, siap adu lidah, adu otak…adu fisik… Duh!

Yang terakhir ini entah kenapa bisa terjadi yah? Gak habis pikir. #ganti topik

Setelah semingguan yang lalu ada berita tentang pengeroyokan wartawan oleh oknum pelajar SMA di tingkat nasional, beberapa hari kemudian santer juga berita adanya pengeroyokan jurnalis kampus oleh kelompok organisasi lain sebuah universitas di Yogyakarta.

Hal semacam ini nggak cuma terjadi sekali dua kali aja. Kalau kita search di google, akan banyak kasus serupa ditemukan. Di kampus sendiri hal ini sering banget terjadi. Gak habis pikir kenapa ya?

Logikanya, kemungkinan ada beberapa hal yang bikin ini terjadi. Pertama, kurangnya pemahaman masyarakat sama dunia jurnalisme. Kedua, udah membudayanya kekerasan. Ketiga, emang citra jurnalis dan media udah buruk di masyarakat.

Untuk yang pertama saya ambil kasus di dunia jurnalis kampus aja kali yah. Yang namanya LPM seringkali dikeluhkan oleh organisasi lain –walau banyak juga yang memuji dan berharap- sebagai lembaga yang terlalu banyak cingcong, banyakan protes, nggak bekerja sama, dll. Banyak LPM akhirnya tidak bisa membina hubungan baik dengan lembaga lain seperti BEM, DPM (Senat), dll karena kevokalannya. Di lain pihak, lembaga-lembaga lain seringkali kurang/tidak mengerti cara kerja media yang membuat mereka sering kelabakan ketika mendapati berita yang tak sedap.

Secara prosedural, berita tak sedap apalagi kalau memang menyalahi kaidah pemberitaan sangat mudah diatasi. Lembaga/perorangan yang bersangkutan bisa menyampaikan langsung lewat media yang bersangkutan. Kalau memang terjadi kesalahan dalam pemberitaan, media bisa melakukan ralat (seperti kesalahan penulisan nama orang, tempat, dll), permintaan maaf secara tertulis maupun lisan (kesalahan isi yang biasanya terkait pencemaran nama baik), maupun hak jawab.

Ada lagi yang sering dilupakan, yaitu membuat berita/ulasan tandingan melalui media yang dimiliki lembaga terkait. Biasanya LPM dan BEM atau DPM maupun HMJ sama-sama memiliki media. Sayangnya, fungsi media di tingkat lembaga non LPM seringkali hanya menjadi media pencitraan belaka. Fungsi ini bisa ditingkatkan (walaupun tetep aja pencitraan sih) ketika menghadapi pemberitaan miring dari media LPM.

Intinya, fungsi LPM dapat berjalan dengan baik, begitu juga lembaga lain. Bahkan dengan cara ini, persaingan media akan menjadi lebih sehat dan kehidupan intelektual kampus akan meningkat. Toh nantinya masyarakat (baca: mahasiswa) akan dapat mengambil sudut pandang tersendiri dari informasi yang mereka dapatkan.

Mengenai budaya kekerasan, nampaknya memang udah ‘jamannya banget’. Nggak solutif banget kalau segala hal diselesaikan dengan kekerasan. Saya juga masih nggak ngerti, kayanya saking hopelessnya atau gimana, kita terkadang suka ‘main potong tengah’. Kalau gak cocok main fisik, gak bisa dibicarakan main mogok, gak bisa dikompromikan main tutup mulut, gak didengar main demo… saya nggak menyalahkan pelaku-pelaku ini semua lo. Sekedar melihat fenomena yang ada. Kalau mau dibahas tentu akan panjang cerita dan terjadi salah-menyalahkan jg J

Nah yang ketiga, soal image buruk jurnalis dan media di kaca masyarakat. Masih nggak ngerti juga nih #nggakngertimulusih#, tapi pada kenyataannya..masih banyak komentar miring yang timbul seputar keberadaan media. Ada yang menilai media sebagai pengadu domba, sebagai pihak yang sok kuasa, sebagai ‘mesin pencari uang’ semata, sebagai alat politik, dll. Bahkan dalam kasus pengeroyokan wartawan, seringkali wartawan disalahkan sebagai pihak yang sok pahlawan. Nah loh! Udah jatuh tertimpa tangga. Untuk masalah terakhir ini, semuanya kembali ke media. Tujuan yang baik dan dilakukan dengan cara yang benar, insya Allah akan membuahkan hasil maksimal.  J

#Duniakecil, 23092011:0243

Ditulis oleh Sri Handayani sebagai dukungan untuk teman2 persma atas kasus pengeroyokan jurnalis kampus di UST, Yogyakarta.Saksi Sejarah