Dilema Pendidikan Bahasa Inggris

Standard

Gak tau kenapa waktu mau nulis background skripsi selalu kepikir sama frasa di atas. Yoi, emang Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia ni masih aja di taraf dilema.

Dilema pertama, Globalization and Nationalism.

Ini pernah di bahas di Bunga Rampai Pendidikan Bahasa dan Budaya karangan lupa saya *sori lagi males ngacak buku. Intinya, ada dilema besar dalam diri bangsa Indonesia. Ada ketakutan besar bahwa dengan giatnya orang mempelajari bahasa Inggris, maka nilai nasionalisme akan turun. Dengan kata lain, asupan pelajaran bahasa Inggris berbanding terbalik dengan nilai nasionalisme *ishsampe kemanamana :P.

Ini pernah aku temui juga ketika melakukan observasi di sebuah Taman Kanak-Kanak Islam di daerahku. Kata kepala sekolahnya, “Kan ini sekolah Islam to mbak, jadi nanti kalau dikasih pelajaran Bahasa Inggris takutnya nilai-nilai keIslamannya kurang.”

Kalau menurutku, nggak ada hubungan juga antara nilai keIslaman dengan pembelajaran Bahasa Inggris. Toh pembelajaran Bahasa Inggris di TK/SD baru sampai pada tahap kosakata saja. Bahasa Inggris juga ‘hanya’ media komunikasi internasional. Artinya bahasa ini hanya menjadi pengantar pada dunia yang lebih luas, bukan diajarkan sebagai alat propaganda. Toh kalau kita mau bersikap terbuka, dunia Islam sendiri membutuhkan orang-orang yang bisa berbahasa Inggris dan menyuarakan Islam di kancah internasional.

Begitu juga hal nya dengan nasionalisme. Pengajaran Bahasa Inggris tidak ada kaitannya sama sekali dengan nasionalisme. Apabila jiwa nasionalisme sudah tumbuh dalam diri bangsa Indonesia, pemberian asupan bahasa maupun kebudayaan asing tidak akan mengikis, justru memperkaya pengetahuan dan jiwa toleran pelakunya. Jadi, permasalahannya bukan bagaimana mengajarkan bahasa Inggris yang tidak mengikis jiwa nasionalisme..tapi bagaimana jiwa nasionalisme itu diperkuat sehingga pemberian bahasa Inggris membawa nilai positif bagi bangsa Indonesia.

Toh pada kenyataannya kita memang butuh belajar Bahasa Ingris. Dari hal yang paling simpel. Seorang pemakai komputer yang mengerti bahasa Inggris akan lebih piawai dari yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Seorang mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk menerjemahkan jurnal apabila bisa memahami teks berbahasa Inggris. Seorang karyawan punya nilai lebih jika mampu berbahasa Inggris. Dan banyak hal lagi.

Dilema kedua, to communicate or to be graduated.

Dilema ini pasti dialami oleh hampir semua guru yang mengajar saat ini. Dengan adanya Ujian Nasional, artinya ada standard-standar yang harus dipenuhi dalam pengajaran di kelas. “Apakah saya harus mengajarkan Bahasa Inggris sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa saya, atau saya harus mengajarkan apa yang nantinya akan keluar di Ujian Nasional?” pertanyaan ini mungkin sering muncul di benak para guru.

Banyak cara dilakukan oleh guru dan sekolah untuk mengatasi hal ini, terutama dengan memberikan les bahasa Inggris tambahan bagi siswa. Di beberapa sekolah juga ada program darmawisata untuk mempraktikan langsung bahasa Inggris yang dipelajari di sekolah. tapi lagi-lagi, ketika memasuki kelas akhir, pihak sekolah akan berlomba untuk memenuhi tuntutan soal-soal ujian Nasional dan menjejali para siswa dengan soal-soal latihan.

*well, for this..honestly i have no solution –”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s