Misi Kecil dari Kelas si Kecil

Standard

 

Kaya biasanya, hari ini jadwal mengajar di B*mijo. Cerita hari ini tentang Bayu, murid saya yang mungkin agak special.

Sudah beberapa pertemuan dia nggak masuk. Terakhir masuk, dia sakit gigi. Hm, jujur anak ini agak merepotkan saya..tapi bukan merepotkan dalam arti menjengkelkan. Dia membuat saya penasaran, ada apa yah dengan hidupnya? J

#Pertama kali saya ketemu sama Bayu, saya lihat anaknya biasa-biasa saja. Aktif, rame, ribut, lari-larian, naik ke meja sama seperti anak-anak cowok yang lain. Dan seperti anak yang lain pula, dia suka mencari perhatian saya. Bukan dengan cara manja, tapi dengan menunjukkan kalau ‘Dia anak baik.”

Saya masih ingat, dia selalu mengambil potongan-potongan kapur, lalu menyerahkannya pada saya. Berulang-ulang. Mengganggu sih, kaya orang tukang pungut kapur aja. Tapi namanya anak-anak, mereka melakukannya dengan tulus dan mengharap kita meresponnya. So, I take the chalk from his hand, say thank you, then take the chalk on the chalk box. Dan tindakan ini membuat dia senang, namun semakin semangat memunguti kapur buat saya. *Bingung deh* 😀

Di pertemuan kedua, saya mulai melihat ‘sesuatu’nya si Bayu ini. Selain suka mencari perhatian, dia juga sepertinya lambat belajar. Ketika mencatat, dia sibuk bertanya terus. Awalnya saya pikir ini cara dia untuk memancing perhatian saya. Tapi setelah berkali-kali bertanya *hampir tiap 1huruf maju, tanya, nulis, maju lagi, …*, akhirnya saya dekati dia dan melihat pekerjaannya. O my Godness, teman-temannya sudah hampir selesai dan dia baru dapat satu kata -__-

Ketika diajak ngomong, Bayu juga seperti kesusahan mengungkapkan perasaan atau pemikirannya. Jawabnya lama, kadang tidak dijawab. Saya sempat mengira, apa ada kesulitan bahasa? Hm..nggak juga, bahasa Indonesia dia bagus. Apa dia lambat bicara *terkadang mempengaruhi daya cerna otak*? Hm..bicaranya juga bagus. So what makes him like this?? Nggak ngerti sayah.. -_-

“Apakah budaya di keluarganya yang membuat dia kesulitan mengungkapkan perasaan?” hm..saya belum tau.

Yang lebih mengagetkan lagi, ketika saya duduk di meja saya..dia datang mendekati dan menunjukkan jarinya sambil dimain-mainkan. Awalnya saya pikir itu kelingking, tapi tiba-tiba saya agak mual. Wait! What’s that?? Saya perhatikan lagi jarinya, normal…lima! Lalu yang tadi?

Ternyata, Bayu ini punya jadi keenam. Jadi di samping jempolnya, ada tulang semacam jari yang tidak berkembang, sangat kecil, yang tumbuh. Saya mau bertanya apa yang terjadi sama jari Bayu, dan apakah sakit…tapi melihat Bayu memainkannya sambil tertawa-tawa, saya pikir dia pasti baik-baik saja *tidak sakit secara fisik*. Apalagi menanyakan itu termasuk hal yang sensitif, mungkin tidak saat ini.

Sejak itu, saya mulai memperhatikan Bayu. Bukan karena kasihan, tapi rasa penasaran dan keingintahuan saya. Ada sesuatu yang menghambat pembelajaran karena hal ini, dan dia butuh perhatian khusus, tapi perhatian seperti apa? Saya perlu tau lebih banyak tentang dia dan apa yang dia butuhkan.

#Bayu ini, secara fisik lebih kecil dibanding anak-anak yang lain. Badannya pendek, kurus, suaranya juga kecil. Nggak tau kenapa, tapi Bayu ini sepertinya menikmati aktivitasnya sendiri. Terkadang dia tidak menghiraukan sama sekali ketika saya panggil, atau hanya menengok kemudian sibuk lagi dengan aktivitasnya. Saya sering kali harus mengulang pertanyaan 3-4-5 kali dan tetap tidak mendapat jawaban darinya, hingga saya berpikir…dia tidak menangkap pertanyaan saya, dia tidak tau jawabannya, atau kenapa???

Karena fisiknya yang kecil, buat saya, dia nampak tidak sehat. “Kayanya ini tipe anak yang gampang sakit.” batin saya. Anak ini gampang sekali berkeringat, lebih dari anak-anak yang lain. Sampai suatu ketika, di pertemuan awal kami, saya pernah minta dia ke kamar mandi untuk mencuci muka karena mukanya terlihat kotor *seperti habis main tanah*. Padahal itu hanya karena keringat + tangan dia yang kotor.

#Betul saja, di pertemuan entah ke berapa, dia sakit. Katanya dia sakit gigi. Ketika saya mengajar, dia mendatangi saya dan bilang kalau sakit gigi. Saya bilang sama dia untuk ke ruang guru, akan saya antar, tapi dia tidak mau. Ke UKS, dia juga tidak mau. Hm…gimana coba?

Akhirnya saya melanjutkan pelajaran melihat anak-anak lain sudah mulai agak ribut. Tidak berapa lama, Bayu menghampiri saya lagi dan bilang giginya sakit. Saya kembali menawarkan agar dia ke ruang guru agar diantar pulang, dia tidak mau. Ke UKS? Tidak mau.

Saya: “Kalau gitu ditahan ya Bayu ya? Kuat nggak?”

Bayu: geleng-geleng

Saya: “Hm..ya udah Bayu pulang aja yah? Nggak papa kok, besok lihat catatan temannya aja. Ya?”

Bayu: geleng-geleng

Aduh pusing juga lo, bayangin aja..mau ngelanjutin pelajaran gak bisa, mengingat dia di kelas diam saja seperti menangis, lalu terus mencari perhatian saya. Dia diminta pulang juga nggak mau. Diminta nahan sakitnya nggak kuat. Hooo musti gimana ini sayah? *bingung mode: ON*

Akhirnya saya beri tugas untuk dikerjakan anak-anak lain, lalu sembari menunggu mereka selesai, saya bawa Bayu ke UKS. Untungnya mau. Tapi malah UKS kosong ga ada yang jaga! Hufh..akhirnya saya ke ruang guru dan bertemu seorang guru laki-laki *belum kenal*.

Saya: “Bapak maaf, ini ada anak yang sakit..tapi nda mau diminta pulang. Gimana ya pak?”

Bapak guru: “Oh siapa Mbak?”

Saya: Ini pak, Bayu.

Bapak guru: Oh, sakit lagi Bayu?

Dan perbincangan berlanjut. Ternyata bener Bayu sering sakit. Hmm..bingung euy. Udah dibujuk pak Guru pun nggak mau pulang dia.

Nggak berapa lama, Ayahnya si Bayu ini datang. Beuh! Ayahnya lembut banget orangnya euy! Suka sayah *suka sama sikapnya sebagai seorang Ayah* Tapi dasar si Bayu, dia tetep g mau diajak pulang. Ya sudah lah, dia masuk lagi di kelas saya, sambil saya bilang “Ya udah Bayu di kelas aja, tapi jangan nangis ya, ditahan dulu sakitnya, bentar lagi kita pulang yah.” *saya tidak punya solusi lain*

Akhirnya tidak lama, setelah memastikan tugas selesai, kelas saya pulangkan. Bayu juga pulang.

#Nah, hari ini ada cerita lagi. Bayu rebutan mainan sama Bobby. Bobby ini anak Chinese, suka ribut, lucu dan lincah.

Bayu dari tadi ribut dengan mainannya *sebangsa terompet*. Agak mengganggu sih, tapi itulah dia, yang hanya sibuk dengan aktivitas yang disukainya. Mendadak pertengkaran kecil terjadi, ketika Bobby ingin merebut mainan Bayu. Mereka tarik-tarikan. Hfh..saya yakin nih ujung2nya MEWEK! >.<

Saya: Bobby, jangan gitu dong..

Bobby: ini tu bukan punya Bayu miss

Saya: Punya siapa itu?

Bobby: ini tadinya punyaku…sini (sambil menarik paksa mainannya)

Bayu tetap menahan tanpa bilang apa-apa, tapi ekspresi mukanya..hm..saya tau ada masalah!

Akhirnya Bobby ngotot, Bayu juga walau tanpa kata-kata. Bayu tau itu bukan mainannya, tapi dia nggak mau lepas, sedangkan Bobby juga nggak mau meminjamkan. Saya bilang, “Sudah sini Miss Handa bawa aja, jangan mainan di kelas.” Tetap tidak ada reaksi. Si Bobby, secara badannya lebih gede, menang.

Nah habis itu insiden terjadi. Bayu ini, seperti sudah saya perkirakan…marah. Dia menangis *dengan teriakannya yang melengking* lalu berbuat sesukanya. Ada tongkat besi dia ambil, mau dibuat mukul Bobby. Lalu saya ambil dan saya amankan. Lalu dia ambil kayu, saya ambil lagi. ARGH!

Sekitar 10 menit, setelah saya menenangkan kelas, semuanya selesai. Tapi sedikit-sedikit Bayu mengamuk. Oh my God. Salah satu misi saya di kelas ini: I want to know about you, Bayu!

Ada apa sama dirimu dengan kekurangan kamu itu? Dan apa yang terjadi dengan hidupmu? Dan bagaimana caranya saya bisa membantu kamu belajar dengan baik di kelas saya? Cara apa pula yang paling tepat buat saya untuk memotivasi kamu agar tetap semangat walau kamu punya kekurangan, dan membuat kamu tidak ketinggalan hanya karena kekurangan kamu itu? This is my mission, special for you, Bayu. Though maybe you didn’t feel it, though maybe you will forget me as a little piece of your life, I really wanna do this mission, special for you, Bayu.

 

*jadi pengin belajar psikologi lagi*

Yogyakarta, 31 Oktober 2011 jam 13:37

Advertisements

8 responses »

    • iya mas…pengin tanya2 sama bapaknya Bayu, tapi lum ada kesempatan bs ngobrol santai. mau nanyanya jg gak enak…
      nek ngetes dia gmn caranya y klo dlakuin d kelas gtu? trus tesnya dpt darimana y? aku cm 3 bulan aja d situ..tgl 2 bulan

      • kata mbak ku (kalau gak salah) untuk memngetahui anak yang memiliki kebutuhan khusus itu harus dites IQnya kalau dibawah rata-rata berarti memiliki kebutuhan khusus sesuai tingkat keterbelakangannya.

        coba tanya-tanya aja pada yang punya blog ini
        http://autis-lindastudents.blogspot.com

        atau tanya di grup FBnya

        tapi kakakku bukan ahli, hanya saja ditempatkan di sekolah anak berkebutuhan khusus/ luar biasa.

      • wow…siap cek TKP gan…btw masak sih dia autis ya? klo butuh perhatian khusus kayanya iya sih, klo autis… *mikir* masih autisan aku, 😀 JK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s