Monthly Archives: July 2014

Kisah Si Fulan yang Berhutang

Standard

Islam mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa bersikap jujur, menepati janji, dan melunasi setiap hutang. Salah satu kisah terukir dalam sejarah menggambarkan pertolongan Allah SWT kepada hamba-Nya yang jujur dan menepati janji. Kisah tersebut termaktub dalam hadits Bukhari Muslim yang dikisahkan oleh Abu Hurairah ra.

Dalam kisah tersebut dikisahkan, suatu hari, seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil datang kepada orang dari Bani Israil yang lain. Ia hendak meminjam uang sebesar seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya. Si pemberi pinjaman berkata kepada peminjam, “Datangkanlah para saksi. Saya akan minta mereka untuk bersaksi.”

Orang yang meminjam kemudian berkata, “Cukuplah Allah SWT menjadi saksi.”

Si pemberi pinjaman tak langsung percaya. Ia pun berkata lagi, “Bawakanlah seorang penjamin.“

Orang yang meminjam pun berkata lagi, “Cukuplah Allah SWT menjadi penjamin.”

Si pemberi pinjaman pun akhirnya percaya dan berkata, “Engkau benar.”

Setelah berkata demikian, ia memberikan uang sebanyak seribu dinar kepada peminjam. Ia juga menentukan batas waktu agar si peminjam segera mengembalikan uang pinjamannya.

Si peminjam kemudian pergi mengarungi lautan membawa uang seribu dinar dari sahabatnya dari kaum Bani Israil tersebut. Ia pergi selama beberapa hari untuk menyelesaikan urusannya. Ketika urusannya telah selesai, masa untuk mengembalikan uang pun tiba.

Si peminjam segera mencari kendaraan agar dapat kembali ke tempat pemberi pinjaman secepatnya. Setelah menunggu sekian lama, kendaraan yang dinanti tak segera datang. Ia pun mulai bimbang. Ia berusaha mencari ide bagaimana caranya bisa mengembalikan uang tersebut.

Tak lama kemudian, ia melihat sebuah kayu. Ia pun mengambil kayu tersebut dan melubanginya. Diselipkannya uang sebesar seribu dinar seperti yang ia janjikan kepada pemberi pinjaman pada lubang kayu tersebut.

Ia kemudian berkata dengan sungguh-sungguh, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah SWT sebagai penjamin.’ Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, ‘Cukuplah Allah SWT menjadi saksi.’ Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.”

Si peminjam kemudian melepaskan kayu itu ke air hingga ia tenggelam dan timbul kembali, lalu bergerak perlahan mengarungi lautan. Tak selesai sampai di situ, ia tetap berupaya mencari kendaraan untuk pergi menemui si pemberi pinjaman.

Sementara itu, pemberi pinjaman telah menanti-nanti kedatangan si peminjam. Namun, tak ada satupun kendaraan yang datang. Ia kemudian sebuah kayu terapung di dekatnya. Diambilnya kayu tersebut untuk dijadikan kayu bakar. Ketika ia menggergaji kayu tersebut, didapatinya uang seribu dinar terselip di tengah kayu tersebut.

Tak lama kemudian teman yang meminjam uang datang kepadanya. Ia menyerahkan seribu dinar seraya berkata, “Demi Allah, saya telah bersusah payah mencari kendaraan untuk menyerahkan piutangmu. Ternyata saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.”

Lelaki yang meminjamkan uang kemudian bertanya, “Apakah engkau pernah mengirimkan sesuatu padaku?”

Si peminjam pun menjawab, “Sudah kukatakan bahwa aku tidak menemukan kendaraan sebelum aku datang kemari.”

Pemberi pinjaman pun takjub dan berkata, “Allah telah mengantarkan sesuatu yang engkau kirimkan melalui kayu dan mengalir dengan membawa seribu dinar.”

Diuji dalam Kelapangan

Standard

Manusia sering menganggap kemiskinan dan kesulitan sebagai ujian. Tidak banyak yang menyadari bahwa ujian juga datang ketika manusia diberi kekayaan dan kelapangan. Allah SWT telah memberikan contoh dalam sebuah kisah.

Di antara kaum Bani Israil, terdapat tiga orang yang diberi ujian oleh Allah SWT berupa kekurangan fisik. Sebut saja ketiganya si belang, si botak, dan si buta. Suatu hari, Allah SWT mengutus seorang malaikat datang kepada mereka dengan wujud menyerupai manusia.

Malaikat itu pun datang kepada si belang dan bertanya, “Apa yang paling kau inginkan?” Si belangpun menjawab, “Aku ingin kulit dan wajah yang bagus, dan hilangkanlah penyakit yang membuat orang jijik padaku.”

Malaikat kemudian mengusap kulit orang tersebut. Seketika itu juga, hilanglah penyakit lelaki itu dan bergantilah rupa dan kulitnya menjadi bagus. Si belang pun sangat bahagia.

Malaikatpun bertanya lagi, “Kekayaan apa yang kau inginkan?” Ia menjawab, “Unta.” Maka malaikat memberikan seekor unta bunting dan berdoa, “Semoga Allah SWT memberkatimu dengan unta itu.”

Setelah itu, datanglah malaikat kepada si botak dan bertanya, “Apa yang kau inginkan?” Si botak menjawab, “Rambut yang bagus dan penyakitku hilang sehingga aku tidak hina dalam pandangan orang.”

Diusaplah kepala si botak oleh malaikat. Seketika itu pula rambut si botak tumbuh sangat indah dan penyakitnya pun hilang.

Malaikat kemudian bertanya lagi, “Kekayaan apa yang kau inginkan?” Ia menjawab, “Sapi.” Diberikanlah sebuah sapi bunting kepada si botak sembari malaikat berdoa, “Semoga Allah memberkatimu dengan sapi itu.”

Malaikat kemudian datang kepada si buta dan bertanya, “Apa yang paling kau inginkan?” Si buta menjawab, “Aku ingin penglihatanku kembali supaya dapat melihat orang-orang.”

Diusaplah mata si buta oleh malaikat dan seketika itu ia dapat melihat. “Kekayaan apa yang kau inginkan?” tanya malaikat. “Kambing.” kata si buta.

Si belang, si botak, dan si buta kemudian merawat hewan masing-masing hingga beranak banyak. Beberapa tahun kemudian, mereka mempunyai daerah sendiri yang penuh dengan unta, sapi, dan kambing.

Allah SWT kembali mengutus malaikat untuk menemui mereka dalam wujud menyerupai manusia. Pertama-tama, malaikat datang pada si belang. Ia berkata pada si belang, “Saya orang miskin yang tersesat. Tak ada yang dapat mengembalikan aku kecuali dengan pertolongan Allah SWT dan bantuanmu. Maka saya mengharap, demi Allah, yang memberi rupa dan kulit yang bagus, boleh saya meminta satu unta saja untuk meneruskan perjalananku ini?”

Si belang menjawab, “Masih banyak hak orang lain yang harus saya penuhi. Saya tidak bisa memberimu apa-apa. Mintalah pada orang lain.” Malaikat berkata, “Sepertinya aku pernah melihatmu. Bukankah kamu si belang yang dulu miskin dan menjijikkan, lalu Allah SWT memberikan kekayaan kepadamu?”

Si belang tidak mau mengakui pemberian Allah SWT dan berkata, “Saya mewarisi kekayaan saya dari orang tua.” Malaikat pun berkata, “Jika engkau dusta, semoga Allah SWT mengembalikanmu pada keadaan sebelumnya.”

Malaikat kemudian menemui si botak. Jawaban si botak tak jauh berbeda. Mereka ingkar atas apa yang telah Allah SWT berikan kepada mereka. Malaikat kemudian menemui si buta dengan kondisi tak jauh berbeda dengan keadaan si buta dahulu.

“Saya seorang perantau miskin yang sedang dalam perjalanan. Saya hanya dapat meneruskan perjalanan dengan pertolongan Allah SWT. Demi Allah SWT yang mengembalikan pandanganmu, berikanlah satu kambing untuk meneruskan perjalananku ini.”

Si buta menjawab, “Dulu aku memang buta, kemudian Allah SWT mengembalikan penglihatanku. Kini ambillah sesukamu. Aku tidak akan memberatkan sesuatu apapun yang kau ambil karena Allah.”

Mendengar itu, malaikat pun berkata, “Jagalah harta kekayaanmu. Sebenarnya kamu telah diuji. Maka Allah telah ridho kepadamu dan murka pada kedua temanmu.”

 

Oleh-oleh Ramadhan untuk Keponakan-Keponakan Kecilku

Standard

Berhubung tahun ini mungkin tidak bisa pulang, berhubung kalau di telpon malu-malu nggak mau ngomong, berhubung tidak bisa menemani belajar…dan berhubung-berhubung yang lain… mungkin cerita ini bisa jadi oleh-oleh.

Cerita ini sebenarnya tugas kantor yang ketika menuliskannya saya selalu teringat dengan keponakan-keponakan saya. Seandainya saya bisa mengisahkan ini kepada mereka. Semoga kalau tulisan dari Bulik sendiri nggak males bacanya dan semoga tidak ada kesalahan dalam ceritanya 😀

 

Kisah Nabi Yunus Ditelan Ikan Paus

 

Di suatu tempat bernama Ninawa, kota Mosul, hiduplah suatu kaum yang selalu durhaka pada Allah SWT dan senang menyembah berhala. Allah SWT kemudian mengutus Nabi Yunus as untuk berdakwah di sana. Nabi Yunus as adalah satu-satunya nabi yang dinasabkan kepada ibunya, Matta. Dia adalah lelaki yang selalu beribadat dan taat kepada Allah SWT.

Di kota Ninawa, Nabi Yunus as adalah orang asing. Ajakannya untuk beriman kepada Allah SWT tidak langsung mendapat sambutan. Setelah tiga tahun berdakwah di kota tersebut, hanya ada dua orang yang mau mengikutinya. Mereka adalah Rubil dan Tanukh.

Walaupun sulit, Nabi Yunus as tak pernah lelah berdakwah di Ninawa. Dia berdoa kepada Allah SWT agar umatnya mau menerima ajarannya. Melihat perjuangan Nabi Yunus as, Allah SWT kemudian mengirimkan wahyu yang menyatakan agar Nabi Yunus tetap berdakwah kepada rakyatnya selama 40 hari. Jika dalam 40 hari umatnya tidak mau beriman kepada Allah SWT, akan datang siksaan kepada mereka.

Mengetahui janji Allah SWT, Nabi Yunus as pun mengabarkan wahyu tersebut kepada umatnya. Namun, umat Nabi Yunus as tak memercayai kata-katanya. Mereka bahkan menantang Nabi Yunus as untuk mendatangkan siksaan tersebut. Nabi Yunus as pun geram. Hingga hari ke-37 umatnya tidak mau beriman. Nabi Yunus as tak tahan dan pergi meninggalkan umatnya. Ia berdoa agar Allah SWT memberikan hukuman pada orang-orang yang durhaka.

Setelah Nabi Yunus as pergi meninggalkan Ninawa, di hari ke-40, tanda-tanda azab Allah SWT pun tiba. Mendung hitam menggumpal di langit Ninawa. Binatang-binatang gusar. Angin dari seluruh penjuru arah bertiup kencang disertai suara gemuruh yang menakutkan. Warga Ninawa pun panik dan ketakutan.

Sementara itu, Nabi Yunus as terus berjalan meninggalkan kota Ninawa. Ia sampai di sebuah pantai. Di sana ia melihat sekelompok orang hendak menumpang kapal. Ia berbicara pada pemilik kapal agar diperbolehkan ikut menumpang. Nabi Yunus as lalu mengarungi lautan bersama para penumpang kapal lainnya. Di kapal itu, Nabi Yunus menjadi penumpang yang paling dihormati dan dicintai.

Di tengah laut, tiba-tiba kapal Nabi Yunus as diterjang gelombang dan angin kencang. Kapal yang mereka tumpangi oleng. Para penumpang pun panik dan ketakutan. “Biasanya kapal ini mau membawa pelarian. Kalau ada pelarian di dalam kapal, pasti terjadi hal seperti ini.” kata pemilik kapal.

Pemilik kapal meminta salah seorang untuk mengaku dan terjun ke dalam air demi keselamatan penumpang lainnya. Namun, tidak ada seorang pun yang mau mengaku. Para penumpang akhirnya sepakat melakukan undian untuk menentukan orang yang akan terjun ke laut, supaya kapal menjadi ringan.

Setelah diundi, nama Nabi Yunus as muncul. Para penumpang berat hati membiarkan Nabi Yunus as yang sangat dihormati dan dicintai terjun ke dalam lautan. Mereka pun melakukan undian lagi. Setelah beberapa kali undian, hanya nama Nabi Yunus as yang muncul. Nabi Yunus as pun merenung dan menyadari kesalahannya. Dia sadar telah melakukan kesalahan karena meninggalkan umatnya.

“Betul, saya seorang pelarian.” kata Nabi Yunus as setelah menyadari kesalahannya.

Tanpa pikir panjang, Nabi Yunus as menceburkan dirinya ke lautan yang penuh gelombang besar. Tak disangka, datang ikan paus besar yang kemudian menelan Nabi Yunus as. Dia berada dalam perut ikan paus dalam waktu lama. Dalam perhitungan normal, Nabi Yunus as seharusnya telah meninggal dunia. Namun Nabi Yunus as ternyata masih mampu menggerakkan anggota tubuhnya.

Selama berada di dalam perut ikan paus, Nabi Yunus as mendengar ikan-ikan di lautan bertasbih kepada Allah SWT. Ia juga mendengar seluruh alam ciptaan Allah SWT, seperti baru kerikil, tumbuhan dan biji-bijian bertasbih kepada-Nya. Nabi Yunus as adalah orang yang banyak mengingat Allah SWT. Karena itu, ia pun tak henti-henti mengucapkan tasbih dan tahlil kepada Allah SWT. Nabi Yunus as bertaubat atas kesalahannya dengan penuh ketundukan.

Nabi Yunus as kemudian berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah tidak ada Tuhan melainkan Engkau yang Maha Suci dan sesungguhnya aku termasuk golongan orang yang menganiaya diri sendiri. Aku tidak sabar sehingga aku melarikan diri dari kaumku sebelum ada wahyu-Mu. Ampunilah dosa kami wahai Tuhanku.”

Allah SWT mendengar doa Nabi Yunus as dan mengabulkannya. Dikeluarkanlah Nabi Yunus as dari perut ikan paus dan dilemparkannya ke darat. Nabi Yunus as sakit dan tubuhnya kurus kering. Allah SWT memberikan kesembuhan pada Nabi Yunus as hingga dia bisa mengunjungi kota Ninawa.

Ketika sampai di kota Ninawa, Nabi Yunus as pun terpana. Tidak ada lagi berhala di kota tersebut. Ternyata, ketika musibah menimpa penduduk kota Ninawa, mereka ketakutan luar biasa. Mereka pun menyadari bahwa Nabi Yunus as bukan seorang pendusta. Mereka mencari-cari Nabi Yunus as tapi tidak menemukan dia.

Akhirnya, penduduk Ninawa pergi ke padang-padang pasir dan bukit-bukit. Mereka menangis dan bertaubat kepada Allah SWT. Melihat penduduk Ninawa telah bertaubat, Allah SWT mengampuni mereka dan menjadikan langit Ninawa perlahan menjadi terang benderang. Allah Yang Maha Pengampun mengampuni Nabi Yunus as dan umatnya yang melakukan taubat dengan penuh ketundukan.