Monthly Archives: September 2011

Anak-anak Bangsa

Standard

Mengajar adalah salah satu hal yang dulu sempat saya sangat tidak maui mengingat berbagai fenomena yang saya temukan di dalamnya. Namun, setelah menikmati perjalanan saya mengajar di tempat yang satu visi dengan saya, akhirnya saya menikmatinya.

“ sementara kita berusaha mengajari anak-anak kita pelajaran tentang hidup Anak-anak kita mengajari kita apa kehidupan itu.”Dalam mengajar, saya paling senang mengajar anak SD. Selain masih polos, se-menjengkelkannya kelas yang saya hadapi, pasti ada keriangan-keriangan di dalamnya. Selain itu mengajar anak SD membuat saya ‘merasa selalu muda’ karena banyak bermain dan tertawa. Apalagi membayangkan anak-anak muda bangsa yang sebagian tanggung jawabnya ada di pundak saya. Sangat menyenangkan.

Banyak sekali pengalaman yang saya hadapi selama mengajar dalam jam terbang yang masih sedikit ini. Salah satunya pengalaman saya berikut ini.

Suatu hari, seperti biasa saya mengajar Bahasa Inggris di kelas 1 SD. Di tengah pelajaran, beberapa murid saya bertengkar.

“Ada dong, masa ga ada!”

“Nggak Tuhan tu nggak ada ya…”

“Ada.”

“Nggak ada, Tuhannya orang Hindu tu nggak ada!”

Mendengar itu saya mendekati mereka dan menegur, “Eh…ada apa ini?”

Mereka tampak tidak memperhatikan dan masih bertengkar.

“Tuhannya orang Hindu tu nggak ada. Iya kan Miss? Huu…apa kamu tu makanannya babi.”

“Ada dong masa gak ada! Tuhannya orang Islam aja ada.”

“Apa kamu tu dasar Hindu.”

Pertengkaran terus terjadi dan murid yang Islam mungkin merasa akan terbela karena saya juga Islam. Akhirnya pertengkaran berhenti setelah saya mengatakan, “Hanafi, kamu kan Islam. Ingat ya dalam Islam tidak diajarkan mencela orang lain. Itu namanya sombong. Iya kan?”

Saat pulang sekolah, kedua anak itu kebetulan sama-sama belum dijemput. Kate, anak yang beragama Hindu sempat bilang ke saya kalau dia lapar. Akhirnya saya membelikan satu roti untuk mereka berdua. Saya bagi dua rotinya, lalu saya berikan. “Dah, sama ya? Ini buat kamu, ini buat kamu.”

Keduanya duduk dengan biasa saja, tanpa terlihat bahwa mereka baru saja saling bertengkar seru. Keduanya saling bercerita tentang kehidupannya. Di tengah perbincangan itu, saya ingatkan kepada Hanafi untuk tidak terbiasa mengejek teman.

Setelah Hanafi pulang, Kate berkata pada saya, “Miss tadi tu Anjeli nunjuk-nunjuk. Kan nggak boleh ya Miss, kata Mamaku nggak boleh nunjuk-nunjuk.”

“Nunjuk apa, Kate?”

“Itu…tadi kan dia mau nunjukkin itu adiknya Eky gitu trus dia nunjuk-nunjuk, kan ga boleh nunjuk-nunjuk. Di Islam kan juga ga boleh nunjuk-nunjuk ya Miss.” katanya.

Oalah, itu to masalahnya… Kasihan juga Kate ini sering sekali bermaksud baik dan melakukan aturan/perkataan orangtuanya, tapi justru terkadang dijauhi anak-anak lain yang tidak suka ditegur olehnya.

“Kate, yang tidak boleh itu kalau menunjuk-nunjuk dengan kasar atau menunjuk-nunjuk yang jahat, misal ketika marah atau bertengkar, terutama menunjuk ke wajah. Tapi kalau menunjuk ke arah benda, misal mau ngasih tau sesuatu yang jauh, nggak papa…”

Kate tampak agak kaget, mungkin baru menyadari kesalahannya memahami pesan Mama di rumah. Lalu kemudian dia tersenyum. Tidak lama kemudian Mama tercinta yang ditunggu Kate pulang kuliah dan menjemput anaknya :)

Tuhan, beri saya kekuatan dan kemampuan, dada yang lapang, pikiran yang luas dalam membimbing anak-anak bangsa tercinta…

Reward untuk Siswa

Standard

Sebagai pengajar, terkadang saya harus menggantikan teman yang berhalangan mengajar. Sesekali saya juga melakukan submit (istilah khusus untuk permohonan pendampingan, terdiri dari kegiatan melihat pembelajaran/cara mengajar, lalu mengajar di kelas itu dan mendapat refleksi dari guru yang disubmit). Saya sangat menyukai kegiatan submit ini. Ini bisa menjadi ajang refreshing dari kelas asli pada tahap jemu atau kehabisan ide. Selama submit, saya bisa melihat siswa yang berbeda, sekolah yang berbeda, suasana kelas yang berbeda, dan cara mengajar yang berbeda. Selama submit, belum tentu guru yang saya submit mengajar lebih baik dari yang saya lakukan (dengan penilaian subjektif saya). Walaupun begitu, hampir tidak mungkin saya tidak ‘belajar sesuatu’ dari kegiatan ini. Itulah yang membuat saya sangat menyukai kegiatan ini. Selalu ada hal baru dan semangat baru setelahnya.

Ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran dalam kegiatan ini. Dari beberapa kali submit dan menggantikan teman, saya belajar tentang reward.

Dalam salah satu submit saya, saya melihat guru memberikan permen kepada siswa. Saya agak kaget juga, karena ada reward fisik yang diberikan. Paling tidak, ada pengorbanan materi dari guru. Sayangnya, ketika itu saya perhatikan pemberian reward tidak dijadikan sebagai sarana pembelajaran. Permen awalnya (dan sepertinya biasanya juga begitu) akan dibagikan begitu saja.

Beruntung buat saya karena guru itu meminta saya membantu membagikan permen. Akhirnya, saya memberi syarat untuk siswa yang ingin mendapat permen, untuk menyebutkan salah satu nama tempat (materi saat itu) dalam bahasa Inggris.

Di kelas yang lain, saya menemukan hal yang hampir sama. Ketika menggantikan teman mengajar, seorang anak berkata, “Miss, mbok kadang ngasih makanan biar kaya Miss XX itu lho..sering ngasih makanan.”

Saya sendiri punya pengalaman tentang hal ini ketika melakukan micro-teaching pra – PPL di kampus. Ketika saya melakukan simulasi mengajar, pelajaran hampir selesai. Waktu saya membuka tas, saya ingat bahwa saya membawa sebuah jeruk di tas. Akhirnya saya tiba-tiba berimprovisasi untuk memberikan hadiah pada siswa dengan nilai tertinggi. Di akhir simulasi, dosen berkomentar, “Kalau saya pribadi tidak suka, bahkan sangat tidak menganjurkan untuk memberi hadiah atau reward dalam bentuk fisik ke siswa, apalagi siswa SD ya. Kalau sudah SMA atau kuliah silakan, tapi kalau SD jangan. Itu sama sekali tidak bagus. Karena takutnya itu akan menjadi motivasi mereka.”

Saya memahami maksud dosen untuk tidak ‘membiasakan’ memberi reward fisik pada siswa. Tapi mengatakan siswa SD ‘tidak boleh’ diberi reward fisik sama sekali juga saya kurang setuju ketika itu, mengingat ketika jaman TPA dulu, saya menjadi lebih rajin karena ada reward fisik yang diberikan, tapi reward itu bukan satu-satunya motivasi saya.

Sekarang, setelah menemukan kasus tersebut, saya menjadi lebih paham bagaimana fatalnya reward fisik ini jika diberikan dengan tidak tepat. Bagi saya sendiri, reward fisik tetap boleh diberikan, namun dengan tidak melupakan adanya proses pembelajaran. Artinya guru harus meyakinkan bahwa dengan pemberian reward itu siswa akan lebih bersemangat dalam belajar, bukan dalam ‘meminta reward’. Kedua, reward fisik baiknya tidak terlalu sering diberikan apalagi sampai menjadi ‘tagihan’ siswa. Buat guru dengan kocek pas-pasan seperti saya tentu tidak baik. Apalagi jika pembiasaan ini berpengaruh pada guru lain yang mengajar ex-kelas kita.

Sejauh ini saya belum pernah memberikan reward fisik untuk kelas saya. Reward fisik biasanya saya berikan tidak untuk keperluan mengajar di kelas, tapi sebagai pendukung tidak langsung, yaitu untuk mendekatkan siswa dengan guru secara pribadi di luar kelas. Dengan begitu siswa memahaminya sebagai wujud kepedulian dan kasih sayang, bukan sesuatu yang bisa ia tuntut atau sebuah kesenangan semata.

Selain itu, bagian yang saya sepakat dengan dosen saya adalah, reward nonfisik lebih bermakna dan dapat memberikan motivasi dengan kadar yang sama.

Kenapa Australia, Bukan Singapura?

Standard

Ketika mendaftar sebagai pengajar di sebuah bimbel, dalam tes tertulis saya ditanya apa rencana jangka panjang yang ingin Anda capai? Saya menjawab, ingin melanjutkan S2 di Australia atau Amerika untuk jurusan Bahasa Inggris atau Pendidikan Bahasa Inggris. Jika tidak bisa kuliah di luar negeri, saya ingin banting stir saja ke Jurusan Manajemen di tanah air. Yah, sedikit rencana gila kalau mengingat kondisi saya sekarang. Tapi toh impian tetap impian.

Saya ditanya, kenapa Australia..bukan negara lain, Singapura misalnya? Saya bilang, saya ingin belajar langsung di negara yang penduduknya benar-benar menggunakan bahasa Inggris berikut kebudayaannya. Bahasa Inggris di Singapura kan nggak pure English dan banyak aspek budaya yang mungkin berbeda.

Sebenarnya sih, saya hanya mau ‘dipaksa bertahan hidup’ di negara berbahasa Inggris saja. Soalnya belajar Bahasa Inggris di Indonesia yang saya jalani ini rasanya masih omdo. Banyak sisi bahasa yang tidak dapat kita pahami hanya dari ‘bahasa’nya saja. Aspek budaya tidak akan pernah lepas dari bahasa. So, kalau saya mau belajar Bahasa Inggris yang tidak setengah-setengah saya harus tetap berusaha dan percaya.

Ibarat sudah terjun ke arena, maka langkah terbaik adalah berperang.

Semoga Tuhan memudahkan langkah ke depan.

Menjadi yang Diandalkan, Tidak Terbiasa Mengandalkan

Standard

Beberapa tahun lalu, ketika masih menjabat sebagai pimpinan di salah satu lembaga mahasiswa di fakultas, anak buah saya (selanjutnya saya sebut teman-teman saya) mengadakan pertunjukan drama di kampus. Ini adalah agenda Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah Yang Terbaik untukmu ! Dan karena itulah, Qalbu seorang pecinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya. - Jalaludin Rumitahunan yang menjadi tugas kelulusan mata kuliah. Untuk ini, teman-teman harus latihan ekstra keras setiap malam, dan akan ditentukan hasilnya pada hari H. Sebagai pengayom, saya tidak mungkin absen dari pertunjukan mereka, namun saya tidak mendapat pasangan/teman nonton. Kawan dekat saya sudah berangkat duluan karena saya masih ada acara sebelumnya, sedangkan teman-teman sekelas saya tidak ada yang suka pertunjukkan seni.

Saya tidak mungkin datang sendiri. Selain akan terlihat seperti ‘wanita kesepian’, rasanya juga akan menjemukan jika harus menonton sendiri. Akhirnya saya ajak sepupu. Saya jemput di rumahnya dan saya bilang ke ibunya, “Tapi pulangnya agak malam lho Bulik, soalnya undangannya jam 7 biasanya jam 7.30 baru mulai.”

Selama menonton, sepupu sempat berkata, “Tenang aja, pokoknya kalo sama kamu tu pasti Mama’ iya-iya. Coba kalau sama aku.”

Selanjutnya, kalimat ini sering sekali dia ucapkan. Terkadang ditambah dengan kata-kata, “Aku tu nggak dipercaya, Mbak…mau kemana-mana pasti nggak boleh.”

Mengingat ini, saya jadi teringat saat pertama ‘mencoba dipercaya’ oleh orang tua. Ketika itu saya kelas 1SMK. Sebenarnya, walaupun sangat keras, tapi Ayah saya cukup demokratis dalam beberapa hal. Sayangnya, karena saking sayang pada anaknya yang semua perempuan, terkadang ada sisi overprotected dalam dirinya.

Ketika saya SD misalnya, saya tidak boleh bersepeda di jalan raya yang menurut saya aman –dan saya sering lalui diam-diam. Setiap berpapasan dengan beliau di jalan, di rumah saya akan ditanya apa saya tadi lewat jalan itu, lalu akan diberi ceramah singkat tentang bahaya lalu lintas. Begitu juga ketika saya belajar motor.

Ketika menyadari bahwa orangtua saya terlalu khawatir, sekaligus menyadari bahwa saya tahu semuanya aman dan bisa saya mengatasinya, dan orangtua bisa mempercayai saya, saya berpikir apa yang harus dilakukan? Pembuktian..ya… Namun, hingga hari itu saya tidak tau pembuktian seperti apa yang bisa saya lakukan.

Suatu hari ada acara di sekolah bekerja sama dengan salah satu STM. Di acara tersebut ada acara mountaineering (yah Cuma kecil-kecilan). Itu pertama kalinya buat saya dan sangat menakutkan. Asal tau saja, saya takut ketinggian dan takut naik motor atau sepeda jika harus melintasi jembatan tinggi ketika itu.

Awalnya saya tidak mau ikut. Karenanya saya cuek walaupun teman-teman berani. Lalu Ayah saya datang. Ketika itulah tiba-tiba saja saya teringat pada pembuktian. Lalu saya minta ijin pada Ayah saya. Pertama dia bilang, “Ya sana kalau berani.”

“Tapi aku wedi (takut).”

Lalu terjadi tawar menawar. Saya sendiri memang takut. Setelah melihat seorang anak laki-laki bergelantungan, akhirnya Ayah saya bilang, “wis nggak usah” dan saya tidak ingat apa katanya. Intinya dia melarang dan khawatir.

Akhirnya saya bulatkan tekad, lalu saya bilang saya ingin coba, saya berani. Akhirnya saya melakukan hal itu di depan Ayah saya. Sampai di rumah, Ayah saya bercerita pada ibu.

Di luar dugaan, hari berikutnya saya yang biasanya tidak boleh berkendara di jalan utama (Ring Road), justru diminta mengantar ibu untuk lewat jalur utama lain (Jl. Solo). Lalu saya memulai dengan perlahan hingga ke Kulonprogo, Wonogiri, dan terakhir mengunjungi rumah kakak saya di Boyolali. Masih dekat memang, tapi usaha untuk bisa dipercaya dan diandalkan perlu proses perlahan-lahan.

Sejak itu saya selalu mengingat bahwa saya bisa diandalkan, orang tua mempercayai saya dan saya berusaha memegang kepercayaan. Semoga Tuhan memudahkan langkah ke depan.

Menunda

Standard

Skripsi tertunda, sepertinya ini masalah umum yang sering dialami mahasiswa, tidak terkecuali saya. Awal kuliah dulu, ketika saya memilih jurusan yang sekarang saya geluti (Pendidikan Bahasa Inggris), petugas pendaftaran waktu itu bilang ke orangtua saya, “Ini jurusannya udah terkenal ini pak, lama lulusnya.” Saya masih ingat betul, Guru Ekonomi saya ketika itu bilang, “3,5 tahun ya Nda? Ya? Harus yakin…pasti bisa!” Hadeu… salahnya saya apa ya ketika itu gak memutuskan untuk yakin? Gimana nggak, dosen-dosen saya aja konon g ada yang lulus 3,5 tahun.. Ketika awal semester dulu semuanya seakan sudah terencana. Semester 5 KKN sambil ambil data, semester 6 mengerjakan, semester 7 lulus…. But, the fact: Ketika semester 6, konon skripsi harus dikerjakan selama 1 tahun, tidak boleh lebih. Kalau lebih harus ganti judul, katanya. Aihhhh salah lagi percaya katanya katanya. Akhirnya semester 6 nggak jadi ambil judul. Semester 7 akhirnya saya ambil judul. Sudah fix…tapi ada masalah. Ketika itu tiba-tiba kondisi di sekolah tempat saya akan penelitian berubah drastis. Saya akhirnya nggak bergeming. Mangkrak lah skripsi selama setahun. Padahal untuk mengajukan judul baru harus nunggu semester 9. Akhirnya semester 9 saya ambil judul lagi. Sudah fix….tapi belum dikerjakan lagi. Setiap ketemu teman ditanya….”sudah skripsi belum?” “Sudah lulus belum?” Suatu hari Yangkung (Ayahnya guru saya) bilang, “Gimana skripsinya mbak handa?” Yah jawaban saya standar saja (memang ada jawaban lain ya? Bohong dong, hehe) Lalu kata beliau, “Mahasiswa itu harga dirinya di skripsi itu, jadi kalau skripsinya nggak diselesaikan? Mau dikatain nggak punya harga diri? Hayo…” 😀 Beberapa minggu yang lalu, artinya sudah berbulan-bulan dari waktu itu, saya bercengkerama lagi dengan Ibu Guru. Betapa sulitnya hanya untuk menentukan prioritas antara kerja dan skripsi. Masalahnya, skripsi itu tidak ada tuntutan di depan mata. Kalaupun ada, tidak benar-benar nampak. Dosen tidak menanyakan, orangtua jarang bertanya, yang lain juga tidak ‘mengena’ pertanyaannya. Beda dengan kerja yang tuntutannya di depan mata. Murid menuntut untuk datang tiap hari, orang tua siswa menuntut untuk memberi yang terbaik, lembaga menuntut untuk dipenuhi haknya, diri sendiri juga menuntut karena kebutuhan hidup. Nah ya…akhirnya jadilah tanpa disadari justru kerja jadi prioritas utama. Gimana caranya ya menjadikan skripsi ada di atas pekerjaan? Saya ingat (dan mungkin akan terus teringat kata guru saya), “kalau sesuatu itu ditunda, akan banyak masalah yang muncul. Jadi semakin lama kamu menunda, akan semakin banyak masalah yang mengikuti. Jadi cepat selesaikan ya, biar lebih lega.” Ya Tuhan, help me to fix this. Bless me, My Almighty… Gimme the best,,please..

Jurnalisme vs Kriminalisme

Standard

Masih terlintas di benak saya pada ‘salah satu’ cita-cita saya nantinya. Jurnalis. Banyak bayangan yang muncul kalo ngomongin jurnalis. Di mata saya sendiri, kerjaan ini penuh tantangan, penuh kreativitas, penuh keberanian,butuh wawasan, dan bebas!

Namun sudah jadi pandangan umum kalau jurnalis itu kerjanya berat. Ya toh? Sudah kerjaannya macam dokter, kapanpun calling harus siap tempur, siap lembur, siap adu deadline, siap adu lidah, adu otak…adu fisik… Duh!

Yang terakhir ini entah kenapa bisa terjadi yah? Gak habis pikir. #ganti topik

Setelah semingguan yang lalu ada berita tentang pengeroyokan wartawan oleh oknum pelajar SMA di tingkat nasional, beberapa hari kemudian santer juga berita adanya pengeroyokan jurnalis kampus oleh kelompok organisasi lain sebuah universitas di Yogyakarta.

Hal semacam ini nggak cuma terjadi sekali dua kali aja. Kalau kita search di google, akan banyak kasus serupa ditemukan. Di kampus sendiri hal ini sering banget terjadi. Gak habis pikir kenapa ya?

Logikanya, kemungkinan ada beberapa hal yang bikin ini terjadi. Pertama, kurangnya pemahaman masyarakat sama dunia jurnalisme. Kedua, udah membudayanya kekerasan. Ketiga, emang citra jurnalis dan media udah buruk di masyarakat.

Untuk yang pertama saya ambil kasus di dunia jurnalis kampus aja kali yah. Yang namanya LPM seringkali dikeluhkan oleh organisasi lain –walau banyak juga yang memuji dan berharap- sebagai lembaga yang terlalu banyak cingcong, banyakan protes, nggak bekerja sama, dll. Banyak LPM akhirnya tidak bisa membina hubungan baik dengan lembaga lain seperti BEM, DPM (Senat), dll karena kevokalannya. Di lain pihak, lembaga-lembaga lain seringkali kurang/tidak mengerti cara kerja media yang membuat mereka sering kelabakan ketika mendapati berita yang tak sedap.

Secara prosedural, berita tak sedap apalagi kalau memang menyalahi kaidah pemberitaan sangat mudah diatasi. Lembaga/perorangan yang bersangkutan bisa menyampaikan langsung lewat media yang bersangkutan. Kalau memang terjadi kesalahan dalam pemberitaan, media bisa melakukan ralat (seperti kesalahan penulisan nama orang, tempat, dll), permintaan maaf secara tertulis maupun lisan (kesalahan isi yang biasanya terkait pencemaran nama baik), maupun hak jawab.

Ada lagi yang sering dilupakan, yaitu membuat berita/ulasan tandingan melalui media yang dimiliki lembaga terkait. Biasanya LPM dan BEM atau DPM maupun HMJ sama-sama memiliki media. Sayangnya, fungsi media di tingkat lembaga non LPM seringkali hanya menjadi media pencitraan belaka. Fungsi ini bisa ditingkatkan (walaupun tetep aja pencitraan sih) ketika menghadapi pemberitaan miring dari media LPM.

Intinya, fungsi LPM dapat berjalan dengan baik, begitu juga lembaga lain. Bahkan dengan cara ini, persaingan media akan menjadi lebih sehat dan kehidupan intelektual kampus akan meningkat. Toh nantinya masyarakat (baca: mahasiswa) akan dapat mengambil sudut pandang tersendiri dari informasi yang mereka dapatkan.

Mengenai budaya kekerasan, nampaknya memang udah ‘jamannya banget’. Nggak solutif banget kalau segala hal diselesaikan dengan kekerasan. Saya juga masih nggak ngerti, kayanya saking hopelessnya atau gimana, kita terkadang suka ‘main potong tengah’. Kalau gak cocok main fisik, gak bisa dibicarakan main mogok, gak bisa dikompromikan main tutup mulut, gak didengar main demo… saya nggak menyalahkan pelaku-pelaku ini semua lo. Sekedar melihat fenomena yang ada. Kalau mau dibahas tentu akan panjang cerita dan terjadi salah-menyalahkan jg J

Nah yang ketiga, soal image buruk jurnalis dan media di kaca masyarakat. Masih nggak ngerti juga nih #nggakngertimulusih#, tapi pada kenyataannya..masih banyak komentar miring yang timbul seputar keberadaan media. Ada yang menilai media sebagai pengadu domba, sebagai pihak yang sok kuasa, sebagai ‘mesin pencari uang’ semata, sebagai alat politik, dll. Bahkan dalam kasus pengeroyokan wartawan, seringkali wartawan disalahkan sebagai pihak yang sok pahlawan. Nah loh! Udah jatuh tertimpa tangga. Untuk masalah terakhir ini, semuanya kembali ke media. Tujuan yang baik dan dilakukan dengan cara yang benar, insya Allah akan membuahkan hasil maksimal.  J

#Duniakecil, 23092011:0243

Ditulis oleh Sri Handayani sebagai dukungan untuk teman2 persma atas kasus pengeroyokan jurnalis kampus di UST, Yogyakarta.Saksi Sejarah