Monthly Archives: January 2013

Dilema Pendidikan Bahasa Inggris

Standard

Gak tau kenapa waktu mau nulis background skripsi selalu kepikir sama frasa di atas. Yoi, emang Pendidikan Bahasa Inggris di Indonesia ni masih aja di taraf dilema.

Dilema pertama, Globalization and Nationalism.

Ini pernah di bahas di Bunga Rampai Pendidikan Bahasa dan Budaya karangan lupa saya *sori lagi males ngacak buku. Intinya, ada dilema besar dalam diri bangsa Indonesia. Ada ketakutan besar bahwa dengan giatnya orang mempelajari bahasa Inggris, maka nilai nasionalisme akan turun. Dengan kata lain, asupan pelajaran bahasa Inggris berbanding terbalik dengan nilai nasionalisme *ishsampe kemanamana :P.

Ini pernah aku temui juga ketika melakukan observasi di sebuah Taman Kanak-Kanak Islam di daerahku. Kata kepala sekolahnya, “Kan ini sekolah Islam to mbak, jadi nanti kalau dikasih pelajaran Bahasa Inggris takutnya nilai-nilai keIslamannya kurang.”

Kalau menurutku, nggak ada hubungan juga antara nilai keIslaman dengan pembelajaran Bahasa Inggris. Toh pembelajaran Bahasa Inggris di TK/SD baru sampai pada tahap kosakata saja. Bahasa Inggris juga ‘hanya’ media komunikasi internasional. Artinya bahasa ini hanya menjadi pengantar pada dunia yang lebih luas, bukan diajarkan sebagai alat propaganda. Toh kalau kita mau bersikap terbuka, dunia Islam sendiri membutuhkan orang-orang yang bisa berbahasa Inggris dan menyuarakan Islam di kancah internasional.

Begitu juga hal nya dengan nasionalisme. Pengajaran Bahasa Inggris tidak ada kaitannya sama sekali dengan nasionalisme. Apabila jiwa nasionalisme sudah tumbuh dalam diri bangsa Indonesia, pemberian asupan bahasa maupun kebudayaan asing tidak akan mengikis, justru memperkaya pengetahuan dan jiwa toleran pelakunya. Jadi, permasalahannya bukan bagaimana mengajarkan bahasa Inggris yang tidak mengikis jiwa nasionalisme..tapi bagaimana jiwa nasionalisme itu diperkuat sehingga pemberian bahasa Inggris membawa nilai positif bagi bangsa Indonesia.

Toh pada kenyataannya kita memang butuh belajar Bahasa Ingris. Dari hal yang paling simpel. Seorang pemakai komputer yang mengerti bahasa Inggris akan lebih piawai dari yang tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Seorang mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya mahal untuk menerjemahkan jurnal apabila bisa memahami teks berbahasa Inggris. Seorang karyawan punya nilai lebih jika mampu berbahasa Inggris. Dan banyak hal lagi.

Dilema kedua, to communicate or to be graduated.

Dilema ini pasti dialami oleh hampir semua guru yang mengajar saat ini. Dengan adanya Ujian Nasional, artinya ada standard-standar yang harus dipenuhi dalam pengajaran di kelas. “Apakah saya harus mengajarkan Bahasa Inggris sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh siswa saya, atau saya harus mengajarkan apa yang nantinya akan keluar di Ujian Nasional?” pertanyaan ini mungkin sering muncul di benak para guru.

Banyak cara dilakukan oleh guru dan sekolah untuk mengatasi hal ini, terutama dengan memberikan les bahasa Inggris tambahan bagi siswa. Di beberapa sekolah juga ada program darmawisata untuk mempraktikan langsung bahasa Inggris yang dipelajari di sekolah. tapi lagi-lagi, ketika memasuki kelas akhir, pihak sekolah akan berlomba untuk memenuhi tuntutan soal-soal ujian Nasional dan menjejali para siswa dengan soal-soal latihan.

*well, for this..honestly i have no solution –”

 

Advertisements

BEDA TIPIS

Standard

–Ada seseorang di seberang sana yang kurindukan. Yang mungkin dia juga merasakan, tapi tak pernah lagi bisa terungkapkan–

Karna tak pernah memahami mengapa persahabatan yang dulunya terjalin dengan indah akhirnya harus berakhir menjadi sampah. Itulah masa lalu. Penyakit pertama yang meruntuhkan sebagian impiannya.

Bagi sebagian orang memiliki masa lalu yang suram adalah hal biasa. Tapi tidak begitu bagi Karna dan mungkin sebagian orang lain yang baru pertama merasakan pengalaman suram. Apalagi jika dulu, hidupnya penuh keindahan. Keindahan hidup yang dimaksud Karna bukan karena ia punya kehidupan yang sempurna. Bukan karena harta, bukan keluarga, bukan tahta, atau wanita…Bagi Karna, menjalani hidup sesuai dengan kebaikan yang dia yakini adalah keindahan hidup itu sendiri.

Sayangnya, bukan hidup namanya jika selalu sesuai dengan apa yang Karna inginkan. Walau sekuat tenaga dia buat dalam hidupnya tiada keinginan untuk menyakiti orang lain, nyatanya ada yang tersakiti olehnya tanpa dia inginkan.

Karna tidak pernah menceritakan secara detail bagaimana peristiwanya, tapi pengalaman buruk adalah pengalaman buruk. Hubungan dekat sesama kawan itu telah berakhir. Lebih karena salah paham. Tapi kesalahpahaman yang tidak pernah dibicarakan itu terlalu berakibat fatal. Lalu, ya, semuanya berakhir.

Bagi Karna yang awalnya tidak pernah membayangkan punya musuh, semuanya telah berakhir. Tapi itu bukan akhir dari sakit yang ia dera. Di titik yang sama ketika ia memutuskan semuanya berakhir, maka luka itu baru dimulai. Rasa benci, bahkan dendam, baru mulai muncul. Ia mempertanyakan hal yang dia tahu sendiri, tak berguna. Mengapa ini terjadi padaku, katanya.

Membayangkan saja tidak pernah, mengapa harus terjadi padaku? Kalimat ini saja yang muncul berulang-ulang dalam benaknya. Lama sekali bergulir, tak terasa beberapa tahun dilaluinya tanpa berhenti mempertanyakan hal itu.

Ketika dia bangun pagi itu dengan kepercayaan baru bahwa semuanya telah benar-benar berakhir, termasuk benci dan dendamnya, bahwa masa lalu itu telah ia hapus betul-betul dalam cerita suramnya, ketika itu pula –sayangnya- ia menyadari telah begitu banyak yang hilang dalam hidupnya. Pekerjaannya berjalan dengan tidak optimal, keluarganya terabaikan.

Di titik itu pula dia berkata dalam hati, dengan berhenti seperti ini, aku menghentikan sendiri kehidupanku. Roda hidupku yang seharusnya membawaku berjalan maju tidak juga bergerak. Tidak ada yang mampu mendorongnya, hanya aku. Maka tidak ada pilihan lain, aku harus memutar roda itu sendiri. Hidupku, tidak ada pilihan lain, harus dilanjutkan. Dia melihat kembali semua masa suramnya dengan pandangan yang baru. Dia memilah satu per satu, mengambil kepingan-kepingan yang bermakna. Setelah semuanya selesai, setelah ia mengantongi semua kebaikan dari masa lalunya yang tak menyenangkan, sisanya benar-benar ia buang ke alam fana yang tak mampu ia jamah lagi. Itulah masa lalu yang buruk. Ia meninggalkan sakit yang begitu mendalam. Ia tak pernah ingin diingat.

Beberapa tahun kemudian, Karna mengenal seorang gadis. Ini pertama kalinya dia jatuh cinta. Jatuh cinta itu, sejauh yang dia rasakan, tak pernah seperti yang orang-orang ceritakan.

Kata orang cinta itu buta, hm..ya terkadang. Kata orang ketika jatuh cinta, tahi ayam terasa coklat. Karna terkekeh. Pertama karena biarpun dia jatuh cinta, dia tidak akan sedikitpun berusaha membuktikan secara real rasa tahi ayam dalam momentum itu. Kedua, karena jatuh cinta tidak membuatnya hilang berpijak. Bunga tetaplah bunga, tapi kumbang yang datang menghisap bunga tetap ia lihat sebagai kumbang; yang jika dikomparasikan dengan bunga yang indah, ia adalah sosok yang menakutkan.

Mendengar perkataan orang yang lain pada Karna, katanya, kalau cinta membuat kamu bersedih terus, menangis terus, itu bukan cinta. Cinta itu menguatkan, membuat kita senang, bahagia, dia jadi menyangsikan kalau dia telah jatuh cinta. Tapi nyatanya dia jatuh cinta. Kali ini, dia yakin telah jatuh cinta. Dengan buncahan perasaannya yang dalam, yang tertata, terkendali, yang tidak membuatnya lepas diri.

Dengan beberapa sudut pandang dia berusaha memahami kalimat-kalimat kawannya itu. Ya, sepertinya dia tahu maksudnya, walau tidak sepenuhnya sepakat. Bukankah seindah-indah cinta akan berakhir dengan air mata? Dan bukankah sebahagianya orang jatuh cinta, pada akhirnya ia pun akan merasakan kesedihan? Coba bayangkan jika di puncak rasa cinta itu direnggutlah inti kehidupan si yang dicintai. Mati. Hilang. Seperti apapun akan dikenang, hubungan itu selesai. Berubah menjadi cinta platoik yang fana.

Gadis yang dicintai Karna bukan gadis sempurna. Dia tahu betul. Kehidupan hubungan mereka tak pernah akur. Tapi bagi Karna, setiap pertengkaran yang terjadi justru menguatkan hubungan mereka. Setiap kesalahpahaman selalu diselesaikan. Segala yang buram diperjelas. Semua yang rumit terurai. Mereka punya kehidupan yang indah dibalik semua pertengkaran yang terjadi.

Rasa cintanya semakin besar, semakin luas. Terkadang ia bahkan hilang kendali. Ia seperti hendak memberikan segalanya pada si gadis. Seperti seluruh kehidupannya hendak dicurahkan.

Sampai suatu hari di pertengkaran yang ke seratus dua puluh sembilan… Karna terkekeh lagi mengingat hal ini. Seratus dua puluh sembilan pertengkaran. Ya..setelah seratus dua puluh sembilan pertengkaran yang baginya adalah seratus dua puluh sembilan tangga menuju hubungan yang lebih baik, si gadis nampak kelelahan. Tanpa daya dia berkata pada Karna, Biarkan aku beristirahat. Sendirian. Selamanya. Tanpamu.

Hal ini sudah sering terjadi, tapi untuk yang ke seratus dua puluh sembilan.. Karna berpikir Gadis itu sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh dengan ucapannya kali ini. Dia pergi. Sesingkat itu, setidak romantis itu. Hanya seperti itu saja.

Dan lagi-lagi karena rasa cintanya yang begitu dalam, Karna akhirnya membiarkan semuanya terjadi. Karena cinta. Ya, bahkan karena cinta, cinta itu sendiri harus berakhir.

Karna lalu menjalani kehidupannya seperti biasa. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang perlu ditakutkan. Gadis itu menghilang. Dia tidak bisa mencari lagi. Dia tidak mampu lagi mencari. Karna menganggap kehidupannya tetap normal seperti lebih dari dua puluh tahun yang dia habiskan tanpa kekasih. Hal mudah bukan? Dia tertawa dengan bangga, kadang melamun.

***

          Seorang anak kecil berjalan sendirian, menyepak-nyepak apapun yang ia temukan. Di sebuah kertas yang baru saja dia temukan, tertulis kalimat oleh entah siapa.

Masa lalu suram ketika itu jelas menyakitkan. Masa lalu indah yang tak bisa kugenggam sekarang ini tak berbeda. Tapi bukan masa lalu yang menentukan hidup. Apa yang kita lakukan sekarang dan bagaimana kita merencanakan masa depan lah kunci utamanya.

Tak paham, gadis kecil melempar kertas usang itu dan berlari-lari kecil dengan gembira.

SH/25 Oktober 2012/05:03