Author Archives: handa

About handa

a little tough girl who always try to be autonomous

Kisah Si Fulan yang Berhutang

Standard

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa bersikap jujur, menepati janji, dan melunasi setiap hutang. Salah satu kisah terukir dalam sejarah menggambarkan pertolongan Allah SWT kepada hamba-Nya yang jujur dan menepati janji. Kisah tersebut termaktub dalam hadits Bukhari Muslim yang dikisahkan oleh Abu Hurairah ra.

Dalam kisah tersebut dikisahkan, suatu hari, seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil datang kepada orang dari Bani Israil yang lain. Ia hendak meminjam uang sebesar seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya. Si pemberi pinjaman berkata kepada peminjam, “Datangkanlah para saksi. Saya akan minta mereka untuk bersaksi.”

Orang yang meminjam kemudian berkata, “Cukuplah Allah SWT menjadi saksi.”

Si pemberi pinjaman tak langsung percaya. Ia pun berkata lagi, “Bawakanlah seorang penjamin.“

Orang yang meminjam pun berkata lagi, “Cukuplah Allah SWT menjadi penjamin.”

Si pemberi pinjaman pun akhirnya percaya dan berkata, “Engkau benar.”

Setelah berkata demikian, ia memberikan uang sebanyak seribu dinar kepada peminjam. Ia juga menentukan batas waktu agar si peminjam segera mengembalikan uang pinjamannya.

Si peminjam kemudian pergi mengarungi lautan membawa uang seribu dinar dari sahabatnya dari kaum Bani Israil tersebut. Ia pergi selama beberapa hari untuk menyelesaikan urusannya. Ketika urusannya telah selesai, masa untuk mengembalikan uang pun tiba.

Si peminjam segera mencari kendaraan agar dapat kembali ke tempat pemberi pinjaman secepatnya. Setelah menunggu sekian lama, kendaraan yang dinanti tak segera datang. Ia pun mulai bimbang. Ia berusaha mencari ide bagaimana caranya bisa mengembalikan uang tersebut.

Tak lama kemudian, ia melihat sebuah kayu. Ia pun mengambil kayu tersebut dan melubanginya. Diselipkannya uang sebesar seribu dinar seperti yang ia janjikan kepada pemberi pinjaman pada lubang kayu tersebut.

Ia kemudian berkata dengan sungguh-sungguh, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah SWT sebagai penjamin.’ Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, ‘Cukuplah Allah SWT menjadi saksi.’ Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.”

Si peminjam kemudian melepaskan kayu itu ke air hingga ia tenggelam dan timbul kembali, lalu bergerak perlahan mengarungi lautan. Tak selesai sampai di situ, ia tetap berupaya mencari kendaraan untuk pergi menemui si pemberi pinjaman.

Sementara itu, pemberi pinjaman telah menanti-nanti kedatangan si peminjam. Namun, tak ada satupun kendaraan yang datang. Ia kemudian sebuah kayu terapung di dekatnya. Diambilnya kayu tersebut untuk dijadikan kayu bakar. Ketika ia menggergaji kayu tersebut, didapatinya uang seribu dinar terselip di tengah kayu tersebut.

Tak lama kemudian teman yang meminjam uang datang kepadanya. Ia menyerahkan seribu dinar seraya berkata, “Demi Allah, saya telah bersusah payah mencari kendaraan untuk menyerahkan piutangmu. Ternyata saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.”

Lelaki yang meminjamkan uang kemudian bertanya, “Apakah engkau pernah mengirimkan sesuatu padaku?”

Si peminjam pun menjawab, “Sudah kukatakan bahwa aku tidak menemukan kendaraan sebelum aku datang kemari.”

Pemberi pinjaman pun takjub dan berkata, “Allah telah mengantarkan sesuatu yang engkau kirimkan melalui kayu dan mengalir dengan membawa seribu dinar.”

Diuji dalam Kelapangan

Standard

Manusia sering menganggap kemiskinan dan kesulitan sebagai ujian. Tidak banyak yang menyadari bahwa ujian juga datang ketika manusia diberi kekayaan dan kelapangan. Allah SWT telah memberikan contoh dalam sebuah kisah.

Di antara kaum Bani Israil, terdapat tiga orang yang diberi ujian oleh Allah SWT berupa kekurangan fisik. Sebut saja ketiganya si belang, si botak, dan si buta. Suatu hari, Allah SWT mengutus seorang malaikat datang kepada mereka dengan wujud menyerupai manusia.

Malaikat itu pun datang kepada si belang dan bertanya, “Apa yang paling kau inginkan?” Si belangpun menjawab, “Aku ingin kulit dan wajah yang bagus, dan hilangkanlah penyakit yang membuat orang jijik padaku.”

Malaikat kemudian mengusap kulit orang tersebut. Seketika itu juga, hilanglah penyakit lelaki itu dan bergantilah rupa dan kulitnya menjadi bagus. Si belang pun sangat bahagia.

Malaikatpun bertanya lagi, “Kekayaan apa yang kau inginkan?” Ia menjawab, “Unta.” Maka malaikat memberikan seekor unta bunting dan berdoa, “Semoga Allah SWT memberkatimu dengan unta itu.”

Setelah itu, datanglah malaikat kepada si botak dan bertanya, “Apa yang kau inginkan?” Si botak menjawab, “Rambut yang bagus dan penyakitku hilang sehingga aku tidak hina dalam pandangan orang.”

Diusaplah kepala si botak oleh malaikat. Seketika itu pula rambut si botak tumbuh sangat indah dan penyakitnya pun hilang.

Malaikat kemudian bertanya lagi, “Kekayaan apa yang kau inginkan?” Ia menjawab, “Sapi.” Diberikanlah sebuah sapi bunting kepada si botak sembari malaikat berdoa, “Semoga Allah memberkatimu dengan sapi itu.”

Malaikat kemudian datang kepada si buta dan bertanya, “Apa yang paling kau inginkan?” Si buta menjawab, “Aku ingin penglihatanku kembali supaya dapat melihat orang-orang.”

Diusaplah mata si buta oleh malaikat dan seketika itu ia dapat melihat. “Kekayaan apa yang kau inginkan?” tanya malaikat. “Kambing.” kata si buta.

Si belang, si botak, dan si buta kemudian merawat hewan masing-masing hingga beranak banyak. Beberapa tahun kemudian, mereka mempunyai daerah sendiri yang penuh dengan unta, sapi, dan kambing.

Allah SWT kembali mengutus malaikat untuk menemui mereka dalam wujud menyerupai manusia. Pertama-tama, malaikat datang pada si belang. Ia berkata pada si belang, “Saya orang miskin yang tersesat. Tak ada yang dapat mengembalikan aku kecuali dengan pertolongan Allah SWT dan bantuanmu. Maka saya mengharap, demi Allah, yang memberi rupa dan kulit yang bagus, boleh saya meminta satu unta saja untuk meneruskan perjalananku ini?”

Si belang menjawab, “Masih banyak hak orang lain yang harus saya penuhi. Saya tidak bisa memberimu apa-apa. Mintalah pada orang lain.” Malaikat berkata, “Sepertinya aku pernah melihatmu. Bukankah kamu si belang yang dulu miskin dan menjijikkan, lalu Allah SWT memberikan kekayaan kepadamu?”

Si belang tidak mau mengakui pemberian Allah SWT dan berkata, “Saya mewarisi kekayaan saya dari orang tua.” Malaikat pun berkata, “Jika engkau dusta, semoga Allah SWT mengembalikanmu pada keadaan sebelumnya.”

Malaikat kemudian menemui si botak. Jawaban si botak tak jauh berbeda. Mereka ingkar atas apa yang telah Allah SWT berikan kepada mereka. Malaikat kemudian menemui si buta dengan kondisi tak jauh berbeda dengan keadaan si buta dahulu.

“Saya seorang perantau miskin yang sedang dalam perjalanan. Saya hanya dapat meneruskan perjalanan dengan pertolongan Allah SWT. Demi Allah SWT yang mengembalikan pandanganmu, berikanlah satu kambing untuk meneruskan perjalananku ini.”

Si buta menjawab, “Dulu aku memang buta, kemudian Allah SWT mengembalikan penglihatanku. Kini ambillah sesukamu. Aku tidak akan memberatkan sesuatu apapun yang kau ambil karena Allah.”

Mendengar itu, malaikat pun berkata, “Jagalah harta kekayaanmu. Sebenarnya kamu telah diuji. Maka Allah telah ridho kepadamu dan murka pada kedua temanmu.”

 

Oleh-oleh Ramadhan untuk Keponakan-Keponakan Kecilku

Standard

Berhubung tahun ini mungkin tidak bisa pulang, berhubung kalau di telpon malu-malu nggak mau ngomong, berhubung tidak bisa menemani belajar…dan berhubung-berhubung yang lain… mungkin cerita ini bisa jadi oleh-oleh.

Cerita ini sebenarnya tugas kantor yang ketika menuliskannya saya selalu teringat dengan keponakan-keponakan saya. Seandainya saya bisa mengisahkan ini kepada mereka. Semoga kalau tulisan dari Bulik sendiri nggak males bacanya dan semoga tidak ada kesalahan dalam ceritanya 😀

 

Kisah Nabi Yunus Ditelan Ikan Paus

 

Di suatu tempat bernama Ninawa, kota Mosul, hiduplah suatu kaum yang selalu durhaka pada Allah SWT dan senang menyembah berhala. Allah SWT kemudian mengutus Nabi Yunus as untuk berdakwah di sana. Nabi Yunus as adalah satu-satunya nabi yang dinasabkan kepada ibunya, Matta. Dia adalah lelaki yang selalu beribadat dan taat kepada Allah SWT.

Di kota Ninawa, Nabi Yunus as adalah orang asing. Ajakannya untuk beriman kepada Allah SWT tidak langsung mendapat sambutan. Setelah tiga tahun berdakwah di kota tersebut, hanya ada dua orang yang mau mengikutinya. Mereka adalah Rubil dan Tanukh.

Walaupun sulit, Nabi Yunus as tak pernah lelah berdakwah di Ninawa. Dia berdoa kepada Allah SWT agar umatnya mau menerima ajarannya. Melihat perjuangan Nabi Yunus as, Allah SWT kemudian mengirimkan wahyu yang menyatakan agar Nabi Yunus tetap berdakwah kepada rakyatnya selama 40 hari. Jika dalam 40 hari umatnya tidak mau beriman kepada Allah SWT, akan datang siksaan kepada mereka.

Mengetahui janji Allah SWT, Nabi Yunus as pun mengabarkan wahyu tersebut kepada umatnya. Namun, umat Nabi Yunus as tak memercayai kata-katanya. Mereka bahkan menantang Nabi Yunus as untuk mendatangkan siksaan tersebut. Nabi Yunus as pun geram. Hingga hari ke-37 umatnya tidak mau beriman. Nabi Yunus as tak tahan dan pergi meninggalkan umatnya. Ia berdoa agar Allah SWT memberikan hukuman pada orang-orang yang durhaka.

Setelah Nabi Yunus as pergi meninggalkan Ninawa, di hari ke-40, tanda-tanda azab Allah SWT pun tiba. Mendung hitam menggumpal di langit Ninawa. Binatang-binatang gusar. Angin dari seluruh penjuru arah bertiup kencang disertai suara gemuruh yang menakutkan. Warga Ninawa pun panik dan ketakutan.

Sementara itu, Nabi Yunus as terus berjalan meninggalkan kota Ninawa. Ia sampai di sebuah pantai. Di sana ia melihat sekelompok orang hendak menumpang kapal. Ia berbicara pada pemilik kapal agar diperbolehkan ikut menumpang. Nabi Yunus as lalu mengarungi lautan bersama para penumpang kapal lainnya. Di kapal itu, Nabi Yunus menjadi penumpang yang paling dihormati dan dicintai.

Di tengah laut, tiba-tiba kapal Nabi Yunus as diterjang gelombang dan angin kencang. Kapal yang mereka tumpangi oleng. Para penumpang pun panik dan ketakutan. “Biasanya kapal ini mau membawa pelarian. Kalau ada pelarian di dalam kapal, pasti terjadi hal seperti ini.” kata pemilik kapal.

Pemilik kapal meminta salah seorang untuk mengaku dan terjun ke dalam air demi keselamatan penumpang lainnya. Namun, tidak ada seorang pun yang mau mengaku. Para penumpang akhirnya sepakat melakukan undian untuk menentukan orang yang akan terjun ke laut, supaya kapal menjadi ringan.

Setelah diundi, nama Nabi Yunus as muncul. Para penumpang berat hati membiarkan Nabi Yunus as yang sangat dihormati dan dicintai terjun ke dalam lautan. Mereka pun melakukan undian lagi. Setelah beberapa kali undian, hanya nama Nabi Yunus as yang muncul. Nabi Yunus as pun merenung dan menyadari kesalahannya. Dia sadar telah melakukan kesalahan karena meninggalkan umatnya.

“Betul, saya seorang pelarian.” kata Nabi Yunus as setelah menyadari kesalahannya.

Tanpa pikir panjang, Nabi Yunus as menceburkan dirinya ke lautan yang penuh gelombang besar. Tak disangka, datang ikan paus besar yang kemudian menelan Nabi Yunus as. Dia berada dalam perut ikan paus dalam waktu lama. Dalam perhitungan normal, Nabi Yunus as seharusnya telah meninggal dunia. Namun Nabi Yunus as ternyata masih mampu menggerakkan anggota tubuhnya.

Selama berada di dalam perut ikan paus, Nabi Yunus as mendengar ikan-ikan di lautan bertasbih kepada Allah SWT. Ia juga mendengar seluruh alam ciptaan Allah SWT, seperti baru kerikil, tumbuhan dan biji-bijian bertasbih kepada-Nya. Nabi Yunus as adalah orang yang banyak mengingat Allah SWT. Karena itu, ia pun tak henti-henti mengucapkan tasbih dan tahlil kepada Allah SWT. Nabi Yunus as bertaubat atas kesalahannya dengan penuh ketundukan.

Nabi Yunus as kemudian berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah tidak ada Tuhan melainkan Engkau yang Maha Suci dan sesungguhnya aku termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri. Aku tidak sabar sehingga aku melarikan diri dari kaumku sebelum ada wahyu-Mu. Ampunilah dosa kami wahai Tuhanku.”

Allah SWT mendengar doa Nabi Yunus as dan mengabulkannya. Dikeluarkanlah Nabi Yunus as dari perut ikan paus dan dilemparkannya ke darat. Nabi Yunus as sakit dan tubuhnya kurus kering. Allah SWT memberikan kesembuhan pada Nabi Yunus as hingga dia bisa mengunjungi kota Ninawa.

Ketika sampai di kota Ninawa, Nabi Yunus as pun terpana. Tidak ada lagi berhala di kota tersebut. Ternyata, ketika musibah menimpa penduduk kota Ninawa, mereka ketakutan luar biasa. Mereka pun menyadari bahwa Nabi Yunus as bukan seorang pendusta. Mereka mencari-cari Nabi Yunus as tapi tidak menemukan dia.

Akhirnya, penduduk Ninawa pergi ke padang-padang pasir dan bukit-bukit. Mereka menangis dan bertaubat kepada Allah SWT. Melihat penduduk Ninawa telah bertaubat, Allah SWT mengampuni mereka dan menjadikan langit Ninawa perlahan menjadi terang benderang. Allah Yang Maha Pengampun mengampuni Nabi Yunus as dan umatnya yang melakukan taubat dengan penuh ketundukan.

Dilema Pendidikan Bahasa Inggris

Standard

Gak tau kenapa waktu mau nulis background skripsi selalu kepikir sama frasa di atas. Yoi, emang Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia ni masih aja di taraf dilema.

Dilema pertama, Globalization and Nationalism.

Ini pernah di bahas di Bunga Rampai Pendidikan Bahasa dan Budaya karangan lupa saya *sori lagi males ngacak buku. Intinya, ada dilema besar dalam diri bangsa Indonesia. Ada ketakutan besar bahwa dengan giatnya orang mempelajari bahasa Inggris, maka nilai nasionalisme akan turun. Dengan kata lain, asupan pelajaran bahasa Inggris berbanding terbalik dengan nilai nasionalisme *ishsampe kemanamana :P.

Ini pernah aku temui juga ketika melakukan observasi di sebuah Taman Kanak-Kanak Islam di daerahku. Kata kepala sekolahnya, “Kan ini sekolah Islam to mbak, jadi nanti kalau dikasih pelajaran Bahasa Inggris takutnya nilai-nilai keIslamannya kurang.”

Kalau menurutku, nggak ada hubungan juga antara nilai keIslaman dengan pembelajaran Bahasa Inggris. Toh pembelajaran Bahasa Inggris di TK/SD baru sampai pada tahap kosakata saja. Bahasa Inggris juga ‘hanya’ media komunikasi internasional. Artinya bahasa ini hanya menjadi pengantar pada dunia yang lebih luas, bukan diajarkan sebagai alat propaganda. Toh kalau kita mau bersikap terbuka, dunia Islam sendiri membutuhkan orang-orang yang bisa berbahasa Inggris dan menyuarakan Islam di kancah internasional.

Begitu juga hal nya dengan nasionalisme. Pengajaran Bahasa Inggris tidak ada kaitannya sama sekali dengan nasionalisme. Apabila jiwa nasionalisme sudah tumbuh dalam diri bangsa Indonesia, pemberian asupan bahasa maupun kebudayaan asing tidak akan mengikis, justru memperkaya pengetahuan dan jiwa toleran pelakunya. Jadi, permasalahannya bukan bagaimana mengajarkan bahasa Inggris yang tidak mengikis jiwa nasionalisme..tapi bagaimana jiwa nasionalisme itu diperkuat sehingga pemberian bahasa Inggris membawa nilai positif bagi bangsa Indonesia.

Toh pada kenyataannya kita memang butuh belajar Bahasa Ingris. Dari hal yang paling simpel. Seorang pemakai komputer yang mengerti bahasa Inggris akan lebih piawai dari yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Seorang mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk menerjemahkan jurnal apabila bisa memahami teks berbahasa Inggris. Seorang karyawan punya nilai lebih jika mampu berbahasa Inggris. Dan banyak hal lagi.

Dilema kedua, to communicate or to be graduated.

Dilema ini pasti dialami oleh hampir semua guru yang mengajar saat ini. Dengan adanya Ujian Nasional, artinya ada standard-standar yang harus dipenuhi dalam pengajaran di kelas. “Apakah saya harus mengajarkan Bahasa Inggris sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa saya, atau saya harus mengajarkan apa yang nantinya akan keluar di Ujian Nasional?” pertanyaan ini mungkin sering muncul di benak para guru.

Banyak cara dilakukan oleh guru dan sekolah untuk mengatasi hal ini, terutama dengan memberikan les bahasa Inggris tambahan bagi siswa. Di beberapa sekolah juga ada program darmawisata untuk mempraktikan langsung bahasa Inggris yang dipelajari di sekolah. tapi lagi-lagi, ketika memasuki kelas akhir, pihak sekolah akan berlomba untuk memenuhi tuntutan soal-soal ujian Nasional dan menjejali para siswa dengan soal-soal latihan.

*well, for this..honestly i have no solution –”

 

BEDA TIPIS

Standard

–Ada seseorang di seberang sana yang kurindukan. Yang mungkin dia juga merasakan, tapi tak pernah lagi bisa terungkapkan–

Karna tak pernah memahami mengapa persahabatan yang dulunya terjalin dengan indah akhirnya harus berakhir menjadi sampah. Itulah masa lalu. Penyakit pertama yang meruntuhkan sebagian impiannya.

Bagi sebagian orang memiliki masa lalu yang suram adalah hal biasa. Tapi tidak begitu bagi Karna dan mungkin sebagian orang lain yang baru pertama merasakan pengalaman suram. Apalagi jika dulu, hidupnya penuh keindahan. Keindahan hidup yang dimaksud Karna bukan karena ia punya kehidupan yang sempurna. Bukan karena harta, bukan keluarga, bukan tahta, atau wanita…Bagi Karna, menjalani hidup sesuai dengan kebaikan yang dia yakini adalah keindahan hidup itu sendiri.

Sayangnya, bukan hidup namanya jika selalu sesuai dengan apa yang Karna inginkan. Walau sekuat tenaga dia buat dalam hidupnya tiada keinginan untuk menyakiti orang lain, nyatanya ada yang tersakiti olehnya tanpa dia inginkan.

Karna tidak pernah menceritakan secara detail bagaimana peristiwanya, tapi pengalaman buruk adalah pengalaman buruk. Hubungan dekat sesama kawan itu telah berakhir. Lebih karena salah paham. Tapi kesalahpahaman yang tidak pernah dibicarakan itu terlalu berakibat fatal. Lalu, ya, semuanya berakhir.

Bagi Karna yang awalnya tidak pernah membayangkan punya musuh, semuanya telah berakhir. Tapi itu bukan akhir dari sakit yang ia dera. Di titik yang sama ketika ia memutuskan semuanya berakhir, maka luka itu baru dimulai. Rasa benci, bahkan dendam, baru mulai muncul. Ia mempertanyakan hal yang dia tahu sendiri, tak berguna. Mengapa ini terjadi padaku, katanya.

Membayangkan saja tidak pernah, mengapa harus terjadi padaku? Kalimat ini saja yang muncul berulang-ulang dalam benaknya. Lama sekali bergulir, tak terasa beberapa tahun dilaluinya tanpa berhenti mempertanyakan hal itu.

Ketika dia bangun pagi itu dengan kepercayaan baru bahwa semuanya telah benar-benar berakhir, termasuk benci dan dendamnya, bahwa masa lalu itu telah ia hapus betul-betul dalam cerita suramnya, ketika itu pula –sayangnya- ia menyadari telah begitu banyak yang hilang dalam hidupnya. Pekerjaannya berjalan dengan tidak optimal, keluarganya terabaikan.

Di titik itu pula dia berkata dalam hati, dengan berhenti seperti ini, aku menghentikan sendiri kehidupanku. Roda hidupku yang seharusnya membawaku berjalan maju tidak juga bergerak. Tidak ada yang mampu mendorongnya, hanya aku. Maka tidak ada pilihan lain, aku harus memutar roda itu sendiri. Hidupku, tidak ada pilihan lain, harus dilanjutkan. Dia melihat kembali semua masa suramnya dengan pandangan yang baru. Dia memilah satu per satu, mengambil kepingan-kepingan yang bermakna. Setelah semuanya selesai, setelah ia mengantongi semua kebaikan dari masa lalunya yang tak menyenangkan, sisanya benar-benar ia buang ke alam fana yang tak mampu ia jamah lagi. Itulah masa lalu yang buruk. Ia meninggalkan sakit yang begitu mendalam. Ia tak pernah ingin diingat.

Beberapa tahun kemudian, Karna mengenal seorang gadis. Ini pertama kalinya dia jatuh cinta. Jatuh cinta itu, sejauh yang dia rasakan, tak pernah seperti yang orang-orang ceritakan.

Kata orang cinta itu buta, hm..ya terkadang. Kata orang ketika jatuh cinta, tahi ayam terasa coklat. Karna terkekeh. Pertama karena biarpun dia jatuh cinta, dia tidak akan sedikitpun berusaha membuktikan secara real rasa tahi ayam dalam momentum itu. Kedua, karena jatuh cinta tidak membuatnya hilang berpijak. Bunga tetaplah bunga, tapi kumbang yang datang menghisap bunga tetap ia lihat sebagai kumbang; yang jika dikomparasikan dengan bunga yang indah, ia adalah sosok yang menakutkan.

Mendengar perkataan orang yang lain pada Karna, katanya, kalau cinta membuat kamu bersedih terus, menangis terus, itu bukan cinta. Cinta itu menguatkan, membuat kita senang, bahagia, dia jadi menyangsikan kalau dia telah jatuh cinta. Tapi nyatanya dia jatuh cinta. Kali ini, dia yakin telah jatuh cinta. Dengan buncahan perasaannya yang dalam, yang tertata, terkendali, yang tidak membuatnya lepas diri.

Dengan beberapa sudut pandang dia berusaha memahami kalimat-kalimat kawannya itu. Ya, sepertinya dia tahu maksudnya, walau tidak sepenuhnya sepakat. Bukankah seindah-indah cinta akan berakhir dengan air mata? Dan bukankah sebahagianya orang jatuh cinta, pada akhirnya ia pun akan merasakan kesedihan? Coba bayangkan jika di puncak rasa cinta itu direnggutlah inti kehidupan si yang dicintai. Mati. Hilang. Seperti apapun akan dikenang, hubungan itu selesai. Berubah menjadi cinta platoik yang fana.

Gadis yang dicintai Karna bukan gadis sempurna. Dia tahu betul. Kehidupan hubungan mereka tak pernah akur. Tapi bagi Karna, setiap pertengkaran yang terjadi justru menguatkan hubungan mereka. Setiap kesalahpahaman selalu diselesaikan. Segala yang buram diperjelas. Semua yang rumit terurai. Mereka punya kehidupan yang indah dibalik semua pertengkaran yang terjadi.

Rasa cintanya semakin besar, semakin luas. Terkadang ia bahkan hilang kendali. Ia seperti hendak memberikan segalanya pada si gadis. Seperti seluruh kehidupannya hendak dicurahkan.

Sampai suatu hari di pertengkaran yang ke seratus dua puluh sembilan… Karna terkekeh lagi mengingat hal ini. Seratus dua puluh sembilan pertengkaran. Ya..setelah seratus dua puluh sembilan pertengkaran yang baginya adalah seratus dua puluh sembilan tangga menuju hubungan yang lebih baik, si gadis nampak kelelahan. Tanpa daya dia berkata pada Karna, Biarkan aku beristirahat. Sendirian. Selamanya. Tanpamu.

Hal ini sudah sering terjadi, tapi untuk yang ke seratus dua puluh sembilan.. Karna berpikir Gadis itu sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh dengan ucapannya kali ini. Dia pergi. Sesingkat itu, setidak romantis itu. Hanya seperti itu saja.

Dan lagi-lagi karena rasa cintanya yang begitu dalam, Karna akhirnya membiarkan semuanya terjadi. Karena cinta. Ya, bahkan karena cinta, cinta itu sendiri harus berakhir.

Karna lalu menjalani kehidupannya seperti biasa. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang perlu ditakutkan. Gadis itu menghilang. Dia tidak bisa mencari lagi. Dia tidak mampu lagi mencari. Karna menganggap kehidupannya tetap normal seperti lebih dari dua puluh tahun yang dia habiskan tanpa kekasih. Hal mudah bukan? Dia tertawa dengan bangga, kadang melamun.

***

          Seorang anak kecil berjalan sendirian, menyepak-nyepak apapun yang ia temukan. Di sebuah kertas yang baru saja dia temukan, tertulis kalimat oleh entah siapa.

Masa lalu suram ketika itu jelas menyakitkan. Masa lalu indah yang tak bisa kugenggam sekarang ini tak berbeda. Tapi bukan masa lalu yang menentukan hidup. Apa yang kita lakukan sekarang dan bagaimana kita merencanakan masa depan lah kunci utamanya.

Tak paham, gadis kecil melempar kertas usang itu dan berlari-lari kecil dengan gembira.

SH/25 Oktober 2012/05:03

Misi Kecil dari Kelas si Kecil

Standard

 

Kaya biasanya, hari ini jadwal mengajar di B*mijo. Cerita hari ini tentang Bayu, murid saya yang mungkin agak special.

Sudah beberapa pertemuan dia nggak masuk. Terakhir masuk, dia sakit gigi. Hm, jujur anak ini agak merepotkan saya..tapi bukan merepotkan dalam arti menjengkelkan. Dia membuat saya penasaran, ada apa yah dengan hidupnya? J

#Pertama kali saya ketemu sama Bayu, saya lihat anaknya biasa-biasa saja. Aktif, rame, ribut, lari-larian, naik ke meja sama seperti anak-anak cowok yang lain. Dan seperti anak yang lain pula, dia suka mencari perhatian saya. Bukan dengan cara manja, tapi dengan menunjukkan kalau ‘Dia anak baik.”

Saya masih ingat, dia selalu mengambil potongan-potongan kapur, lalu menyerahkannya pada saya. Berulang-ulang. Mengganggu sih, kaya orang tukang pungut kapur aja. Tapi namanya anak-anak, mereka melakukannya dengan tulus dan mengharap kita meresponnya. So, I take the chalk from his hand, say thank you, then take the chalk on the chalk box. Dan tindakan ini membuat dia senang, namun semakin semangat memunguti kapur buat saya. *Bingung deh* 😀

Di pertemuan kedua, saya mulai melihat ‘sesuatu’nya si Bayu ini. Selain suka mencari perhatian, dia juga sepertinya lambat belajar. Ketika mencatat, dia sibuk bertanya terus. Awalnya saya pikir ini cara dia untuk memancing perhatian saya. Tapi setelah berkali-kali bertanya *hampir tiap 1huruf maju, tanya, nulis, maju lagi, …*, akhirnya saya dekati dia dan melihat pekerjaannya. O my Godness, teman-temannya sudah hampir selesai dan dia baru dapat satu kata -__-

Ketika diajak ngomong, Bayu juga seperti kesusahan mengungkapkan perasaan atau pemikirannya. Jawabnya lama, kadang tidak dijawab. Saya sempat mengira, apa ada kesulitan bahasa? Hm..nggak juga, bahasa Indonesia dia bagus. Apa dia lambat bicara *terkadang mempengaruhi daya cerna otak*? Hm..bicaranya juga bagus. So what makes him like this?? Nggak ngerti sayah.. -_-

“Apakah budaya di keluarganya yang membuat dia kesulitan mengungkapkan perasaan?” hm..saya belum tau.

Yang lebih mengagetkan lagi, ketika saya duduk di meja saya..dia datang mendekati dan menunjukkan jarinya sambil dimain-mainkan. Awalnya saya pikir itu kelingking, tapi tiba-tiba saya agak mual. Wait! What’s that?? Saya perhatikan lagi jarinya, normal…lima! Lalu yang tadi?

Ternyata, Bayu ini punya jadi keenam. Jadi di samping jempolnya, ada tulang semacam jari yang tidak berkembang, sangat kecil, yang tumbuh. Saya mau bertanya apa yang terjadi sama jari Bayu, dan apakah sakit…tapi melihat Bayu memainkannya sambil tertawa-tawa, saya pikir dia pasti baik-baik saja *tidak sakit secara fisik*. Apalagi menanyakan itu termasuk hal yang sensitif, mungkin tidak saat ini.

Sejak itu, saya mulai memperhatikan Bayu. Bukan karena kasihan, tapi rasa penasaran dan keingintahuan saya. Ada sesuatu yang menghambat pembelajaran karena hal ini, dan dia butuh perhatian khusus, tapi perhatian seperti apa? Saya perlu tau lebih banyak tentang dia dan apa yang dia butuhkan.

#Bayu ini, secara fisik lebih kecil dibanding anak-anak yang lain. Badannya pendek, kurus, suaranya juga kecil. Nggak tau kenapa, tapi Bayu ini sepertinya menikmati aktivitasnya sendiri. Terkadang dia tidak menghiraukan sama sekali ketika saya panggil, atau hanya menengok kemudian sibuk lagi dengan aktivitasnya. Saya sering kali harus mengulang pertanyaan 3-4-5 kali dan tetap tidak mendapat jawaban darinya, hingga saya berpikir…dia tidak menangkap pertanyaan saya, dia tidak tau jawabannya, atau kenapa???

Karena fisiknya yang kecil, buat saya, dia nampak tidak sehat. “Kayanya ini tipe anak yang gampang sakit.” batin saya. Anak ini gampang sekali berkeringat, lebih dari anak-anak yang lain. Sampai suatu ketika, di pertemuan awal kami, saya pernah minta dia ke kamar mandi untuk mencuci muka karena mukanya terlihat kotor *seperti habis main tanah*. Padahal itu hanya karena keringat + tangan dia yang kotor.

#Betul saja, di pertemuan entah ke berapa, dia sakit. Katanya dia sakit gigi. Ketika saya mengajar, dia mendatangi saya dan bilang kalau sakit gigi. Saya bilang sama dia untuk ke ruang guru, akan saya antar, tapi dia tidak mau. Ke UKS, dia juga tidak mau. Hm…gimana coba?

Akhirnya saya melanjutkan pelajaran melihat anak-anak lain sudah mulai agak ribut. Tidak berapa lama, Bayu menghampiri saya lagi dan bilang giginya sakit. Saya kembali menawarkan agar dia ke ruang guru agar diantar pulang, dia tidak mau. Ke UKS? Tidak mau.

Saya: “Kalau gitu ditahan ya Bayu ya? Kuat nggak?”

Bayu: geleng-geleng

Saya: “Hm..ya udah Bayu pulang aja yah? Nggak papa kok, besok lihat catatan temannya aja. Ya?”

Bayu: geleng-geleng

Aduh pusing juga lo, bayangin aja..mau ngelanjutin pelajaran gak bisa, mengingat dia di kelas diam saja seperti menangis, lalu terus mencari perhatian saya. Dia diminta pulang juga nggak mau. Diminta nahan sakitnya nggak kuat. Hooo musti gimana ini sayah? *bingung mode: ON*

Akhirnya saya beri tugas untuk dikerjakan anak-anak lain, lalu sembari menunggu mereka selesai, saya bawa Bayu ke UKS. Untungnya mau. Tapi malah UKS kosong ga ada yang jaga! Hufh..akhirnya saya ke ruang guru dan bertemu seorang guru laki-laki *belum kenal*.

Saya: “Bapak maaf, ini ada anak yang sakit..tapi nda mau diminta pulang. Gimana ya pak?”

Bapak guru: “Oh siapa Mbak?”

Saya: Ini pak, Bayu.

Bapak guru: Oh, sakit lagi Bayu?

Dan perbincangan berlanjut. Ternyata bener Bayu sering sakit. Hmm..bingung euy. Udah dibujuk pak Guru pun nggak mau pulang dia.

Nggak berapa lama, Ayahnya si Bayu ini datang. Beuh! Ayahnya lembut banget orangnya euy! Suka sayah *suka sama sikapnya sebagai seorang Ayah* Tapi dasar si Bayu, dia tetep g mau diajak pulang. Ya sudah lah, dia masuk lagi di kelas saya, sambil saya bilang “Ya udah Bayu di kelas aja, tapi jangan nangis ya, ditahan dulu sakitnya, bentar lagi kita pulang yah.” *saya tidak punya solusi lain*

Akhirnya tidak lama, setelah memastikan tugas selesai, kelas saya pulangkan. Bayu juga pulang.

#Nah, hari ini ada cerita lagi. Bayu rebutan mainan sama Bobby. Bobby ini anak Chinese, suka ribut, lucu dan lincah.

Bayu dari tadi ribut dengan mainannya *sebangsa terompet*. Agak mengganggu sih, tapi itulah dia, yang hanya sibuk dengan aktivitas yang disukainya. Mendadak pertengkaran kecil terjadi, ketika Bobby ingin merebut mainan Bayu. Mereka tarik-tarikan. Hfh..saya yakin nih ujung2nya MEWEK! >.<

Saya: Bobby, jangan gitu dong..

Bobby: ini tu bukan punya Bayu miss

Saya: Punya siapa itu?

Bobby: ini tadinya punyaku…sini (sambil menarik paksa mainannya)

Bayu tetap menahan tanpa bilang apa-apa, tapi ekspresi mukanya..hm..saya tau ada masalah!

Akhirnya Bobby ngotot, Bayu juga walau tanpa kata-kata. Bayu tau itu bukan mainannya, tapi dia nggak mau lepas, sedangkan Bobby juga nggak mau meminjamkan. Saya bilang, “Sudah sini Miss Handa bawa aja, jangan mainan di kelas.” Tetap tidak ada reaksi. Si Bobby, secara badannya lebih gede, menang.

Nah habis itu insiden terjadi. Bayu ini, seperti sudah saya perkirakan…marah. Dia menangis *dengan teriakannya yang melengking* lalu berbuat sesukanya. Ada tongkat besi dia ambil, mau dibuat mukul Bobby. Lalu saya ambil dan saya amankan. Lalu dia ambil kayu, saya ambil lagi. ARGH!

Sekitar 10 menit, setelah saya menenangkan kelas, semuanya selesai. Tapi sedikit-sedikit Bayu mengamuk. Oh my God. Salah satu misi saya di kelas ini: I want to know about you, Bayu!

Ada apa sama dirimu dengan kekurangan kamu itu? Dan apa yang terjadi dengan hidupmu? Dan bagaimana caranya saya bisa membantu kamu belajar dengan baik di kelas saya? Cara apa pula yang paling tepat buat saya untuk memotivasi kamu agar tetap semangat walau kamu punya kekurangan, dan membuat kamu tidak ketinggalan hanya karena kekurangan kamu itu? This is my mission, special for you, Bayu. Though maybe you didn’t feel it, though maybe you will forget me as a little piece of your life, I really wanna do this mission, special for you, Bayu.

 

*jadi pengin belajar psikologi lagi*

Yogyakarta, 31 Oktober 2011 jam 13:37

Gemas Luar Biasa di Kelas Saya Hari Ini

Standard

Jam 10.45 jadwal saya mengajar di SD Bumijo. Saya melaju dan tiba di tempat tepat ketika anak-anak sudah hendak pulang. Beberapa anak yang melihat saya berjalan menuju kelas langsung berlari dan menarik tangan saya. Saya tidak ada firasat apa-apa karena biasanya juga seperti ini dan saya menikmati kemanjaan mereka 😀

Tapi, tidak sampai 5 menit kemudian suasana berubah.

“Miss, nanti lesnya di kelas B aja. Gantian.”

Belum sempat saya jawab, anak-anak kelas 1A menarik tangan saya ke kelas mereka. Terjadilah insiden tarik-menarik selama beberapa menit. Eh eh, bentar dong…Haduh! 😀

Melihat jumlah anak kelas B yang lebih banyak *dan semuanya kompak minta pindah dengan opsi yang lumayan adil: kalau Senin di kelas A, Rabu di kelas B*, akhirnya saya masuk ke kelas B. Ehhh ternyata anak kelas A nggak mau sama sekali masuk ke kelas B. Wadoh, bahaya tingkat 1. Sambil menenangkan anak kelas B yang sepertinya hari ini ngelunjak, bersikap sangat manja, merajuk, -dan mungkin merasa dimenangkan sama saya, saya pun pergi ke kelas A untuk membujuk anak-anak masuk ke kelas B.

Bobby: *dengan manja* Aa..nggak mau miss. Di sini aja. Disini lebih luas.

Saya: Kan sama luasnya, Bobby..Kita pindah yuk. Kan enak kalo kelasnya ganti-ganti, biar nggak bosen. Yah?

Vanda + Bobby: Aa..nggak mau. Pokoknya disini Miss..Miss Handa jangan kesana, kalau Miss ke sana kita pulang aja.

Valent: Iya Miss, nanti kita pulang lo.

Aduh, kalau dituruti debat bisa habis waktu ngajar saya. Padahal, pagi ini saya sudah disms Ibu Manajer Bimbel kalau harus mengajar di SD Depok 1. Jadi hari ini rencananya jam mengajar di Bumijo dikurangi dulu untuk mengajar promo, baru diganti di pertemuan lain.

Hm, saya sudah bilang sih, agak nggak enak kalau harus mengurangi jam ngajarnya, karena kesannya jadi buru-buru. Tapi kesepakatan sama Ibu Manajer sih nggak papa, hanya untuk beberapa pertemuan selama promo. Toh hanya untuk beberapa pertemuan dan nanti bisa diganti tambahan waktunya. Hoaaa…tapi ini bener deh di luar rencana T.T

Nah lanjutan critanya nih, anak-anak bener-bener nggak mau digabung. Awalnya rencana saya, saya ngajar di kelas B. Pasti anak-anak kelas A nanti akhirnya pelan-pelan mau pindah.  Tapi sampai saya mengajar, mereka tetep nggak mau pindah. Untungnya, mereka juga nggak mau pulang, hihi…

Jadi insiden selanjutnya, mereka berkali-kali membuka pintu, saya ajak masuk tapi nggak mau, lalu merajuk-rajuk:

“Miiiissss… pindah toooo… Ya udah kalo nggak mau!”

BANGGG!! Pintu dibanting… -_______-

Saya ngajar lagi, mereka ngintip lagi…merajuk-rajuk lagi:

“Miissss…ayo to miissss… Cepet too… Ya udah aku pulang lo.”

BANGGGG!! Pintu dibanting lagi… -_______-

“Missss…cepet too… Miss Handa tuuuu… Ya udah beneran lo kita pulang.”

BANGGG!! Pintu dibanting lagi.. -____-

Begitu sampai beberapa kali, lalu:

“Woo,,, pintunya rusak toooo…kamu sih dari tadi banting-banting teruuusss…”

Saya: *dalam hati* Aduh, tak ciumin jugaaaa kalian semua nih! Gemes deh aku, wahahaha.

Hmm.. -________-

 

Insiden selanjutnya lagi, salah seorang murid saya membuka pintu, masuk dan meninggalkan kertas sambil bilang, “Miss, dibaca ya.”

MISS AKUTIDAK LES

*hahaha, cikiciuuuu… Hadoh beneran deh gemeeeeeessss

Akhirnya setelah selesai materi saya berikan, saya kasih tugas ke anak-anak kelas B. Lalu saya pindah ke kelas A dan menjelaskan dari awal. Anak-anak kelas A meringis aja melihat saya masuk kelas. Dasar! Wkwkwkw

Yah beginilah endingnya..saya jadi estafet di dua kelas -_____-

Ketika sedang menjelaskan materi di kelas A, muncullah surat cinta dari anak-anak kelas B. Kertas-kertas itu hanya saya selipkan di antara absensi lalu saya melanjutkan mengajar lagi.

Kegiatan mengajar selanjutnya relatif lancar walau saya harus mondar-mandir dari kelas yang satu ke yang lain. Yang bikin dongkol, tiba-tiba seorang ibu membuka pintu dan bertanya, “Lhoh, kelasnya dibuat sendiri-sendiri to, Mbak?”

“Iya Bu, hanya hari ini saja kok. Anak-anak nggak mau digabung.” jawab saya.

“Huh, bikin repot aja mbak.” Lalu hening, lalu, “Masalahnya kan waktunya jadi terbuang juga.”

Hm.. Sepertinya sih ibu itu yang tugasnya membersihkan kelas setelah pelajaran selesai. Dari minggu kemarin mau kelasnya normal gak normal, ngomel mulu. Maaf yah ibuk, keluhan ibuk teh cuman mampir dengar di telinga sayah. Saya mau ngajar, nggak punya waktu buat ngomel dan nggak pengin mood saya rusak gara-gara ngeliat ekspresi jutek ibukkk. Hufh…

Beruntungnya, orang tua wali yang pada nunggu di luar bisa memahami kondisinya. Semoga deh sampe rumah mereka bantu kasih penjelasan ke anak-anaknya biar cinta damai dan mau gabung lagi 😀

Hm…Alhamdulillah, walau kerja ekstra tapi hasilnya memuaskan. Anak-anak cowok yang biasanya gak mau nyatet hari ini nyatet. Tugas juga dikerjakan. Anak-anak juga pulang dengan ceria, nggak ada yang ngambek. Waktu anak-anak kelas B mau pulang, saya meninggalkan pesan agar tragedi tidak berkepanjangan. Saya bilang, “Besok Senin kita di kelas A aja ya.”

Ada beberapa anak yang protes sih, tapi akhirnya setelah beberapa kali diulang, mereka bilang, “Iya, Miss.” dengan wajah ceria. Aduh senengnya bu guru…hehehe

Waktu udah setengah jam berlalu, saya siap mengajak mereka pulang. Tapi anak-anak itu merengek, “Jangan Miss, nggak mau. Nanti aja. Sampai sore nggak papa.”

Haduh, kelas saya yang lain gimana? Haduh, dilema..memang saya belum kasih apa-apa, harusnya saya kasih materi kan sampai latihan pemakaian bahasanyaL

“Miss, nanti aja..nggak mau pulang. Les lagi aja. Nggak mau pulang sekarang…” Chacha merajuk, yang lain ikut juga.

Okey, ini hak kalian dan kewajiban saya.. -____-

Nah setelah mereka pulang, langsung deh tancap gas..melesat membabi buta ke SD Depok 1. Panas uy, mana lampu merahnya lama.

Di jalan kepikiiiiir aja, tadi gara-gara insiden itu, nggak jadi ngurangin jam pelajaran. Mungkin sampai di Depok 1 anak-anak udah pulang..tapi mau gimana lagi, saya nggak mungkin mengutamakan kelas promo daripada kelas yang sudah berjalan, yang memang jadi tanggungan saya selama satu periode ini. Apalagi melihat anak-anak punya semangat buat belajar tanpa harus saya mengejar-ngejar mereka. Kalau peristiwa itu terjadi di sekolah lain, mungkin anak-anak kelas A-nya sudah pada pulang. Nggak tega juga euy, melihat mereka sampai harus bersitegang dengan teman-temannya, lalu masih saya tambah dengan tidak memberikan materi hingga selesai. Hm..saya pikir saya sudah mengambil langkah yang tepat dari pilihan tidak enak lainnya. L

Ah pokoknya senang sekali melihat mereka tetap bersemangat walau merajuk-rajuk manja bukan main. Hehe..gemes 😀

Sampai di Depok 1, anak-anak benar-benar sudah pulang. Sorry, dunno what to say..tapi dua-duanya tanggung jawab L Kalau demi promo saya tidak memberikan yang maksimal untuk kelas reguler saya, kayaknya lebih tidak bertanggung jawab daripada yang terjadi hari ini.

Hhh sudahlah…akhirnya saya pulang setelah ngobrol dengan guru baru yang disarankan untuk saya temui buat share. Antara kecewa dan puas, merasa bersalah dan bertanggung jawab. This is my day.

#Oyah waktu mau pulang, Gita, salah seorang murid bilang, “Miss Handa, itu suratnya dibuang aja. Sini tak buangin.”

Saya: Udah nggak usah Gita, nggak papa kok biar di situ ajahJ

Gita: Kenapa nggak dibuang, Miss?

Saya: Mau Miss Handa simpan buat kenang-kenangan *sambil meringis*

Gita: *ikut meringis*

Wkwkwkkwkw…..:P

Sampai di rumah, saya buka surat cinta murid-murid saya. Nih isinya:

MISS AKU NGGAK MAU LES LAGI MISS NGGAK PERCAYA SAMA AKU (1)

MISS AKU TIDAK MAU LES LAGI TITIK MISS NGGAK PERCAYA SAMA AKU (2)

MISS JANGAN KE KELAS A KALAU NGGAK AKU PULANG

MISS HANDA MBOK KE SINI KE SATU B NANTI AKU PULANG LO

(dan lain-lain)

Hahaha…*Dasar korban sinetron, kwkwkw* Alhamdulillah walaupun surat2nya begitu tapi mereka tetap mau belajar sampai selesai. Makasih yah murid-murid sayah. Hari ini saya keluar kelas kalian dengan rasa bangga melihat semangat kalian. From the deepest of my heart, I wish you for the best future

Yogyakarta, 26 Oktober 2011 jam 14:47