Category Archives: books

Books in My Cupboard: Kenangan Gempa Jogja 27/5

Standard

Aku menulis catatan ini di sela kegiatan membongkar dan (kalau selesai) merapikan kembali kamarku. Seperti biasa, aku selalu kebingungan harus menaruh buku-bukuku di mana. Pada kegiatan hari ini aku memutuskan untuk menyimpan buku-buku yang dulunya kuletakkan di rak, ke dalam lemari pakaianku. Ketika memutuskan hal ini, aku teringat satu memori yang buatku cukup berkesan tentang peristiwa pada saat Gempa Yogya 27 Mei 2006 lalu.

Aku mempunyai impian (yang ‘mungkin’ banyak temanku sudah tahu) untuk mempunyai perpustakaan pribadi/keluarga di rumah. Impian ini sudah ada sejak SD, dan tak pernah surut hingga aku memasuki bangku kuliah (sejarahnya panjang). Diawali sejak SMK, ketika aku beberapa kali mendapatkan uang tidak dari pemberian orang tua, akhirnya aku mulai sering bepergian ke pameran buku bersama teman-teman. Di situlah awalnya aku mulai memantapkan niat untuk memulai mewujudkan impianku.
Langkah pertama kulakukan dengan mengumpulkan semua buku yang ada di rumah, termasuk milik orang tua dan kakak-kakakku. Tidak banyak, hanya belasan, karena memang keluarga tidak mempunyai banyak buku. Buku-buku itu kusampuli dan kutata di antara jajaran meja belajar sambil membayangkan lebih banyak buku dan, kutata di antara jajaran meja belajar sambil membayangkan lebih banyak buku dan, “Someday there will be more and more and many many books here.”

Dalam beberapa tahun, akhirnya aku berhasil memiliki semakin banyak buku, baik yang kubeli sendiri maupun pemberian dari teman atau guruku. Aku mulai bingung menaruh buku-buku tersebut. Bukan karena banyaknya buku yang kumiliki (karena memang masih sedikit), tapi karena tidak adanya ruang dan peralatan yang cukup di kamarku, dan tidak akan ada yang mau merawat buku-buku itu jika kuletakkan di luar kamar. Akhirnya untuk membuat kamar ‘terlihat’ tetap luas dan tidak memusingkan, aku pun memutuskan untuk ‘menyembunyikan’ (baca: menyimpan) buku-buku itu di lemari pakaian. Jadi, di mana pakaianku? Ah, aku juga lupa dulu kutaruh di mana.

Pada saat terjadi Gempa ‘yang dulu itu’, malamnya aku sedang belajar untuk menghadapi SPMB. Soal-soal masih ada di meja belajar ketika aku beranjak tidur dengan lelap. Paginya (alhamdulillah aku lagi rajin), aku bangun pagi dan pergi ke mushola untuk sholat subuh, lalu pulangnya hendak mencuci baju. Tiba-tiba seekor kucing menjatuhkan tumpukan gelas yang belum sempat dicuci, sehingga semua anggota keluarga bangun untuk memeriksanya (biasanya pada molor aja tuh, termasuk aku).

Ketika selesai mencuci, aku hendak menjemur pakaianku di jemuran milik pamanku (aku lupa kenapa nggak jemur di jemuran sendiri). Ketika itu pula gempa datang. Aku panik karena baru merasakan pertama kali gempa yang sehebat itu, tapi masih bingung apa yang terjadi. Setelah aku melihat rumah pamanku (yang kurang lebih hanya satu meter dari tempatku berdiri) ambruk habis di depanku, aku baru sadar ini gempa ‘luar biasa’. Aku segera berlari hendak masuk rumah, namun melihat kakakku sudah menarik-narik nenekku yang hampir kehabisan nafas. But, at least, semua anggota keluarga selamat.

Rumahku sudah sangat aneh jadinya. Tembok kanan miring ke kanan, kiri miring ke kiri, depan maju ke depan, belakang mundur ke belakang. Kami semua hampir shock dan sempat juga terhasut isu tsunami. Setelah pulang dari ‘bepergian berpisah-pisahan’ gara-gara isu tersebut, kami baru mulai memeriksa rumah kami dari luar saja. Kamarku adalah bagian terparah yang menjadi korban. Sampai hari ketiga, tidak ada yang berani masuk rumah. Selama itu juga aku masih berpikir?揃aiklah, semua selamat. Rumah rusak. Tinggal satu hartaku, BUKUKU!?Dan aku mendadak lemas membayangkan buku yang kukumpulkan bertahun-tahun hancur terkena hujan dan panas berhari-hari.

Di hari ketiga, akhirnya kami boleh masuk rumah –hanya boleh untuk beberapa menit. Aku langsung menilik kamarku. Ranjang dan tempat sampah hancur, meja belajarku hancur?soal-soal SPMB-ku juga hancur, basah dan sudah menjadi makanan hewan-hewan kecil sebangsa?rayapkah? I don’t know..
Lalu aku mulai dipanggil-panggil untuk keluar karena takut terjadi gempa susulan. Tapi aku masih ingin di kamarku, memastikan buku-bukuku baik-baik saja. Aku buka lemari pakaianku, dan?bukan hanya utuh?buku-buku itu masih tertata rapi dan bersih! Hoho, keanehanku bermanfaat juga, aku bersorak-sorak dalam hati.

Selama sebulan, buku-buku itu aku tumpuk di meja di serambi rumah sambil menunggu perbaikan rumah selesai. Sekarang, hari ini, aku memutuskan untuk kembali menaruh buku-bukuku di lemari pakaian. Pakaianku? Hm?Aku tak tahu! Mungkin kutaruh di rak buku saja, hahaha?^^

*melanjutkan aktivitas awal