BEDA TIPIS

Standard

–Ada seseorang di seberang sana yang kurindukan. Yang mungkin dia juga merasakan, tapi tak pernah lagi bisa terungkapkan–

Karna tak pernah memahami mengapa persahabatan yang dulunya terjalin dengan indah akhirnya harus berakhir menjadi sampah. Itulah masa lalu. Penyakit pertama yang meruntuhkan sebagian impiannya.

Bagi sebagian orang memiliki masa lalu yang suram adalah hal biasa. Tapi tidak begitu bagi Karna dan mungkin sebagian orang lain yang baru pertama merasakan pengalaman suram. Apalagi jika dulu, hidupnya penuh keindahan. Keindahan hidup yang dimaksud Karna bukan karena ia punya kehidupan yang sempurna. Bukan karena harta, bukan keluarga, bukan tahta, atau wanita…Bagi Karna, menjalani hidup sesuai dengan kebaikan yang dia yakini adalah keindahan hidup itu sendiri.

Sayangnya, bukan hidup namanya jika selalu sesuai dengan apa yang Karna inginkan. Walau sekuat tenaga dia buat dalam hidupnya tiada keinginan untuk menyakiti orang lain, nyatanya ada yang tersakiti olehnya tanpa dia inginkan.

Karna tidak pernah menceritakan secara detail bagaimana peristiwanya, tapi pengalaman buruk adalah pengalaman buruk. Hubungan dekat sesama kawan itu telah berakhir. Lebih karena salah paham. Tapi kesalahpahaman yang tidak pernah dibicarakan itu terlalu berakibat fatal. Lalu, ya, semuanya berakhir.

Bagi Karna yang awalnya tidak pernah membayangkan punya musuh, semuanya telah berakhir. Tapi itu bukan akhir dari sakit yang ia dera. Di titik yang sama ketika ia memutuskan semuanya berakhir, maka luka itu baru dimulai. Rasa benci, bahkan dendam, baru mulai muncul. Ia mempertanyakan hal yang dia tahu sendiri, tak berguna. Mengapa ini terjadi padaku, katanya.

Membayangkan saja tidak pernah, mengapa harus terjadi padaku? Kalimat ini saja yang muncul berulang-ulang dalam benaknya. Lama sekali bergulir, tak terasa beberapa tahun dilaluinya tanpa berhenti mempertanyakan hal itu.

Ketika dia bangun pagi itu dengan kepercayaan baru bahwa semuanya telah benar-benar berakhir, termasuk benci dan dendamnya, bahwa masa lalu itu telah ia hapus betul-betul dalam cerita suramnya, ketika itu pula –sayangnya- ia menyadari telah begitu banyak yang hilang dalam hidupnya. Pekerjaannya berjalan dengan tidak optimal, keluarganya terabaikan.

Di titik itu pula dia berkata dalam hati, dengan berhenti seperti ini, aku menghentikan sendiri kehidupanku. Roda hidupku yang seharusnya membawaku berjalan maju tidak juga bergerak. Tidak ada yang mampu mendorongnya, hanya aku. Maka tidak ada pilihan lain, aku harus memutar roda itu sendiri. Hidupku, tidak ada pilihan lain, harus dilanjutkan. Dia melihat kembali semua masa suramnya dengan pandangan yang baru. Dia memilah satu per satu, mengambil kepingan-kepingan yang bermakna. Setelah semuanya selesai, setelah ia mengantongi semua kebaikan dari masa lalunya yang tak menyenangkan, sisanya benar-benar ia buang ke alam fana yang tak mampu ia jamah lagi. Itulah masa lalu yang buruk. Ia meninggalkan sakit yang begitu mendalam. Ia tak pernah ingin diingat.

Beberapa tahun kemudian, Karna mengenal seorang gadis. Ini pertama kalinya dia jatuh cinta. Jatuh cinta itu, sejauh yang dia rasakan, tak pernah seperti yang orang-orang ceritakan.

Kata orang cinta itu buta, hm..ya terkadang. Kata orang ketika jatuh cinta, tahi ayam terasa coklat. Karna terkekeh. Pertama karena biarpun dia jatuh cinta, dia tidak akan sedikitpun berusaha membuktikan secara real rasa tahi ayam dalam momentum itu. Kedua, karena jatuh cinta tidak membuatnya hilang berpijak. Bunga tetaplah bunga, tapi kumbang yang datang menghisap bunga tetap ia lihat sebagai kumbang; yang jika dikomparasikan dengan bunga yang indah, ia adalah sosok yang menakutkan.

Mendengar perkataan orang yang lain pada Karna, katanya, kalau cinta membuat kamu bersedih terus, menangis terus, itu bukan cinta. Cinta itu menguatkan, membuat kita senang, bahagia, dia jadi menyangsikan kalau dia telah jatuh cinta. Tapi nyatanya dia jatuh cinta. Kali ini, dia yakin telah jatuh cinta. Dengan buncahan perasaannya yang dalam, yang tertata, terkendali, yang tidak membuatnya lepas diri.

Dengan beberapa sudut pandang dia berusaha memahami kalimat-kalimat kawannya itu. Ya, sepertinya dia tahu maksudnya, walau tidak sepenuhnya sepakat. Bukankah seindah-indah cinta akan berakhir dengan air mata? Dan bukankah sebahagianya orang jatuh cinta, pada akhirnya ia pun akan merasakan kesedihan? Coba bayangkan jika di puncak rasa cinta itu direnggutlah inti kehidupan si yang dicintai. Mati. Hilang. Seperti apapun akan dikenang, hubungan itu selesai. Berubah menjadi cinta platoik yang fana.

Gadis yang dicintai Karna bukan gadis sempurna. Dia tahu betul. Kehidupan hubungan mereka tak pernah akur. Tapi bagi Karna, setiap pertengkaran yang terjadi justru menguatkan hubungan mereka. Setiap kesalahpahaman selalu diselesaikan. Segala yang buram diperjelas. Semua yang rumit terurai. Mereka punya kehidupan yang indah dibalik semua pertengkaran yang terjadi.

Rasa cintanya semakin besar, semakin luas. Terkadang ia bahkan hilang kendali. Ia seperti hendak memberikan segalanya pada si gadis. Seperti seluruh kehidupannya hendak dicurahkan.

Sampai suatu hari di pertengkaran yang ke seratus dua puluh sembilan… Karna terkekeh lagi mengingat hal ini. Seratus dua puluh sembilan pertengkaran. Ya..setelah seratus dua puluh sembilan pertengkaran yang baginya adalah seratus dua puluh sembilan tangga menuju hubungan yang lebih baik, si gadis nampak kelelahan. Tanpa daya dia berkata pada Karna, Biarkan aku beristirahat. Sendirian. Selamanya. Tanpamu.

Hal ini sudah sering terjadi, tapi untuk yang ke seratus dua puluh sembilan.. Karna berpikir Gadis itu sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh dengan ucapannya kali ini. Dia pergi. Sesingkat itu, setidak romantis itu. Hanya seperti itu saja.

Dan lagi-lagi karena rasa cintanya yang begitu dalam, Karna akhirnya membiarkan semuanya terjadi. Karena cinta. Ya, bahkan karena cinta, cinta itu sendiri harus berakhir.

Karna lalu menjalani kehidupannya seperti biasa. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang perlu ditakutkan. Gadis itu menghilang. Dia tidak bisa mencari lagi. Dia tidak mampu lagi mencari. Karna menganggap kehidupannya tetap normal seperti lebih dari dua puluh tahun yang dia habiskan tanpa kekasih. Hal mudah bukan? Dia tertawa dengan bangga, kadang melamun.

***

          Seorang anak kecil berjalan sendirian, menyepak-nyepak apapun yang ia temukan. Di sebuah kertas yang baru saja dia temukan, tertulis kalimat oleh entah siapa.

Masa lalu suram ketika itu jelas menyakitkan. Masa lalu indah yang tak bisa kugenggam sekarang ini tak berbeda. Tapi bukan masa lalu yang menentukan hidup. Apa yang kita lakukan sekarang dan bagaimana kita merencanakan masa depan lah kunci utamanya.

Tak paham, gadis kecil melempar kertas usang itu dan berlari-lari kecil dengan gembira.

SH/25 Oktober 2012/05:03

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s